Sedang Membaca
Kluwak
Penulis Kolom

Penulis lepas. Mengembangkan cross-cultural journalism, menulis, menggambar, dan bermusik

Kluwak

Kabeh den padha nastiti

Marang pitutur kang yektos

Aja dumeh tutur tanpa dhapur

Yen bakale becik

Den anggo weh mupangat

Kaya pucung lan kaluwak

Serat Wulangreh, Pakubuwana IV

 

 

Heidegger tentu saja tak pernah ke Jawa, meski Nietzsche, yang sama-sama pemikir Jerman, menghisap opium Jawa. Menautkan Heidegger, Jawa, dan Nietzsche, sepertinya adalah hal yang ngayawara atau mengada-ada. Heidegger dan Nietzsche tentu saja memiliki pertautan, setidaknya dalam kecenderungan mereka untuk merobohkan fondasi modernisme. Secara khusus Heidegger juga pernah menerbitkan beberapa volume buku tentang konsep der Will zur Macht-nya Nietzsche. Tapi Heidegger, Nietzsche, dan Jawa?

Jauh sebelum mengenal seorang mistikus legendaries Jerman, Meister Eckhart, Heidegger sudah sedikit bersinggungan dengan konsep sangkan-paraning dumadi Jawa yang dalam kerangka pemikirannya disebut sebagai “the forgetfulness of Being.” Berbeda dengan banyak pengkaji pemikiran Heidegger, saya menyepadankan istilah Being (Sein) dengan istilah Wujud.

Dari ungkapan kelupaaan akan Wujud, dapat dielaborasikan lebih lanjut seandainya drama kehidupan seorang anak manusia adalah, pada fase kedua pemikiran Heidegger setelah terjadinya die kehre atau titik-balik, mengingat Wujud tersebut dimana konsep berpikir yang selama ini identik dengan logos dikembalikan lagi pada makna purbanya yang identik dengan nous (Politik Penyingkapan, Heru Harjo Hutomo, https://alif.id).

Sebagaimana Ibn ‘Arabi yang memang cukup berpengaruh di Nusantara, Heidegger pun seperti selangkah lagi memasuki arena tasawuf-filsafati dengan konsep Wujudnya yang rumit. Apalagi seusai kuliahnya yang kemudian dibukukan, Introduction to Metaphysic dan Discourse on Thinking, dimana ia mengeksplorasi filsafat alam di era pra-Sokratik dan kedekatannya dengan teologi Meister Eckhart yang pernah memilah tentang adanya dua macam Tuhan, God dan Godhead—atau dalam pemilahan Ibn ‘Arabi, Tuhan dalam dirinya sendiri dan Tuhan sebagaimana yang manusia angankan.

Baca juga:  Alam Kajiman dan Kelembaban

Patut diketahui bahwa wihdatul wujud-nya Ibn ‘Arabi bukanlah sebentuk panteisme sebagaimana para sarjana Barat kerap melabelinya, sejauh panteisme itu dimaknai bahwa individualitas atau “dhewek” yang mencirikan perbedaan tak ada. Seumpamanya, bayangan rembulan di permukaan telaga tak sama dengan rembulan itu sendiri. Kesatuan Wujud di sini mesti dipahami sebagai tunggal kahanan, ibarat filosofi pagelaran wayang purwa Jawa adalah ketika para wayang kembali pada sang dalang dan sang dalang mengembalikan purba wisesa yang dipinjamkan pada yang menanggap atau yang diistilahkan sebagai Sang Hyang Manon.

Ketika panteisme dimaknai sebagaimana para sarjana Barat memaknainya, maka yang terjadi adalah penyamaan antara para wayang, sang dalang, dan yang menanggap. Bukankah mustahil ketika pada saat yang sama Sangkuni adalah Ki Tanpa Aran dan Wrekudara pun adalah juga Ki Tanpa Aran sebagai sang dalang? Dengan demikian, panteisme dalam terang para sarjana Barat adalah hal yang musykil adanya (Sangkan-Paran, Heru Harjo Hutomo, Bintang Pustaka Madani, Yogyakarta, 2021).

Pada dasarnya, dalam tilikan saya, kecenderungan wihdatul wujud-nya Heidegger sudah tampak pada Sein und Zeit dimana, dalam penyingkapannya, Wujud akan dengan sendirinya hilang ketika manusia—yang merupakan Sein-zum-Tode atau wujud yang mengarah pada kematian—mati. Dapat disimpulkan, berdasarkan penyingkapan fenomenologis Heidegger, Wujud dan wujud manusia adalah tunggal kahanan atau satu keadaan. Dalam spiritualitas Jawa, menurut R. Sodjonoredjo, peristiwa Sein-zum-Tode itu diungkapkan sebagai peristiwa “sirnaning alam sagir lan kabir.”

Baca juga:  Pamit

Soedjonoredjo merupakan salah seorang cucu murid Sang Mahayogi Ki Kusumawicitra yang menulis beberapa serat yang fenomenal dimana salah satunya adalah Serat Jatimurti. Atas persinggungan pemikiran Heidegger dengan spiritualitas Jawa, dan juga tasawuf-filsafatinya Ibn ‘Arabi, dapat disimpulkan bahwa istilah “akhirat” dalam kosakata agama ternyata tak terletak di ujung sana atau seusai kehidupan di dunia ini ketika waktu dipahami secara linear.

Akhirat ternyata sudah berada sejak manusia mewujud di dunia ini. Karena itulah, bagi R. Soedjonoredjo surga dan neraka tak terletak esok seusai manusia mati. Sejak di dunia manusia pun sudah mengandung surga dan neraka, untung dan celaka. Bukankah dapat dimengerti ketika Heidegger mengatakan bahwa kehidupan sesudah mati adalah suatu hal yang berada di luar kerangka Wujud (Sein) dan wujud-wujud (seinde)?

Menautkan tiga tradisi filsafat dan spiritualitas yang berbeda di atas, Barat-Islam-Jawa, memang bukanlah hal yang gampang dilakukan. Namun, salah satu pemegang rantai keilmuan tarekat Akmaliyah, Sunan Bagus atau Pakubuwana IV, cukup memberikan analogi bersahaja dari bumbu dapur untuk menggambarkan hal-hal yang pelik.

Bayangkan ketika ontologinya Heidegger, wihdatul wujud-nya Ibn ‘Arabi, dan panenteismenya R.Soedjonoredjo, yang memerlukan ribuan halaman untuk menjelaskan tentang misteri Wujud, yang karenanya dalam sejarahnya tak asing dengan pengkafiran ataupun pen-zindiq-an, cukup diungkapkan dengan kluwak. Dalam hal ini saya tak mengaitkan kluwak ini sesuai dengan konteks permukaan Serat Wulangreh. Dalam spiritualitas Jawa, apa yang ditorehkan Sunan Bagus tentang kluwak menggambarkan pula tentang apa yang disebut sebagai adon-adon atau pirantining urip.

Kamulane kaluwak nom-nomanipun

Pan dadi satunggal

Pucung arane puniki

Yen wus tuwa kaluwake pisah-pisah

 

Den budiye kapriye becikipun

Aja nganti pisah

Kumpula kaya enome

Enom kumpul tuwa kumpul kang prayoga

 

Aja kaluwak enome kumpul

Basa wis atuwa

Ting salebar dhewe-dhewe

Nora wurung bakal dadi bumbu pindhang

 

Baca juga:  Tunggal Kahanan: Membantah Panteisme dan Monisme dalam Kesusastraan Jawa

Pucung atau kluwak muda merupakan sasmita tentang apa yang disebut sebagai tunggal kahanan. Fungsi praktis-pragmatis di dunia, pada sisi tertentu, menyebabkannya menjadi kluwak yang tercerai-berai yang akhirnya sekedar menjadi bumbu pindang atau rawon. Sebaiknya, menurut Sunan Bagus, kluwak itu tetap mligi sebagaimana ketika masih berupa pucung, laksana kerata basa manungsa” yang berarti manunggaling rasa, iso saiki iso mbesuk, ora isa saiki ora isa mbesuk. Demikianlah saripati ontologi Martin Heidegger, Wihdatul wujud-nya Ibn ‘Arabi, dan panenteismenya R. Soedjonoredjo dalam sebutir kluwak.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top