Gus Dur di Buku Kiai Saifuddin Zuhri

Hamzah Sahal
Gus Dur di Buku Kiai Saifuddin Zuhri 1

Almarhum Kiai Saifuddin Zuhri punya banyak karya tulis. Setidaknya, beliau punya tujuh judul buku, di samping banyak menulis untuk surat kabar. Dua buah karya beliau yang masyhur adalah “Guruku Orang-orang dari Pesantren” dan “Berangkat dari Pesantren”.

Buku “Guruku Orang-orang dari Pesantren”, seingat saya, tidak menyebut-nyebut almarhum Gus Dur. Karena buku yang terbit pertama kali tahun 1974 ini berisi kisah-kisah perjuangan tokoh-tokoh NU generasi pertama memperjuangkan kemerdekaan, tahun 1940an. Waktu itu Gus Dur masih anak-anak. Pada buku kedua, merujuk pada indeks, saya menemukan nama Gus Dur cuma disebut sekali, dengan nama Abdurrahman Wahid, halaman 666.

Di halaman tersebut, Gus Dur disebut dalam konteksnya Kiai Saifuddin selaku menteri agama, memberangkatkan pemuda ke Kairo tahun 1963 untuk belajar.

“Di antara pemuda-pemuda yang aku kirim itu terdapat nama Abdurrahman Wahid, dokter Fatimah Alkaf, K.H. Muhiddin Wali, Syuryani Thahir, Zakiah Dradjat, Laili Mansur, dan Syatiri Ahmad,” tulis Kiai Saifuddin yang menjabat menteri agama dari tahun 1962-1967.

Maklum juga kalau buku “Berangkat dari Pesantren” hanya menyebut nama Gus Dur sekali saja, itu pun posisi Gus Dur hanya “obyek”. Seperti yang ditulis dalam pengantarnya, penulisan buku ini dimulai tanggal 24 Januari 1979. Di bagian akhir buku, Kiai Saifuddin buku telah selesai ditulis pada malam Idul Fitri 1405 atau 19 Juni 1985. Itu artinya, pada saat proses penulisan, Gus Dur belum “menjadi orang”.

Baca juga:  Petuah Al-Ghazali, Penawar Krisis Akhlak

Tapi, buku “Berangkat dari Pesantren” memasang dua foto Gus Dur yang sangat bermakna. Buku tersebut memuat tidak kurang dari 60 buah foto.

Apa yang terbersit dalam pikiranmu melihat foto ini?

Foto pertama. Gus Dur yang mengenakan kemeja batik lengan pendek, berkopiah dan tentu saja terlihat kacamata tebal sedang berbicara dan almarhum Kiai Idham Chalid serta Kiai Saifuddin Zuhri yang duduk di depannya tampak serius mendengarkan.

“Aku terlibat dalam suatu perbincangan rapat PBNU 16 Mei 1982 di Jakarta bersama Abdurrahman Wahid dan Idham Chalid,” demikian Kiai Saifuddin Zuhri menulis keterangan foto.

Sebetulnya janggal jika disebut rapat PBNU, karena hanya tiga orang. Tidak ada keterangan tempat dalam foto tersebut, tapi Lukman Hakim Saifuddin, menteri agama sekarang, yang turut terlibat dalam persiapan penerbitan buku tersebut (terutama edisi baru, LKiS, Jogjakarta 2013. Edisi pertama diterbitkan Gunung Agung, Jakarta, 1986) mengatakan bahwa pertemuan itu terjadi di rumah Kiai Idham Chalid, di daerah Cipete, Jakarta Selatan. Dia mengatakan pertemuan tersebut terjadi jelang Munas Alim Ulama NU di Situbondo pada 1983.

“Sepertinya Gus Dur yang mengajak ayah saya menemui Kiai Idham,” jawab Lukman Hakim ketika ditanya siapa yang kira-kira berinisiatif melakukan pertemuan. Pertanyaan tersebut muncul karena pada waktu itu suasana NU jelang muktamar 1984 sudah panas sejak 1981. NU terpecah dalam dua kubu. Kubu Cipete, merujuk pada kelompok Idham Chalid versus kubu Situbondo yang merujuk pada Kiai As’ad Syamsul Arifin, Kiai Ali Maksum dan kiai-kiai sepuh. Gus Dur dan anak-anak muda pada waktu itu, seperti almarhum Fahmi D. Saifuddin dan lain-lain ada di kubu Situbondo. Artinya, Gus Dur berhadapan dengan Kiai Idham Chalid yang waktu itu memjadi ketua umum PBNU.

Baca juga:  Kisah Gus Dur Diturunkan dari Bus

Ini pertemuan penting “dua kubu” di tengah suasana panas menjelang muktamar. Namun di sisi lain, dalam foto tersebut, mereka terlihat cukup hangat dalam pertemuaan sederhana, duduk nyaris tak berjarak dan bahasa tubuh yang saling memperhatikan. Kiai Idham juga tampak rileks, meski serius menyimak.

Saya mengirimkan foto tersebut ke Mba Lissa, panggilan akrab Alissa Wahid, dan memberikan sedikit catatan atas foto itu. Mba Lisa berkomentar,”Gus Dur memang begitu ya, Mas. Beda pandangan beda kepentingan, tapi tetap baik-baik saja dalam silaturahim.”

Baca Juga

Sayang sekali fotonya buram, sehingga tak terlihat suasana kamar pribadi Kiai Saifuddin Zuhri

Foto kedua. Gus Dur tampak belakang, mengenakan kemeja batik lengan pendek dan tidak berkopiah, sedikiti kacamatanya terlihat. Beliau sedang menjenguk Kiai Saifuddin Zuhri. Kiai Saifuddin duduk di tempat tidur yang ujungnya terlihat buku-buku berjajar.

“Foto ini di kamar pribadi Pak Kiai Saifuddin Zuhri di Darmawangsa, Kebayoran Baru,” Lukman Hakim Saifuddin memberi keterangan.

Sementara itu, Kiai Saifuddin Zuhri memberi keterangan foto dengan menuliskan sesuatu yang menunjukkan kedekatan antar keduanya, ”Selama masa sakitku, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) secara rutin menyampaikan informasi tentang berbagai perkembangan masalah keagamaan, kemasyarakatan, dan masalah penting lainnya.” Di atas foto tersebut ada foto Kiai Saifuddin di rumah sakit, sedang berbaring di kelilingi tiga kiai utama Nahdlatul Ulama saat itu, Kiai As’ad Asembagus, Kiai Machrus Ali Lirboyo dan Kiai Ali Maksum Krapyak. Merek tampak sedang berdoa.

Baca juga:  Sabilus Salikin (54): Syarat-syarat Menjadi Salik

Foto kedua ini memberi kabar kepada kita bahwa tokoh NU di tengah sakitnya masih berikhtiar mengikuti situasi terkini. Ada nasehat memang yang popular di kalangan pesantren, “Pensiunnya orang NU setelah dipanggil Tuhan.”

Dari foto ini juga, kita bisa ambil hikmah bahwa Gus Dur muda saat itu, rajin menyambangi, memberikan informasi, membagikan kabar terbaru kepada yang lain. Berkunjungnya Gus Dur ke Kiai Saifuddin Zuhri, tidak hanya sekedar silaturahim anak muda kepada sesepuh atau yang sehat menjenguk orang sakit.

Yang menarik dari dua foto di buku ini, selain isinya yang banyak memberikan makna penting untuk kita, sepertinya kita juga menyaksikan bahwa kesederhanaan Gus Dur tidak dibuat-buat atau pencitraan, dan sudah berlangsung cukup lama. Lihat saja dua foto Gus Dur tersebut menampilkan bajunya yang sama. “Stok baju beliau kan memang gak banyak,” kata Lukman.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top