Havid Yanuardi
Penulis Kolom

Penulis warga asli Jogja yang saat ini sedang menempuh pendidikan di Universitas al-Azhar Kairo.

Ngaji Ilmu Kalam: Konsep Kosmologi Kaum Materialis

bumi

Diskusi mengenai konsep kosmologi adalah topik yang tak pernah selesai untuk dikaji. Perbincangan tersebut telah ada sejak zaman filsuf  Yunani klasik, sampai terwariskan kepada para filsuf kontemporer. Para mutakallimin (teolog muslim) juga turut ikut serta masuk dalam pengkajian konsepsi tersebut. Mereka punya teori masing-masing untuk menguatkan dan memvalidkan argumentasinya.

Setidaknya, ada dua mazhab besar terkait konsep kosmologi, yaitu creatio ex nihilo dan creatio ex materia. Creatio ex nihilo adalah konsep bahwa alam semesta ini tercipta dari ketiadaan. Konsep ini dianut oleh para  mutakallimin –dalam konteks ini khususnya Asya’irah— serta  sebagian filsuf. Sedangkan creatio ex materia adalah konsep bahwa alam semesta ini tercipta dari materi. Konsep ini dianut oleh sebagian para filsuf, khususnya kelompok materialis kontemporer.

Sebelum melangkah lebih lanjut, perlu diketahui bahwa kaum materialis adalah golongan yang menganut paham filsafat materialisme. Secara singkat, menurut  Charles Wrigt Mills, materialisme ialah prinsip-prinsip penolakan terhadap seluruh fenomena spiritual manusia yang bersifat non-materi atau metafisik.

Dari sini, dapat diketahui bahwa mereka mengabaikan dan menolak keberadaan hal-hal metafisik yang berada diluar cakupan indra manusia. Sebab, bagi mereka yang bisa dikatakan wujud (baca: ada) ialah hal-hal yang bisa dijangkau oleh indra dan tersusun dari materi-materi.

Tulisan ini akan mencoba memaparkan konsep kosmologi menurut dua mazhab besar tersebut beserta dialektika yang ada di dalamnya.

Para mutakallimin meyakini bahwa alam semesta ini tercipta dari ketiadaan. Dalil yang menopang agumentasinya tersebut adalah alam semesta yang begitu sangat presisi, teratur, dan akurat ini, pasti ada yang mengadakan atau menciptakannya dari ketiadaan. Sebab, hukum akal mengamini bahwa keteraturan dan keakuratan ciptaan itu menujukkan adanya pencipta yang memiliki kapasitas ilmu akan hal tersebut.

Baca juga:  Negosiasi Kewajiban Puasa: dari Boleh Tidak Berpuasa hingga Bisa Bercinta Setelah Berbuka

Analogi sederhananya, dewasa ini banyak ditemukan ciptaan manusia seperti teknologi-teknologi yang sangat canggih. Hal ini bisa dijadikan sebagai dalil bahwa keberadaan alat-alat yang canggih menujukkan pembuat alat tersebut memiliki kapasitas keilmuan terhadap apa yang dibuatnya.

Begitu juga dengan alam semesta, menurut mutakallimin, alam yang sebegitu presisi dan akurat ini, diciptakan oleh Tuhan yang Wajib al-Wujud (Dzat yang wajib ada) yang perbuatan-Nya dengan cara ikhtiar, bukan dengan cara ijab. Artinya, kehendak Tuhan itu bebas, tidak ada sesuatu yang bisa mengintervensi atau memaksa-Nya. Perbuatan seperti itu, kalau dalam term ilmu kalam kurang lebih berbunyi “al-tamakkun min al-fi’li wa al-tarki”.

Dengan demikian, para mutakallimin meyakini bahwa Tuhan adalah Causa Prima (Sebab Awal) atas semua entitas yang ada.

Berbeda dengan kaum materialis, mereka meyakini bahwa alam semesta ini tercipta dari maddah (materi berupa atom-atom) dan harakah (gerakan atom-atom tersebut). Mereka sampai pada konklusi seperti itu dikarenakan ketidakpercayaannya kepada Tuhan sebagai Causa Prima. Mereka tidak percaya keberadaan Tuhan yang bersifat metafisik, karena sesuatu yang tidak bisa diketahui oleh indra manusia, baginya tidaklah wujud.

Tesis Kaum Materialis yang Menegasikan Keberadaan Tuhan

Argumentasi yang dipakai oleh kaum materialis untuk menegasikan keberadaan Tuhan sebagai Causa Prima, sehingga berimplikasi pada konsep creatio ex materia, setidaknya dilandaskan pada dua tesis:

Yang pertama, akal manusia tidak mungkin bisa menggambarkan sesuatu yang bukan termasuk makhluk, namun bersifat wujud (ada), yang dimana ia tidak tersusun dari korpus, materi, bentuk, dan tidak menempati ruang kosong. Oleh karena itu, akal tidak bisa menghukumi keberadaan-Nya, karena tashdiq (penghukuman) terhadap sesuatu yang wujud merupakan cabang dari tashawwur (penggambaran).

Baca juga:  Menyimak Gaduhnya Wacana Sains dalam Islam

Kedua, akal tidak mampu untuk menggambarkan segala sesuatu yang wujud, akan tetapi tidak tersusun dari materi-materi. Oleh karena itu, konsep creatio ex nihilo itu tidak bisa dibenarkan.

Jawaban atas Tesis Kaum Materialis

Syaikh Mahmud Abu Daqiqah, salah satu ahli kalam kenamaan dari al-Azhar Mesir, memberikan jawaban logis sebagai bentuk ketidaksepakatan atas tesis-tesis yang dimunculkan oleh kaum materialis.

Untuk menjawab tesis yang pertama, Syaikh Mahmud memberikan argumentasinya bahwa pengetahuan manusia terhadap segala sesuatu sangatlah terbatas. Perbandingan antara hal yang diketahui oleh manusia dari pada yang tidak diketahui olehnya, seperti setetes air yang ada di lautan dan sebutir pasir yang ada di padang pasir.

Setelah kita mengetahui alam semesta yang begitu agung ini, yang menunjukkan kepada keagungan penciptanya, serta menetapkan ketidaktahuan manusia terhadap suatu hal yang sangat banyak, maka sah untuk dikatakan bahwa ketidakmampuan akal manusia dalam menggambarkan sesuatu itu tidak bisa dijadikan sebagai dalil atas ketiadaan wujud-nya.

Tesis tersebut juga termasuk kategori menganalogikan sesuatu yang metafisik (baca: Tuhan) terhadap hal-hal yang fisik. Analogi seperti itu merupakan model analogi yang tidak bisa diterima kebenarannya oleh akal sehat secara aksiomatik, sebagaimana pendapatnya para pembesar kaum materialis.

Adapun jawaban untuk tesis yang kedua, mereka mengklaim bahwa secerdas-cerdasnya manusia, mereka tidak bisa menciptakan sesuatu dari ketiadaan. Apapun itu yang dibuat oleh tangan manusia, pasti diciptakan melalui materi-materi. Dan secara realita, kita tidak bisa menyaksikan hal-hal yang telah tercipta, namun tidak tersusun dari materi-materi.

Maka yang demikian itu termasuk menyamakan antara sifat Pencipta dengan sifat makhluk dalam segala aspek. Dan mereka lupa kalau kedudukan sifat itu mengikuti kedudukan dzat, lantas mereka menetapkan hukum bahwa apa yang mustahil bagi makhluk, maka mustahil bagi Tuhan. Apabila makhluk tak mampu menciptakan sesuatu dari ketiadaan, maka Tuhan pun juga tak mampu menciptakan sesuatu dari ketiadaan. Hal semacam ini juga termasuk menganalogikan antara hal metafisik dengan hal fisik, yang tentu analogi tersebut telah tertolak oleh akal sehat secara aksiomatik.

Baca juga:  Mempertahankan Jiwa atau Mempertahankan Kehormatan? Hifdhu an-Nafs atau Hifdu al-'Ird?

Jawaban yang lain untuk menganulir tesis tersebut adalah kelemahan akal untuk mengetahui keberadaan sesuatu yang tercipta dari ketiadaan, itu tidak bisa dijadikan sebagai dalil atas ketiadaannya. Sebab, sebagaimana yang telah jamak diketahui, bahwa kemampuan akal manusia ini sangatlah terbatas, meski sedang dalam kondisi di puncak keintelektualnya. Dan yang seperti ini adalah ciri-ciri makhluk.

Kesimpulan

Dari keterangan yang telah dipaparkan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa konsep kosmologi kaum materialis berupa creatio ex materia itu tidak bisa dibenarkan secara rasional. Sebab, di sana para mutakallimin mampu membantah dengan dalil akal yang sangat logis dan sahih secara akal sehat.

Begitu juga, ada teks qath’i dari al-Qur’an bahwa alam ini memang benar-benar tercipta dari ketiadaan. Penciptanya adalah Tuhan yang Wajib al-Wujud, dilakukan dengan cara ikhtiar, bukan ijab. Dia menjadi Causa Prima atas segala entitas yang ada di alam semesta. Ayat tersebut ada dalam Surah al-Baqarah: 117, yang berarti Allah adalah Pencipta langit dan bumi. Apabila Dia berkehendak untuk menciptakan sesuatu, maka cukuplah Dia mengatakan “Jadilah”, maka jadilah sesuatu tersebut.

Referensi

Abu Daqiqah, Mahmud. Al-Qaul al-Sadid. Kairo: Azhar Press.

Triomna, Harsa & Iqbal, Moch. “Kritik Islam terhadap Materialisme (Studi Pemikiran Murtadha Muthahh ari).” Jurnal Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu. 2022.

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
5
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top