Sedang Membaca
Gula Kelapa Nuswantara
Penulis Kolom

Penulis lepas. Mengembangkan cross-cultural journalism, menulis, menggambar, dan bermusik

Gula Kelapa Nuswantara

Whatsapp Image 2021 06 17 At 10.06.51 Pm

Barangkali, orang memandang bahwa nasionalisme seperti halnya sosialisme-komunisme, ataupun liberalisme-demokrasi adalah ideologi-ideologi yang berasal dari bumi.

Pandangan seperti ini dapat muncul ketika perbandingannya adalah khilafah, yang bagi para pengikutnya, berasal dari langit meskipun hal ini juga debatable. Dengan kata lain, nasionalisme seolah tak ada “benih-benih” keagamaannya atau spiritualitasnya.

Perdebatan tersebut sebenarnya memang menggelikan, hal ini sama saja dengan menyikapi pertanyaan Tes Wawasan Kebangsaan yang diajukan pada para calon ASN pegawai KPK yang sempat viral beberapa waktu yang lalu, perihal memilih agama atau Pancasila.

Bagi pecandu khilafah jelas jawabannya adalah agama, sementara bagi para non-pecandu khilafah jawabannya adalah bahwa pertanyaan itu tak relevan untuk diajukan.

Dari berbagai hal di atas, patut saya utarakan bahwa sikap para non-pecandu khilafah dapat menjelma bongkahan es yang sewaktu-waktu dapat meleleh. kita akui bahwa paradigma untuk membenturkan agama dengan Pancasila memang hidup di tengah-tengah masyarakat saat ini.

Jadi, saya kira, pertanyaan tersebut memang tak relevan, tapi ketika diselidiki ternyata pertanyaan yang membenturkan antara agama dengan Pancasila itu menyingkapkan sesuatu yang lain, yang diam-diam memang mengendap dan menyebabkan kebingungan tersendiri di tengah-tengah masyarakat sekarang.

Bagaimana mungkin dilema antara agama dan Pancasila yang sejak NU berdiri seperti sudah selesai dan menjadi garis resmi organisasi tersendiri bagi para pengikutnya masih saja menyisakan ketakpuasan bagi sementara kalangan? Ini juga terkadang dapat menyebabkan pemicu diskriminasi tersendiri ketika kita berurusan dengan birokrasi?

Dari Jombang, yang secara kerata basa bermakna “Ijo-Abang,” telah lahir sebuah ekspresi seni yang bagi saya pribadi tak sekedar bernilai seni karena dapat memberikan kontribusi pemahaman bagi dilema antara agama dan Pancasila.

Seni, dalam hal ini seni musik, terkadang memang jauh lebih efektif untuk menyingkapkan sesuatu yang berada di seberang kata-kata seperti hinggapan ilmu ladunni yang tiba-tiba saja kita paham akan sesuatu tanpa dapat menjelaskan bagaimananya (Ma-Hyang: Melibatkan yang Silam Pada yang Mendatang, Heru Harjo Hutomo, CV. Kekata Group, Surakarta, 2020).

Baca juga:  Tanda Tangan Ronggawarsita, Kesombongan tanpa Kontroversi

Seni itu salah satunya adalah album musik General Maya, sebuah proyek musik yang digawangi oleh tiga musisi ternama: Pay, Indra, dan Bongki.

Konon, album musik ini digarap dalam rentang waktu yang tak lebih dari dua minggu dengan konsep anti-studionya Indra Q yang saat ini tampak seperti seorang santri-sufi. Tapi tentu, proses untuk menyelesaikan proyek musik ini sudah berlangsung sejak lama.

Afiliasi General Maya dengan pesantren merupakan sarang tarekat Shidiqqiyah di Jombang menjadi catatan tersendiri ketika kita hendak mengambil sesuatu dari proyek musik General Maya.

Dengan kata lain, esai ini bukanlah sebentuk review atas album musik General Maya yang anti mainstream dan sarat nasionalisme.

Sebagaimana biasanya, saya hanya menjadikan album musik General Maya ini, dan hal-hal yang mengitarinya, sebagai bahan untuk mengungkapkan nasionalisme yang kerap dianggap minim agama ataupun spiritualitas.

Sang penghulu kaum arifin, Syekh Ibn ‘Arabi, pernah menyingkapkan perihal sebuah pohon darimana segala sesuatu berasal. Ada yang menamakannya sebagai “pohon keimanan,” “pohon kejadian,” “pohon ma’rifat” ataupun “pohon kebenaran.”

Pohon ini sejak lama tumbuh dan diyakini oleh tarekat-tarekat yang memiliki jalur dari Syekh Ibn ‘Arabi, baik yang berbungkus agama maupun budaya.

Di Jawa pohon tersebut telah diungkapkan oleh Sunan Kalijaga yang merupakan menantu dari Syekh Siti Jenar dalam kidungannya yang telah menjadi dendang tersendiri di tangan para dalang wayang purwa di tengah pagelarannya (Menjejak Keprak: Pagelaran Wayang Purwa Sebagai Sebentuk Meditasi, Heru Harjo Hutomo, https://alif.id).

Ana kayu apurwa sawiji

Wit buwana epang keblat papat

Agodhong mega tumembe

Apradapa kukuwung

Kembang lintang segara langit

Sami andaru kilat

Woh surya lan tengsu

Asirat bun lawan udan

Apupuncak akasa bungkah pratiwi

Oyode bayu bajra

Secara kebudayaan, saya kira yang disebut sebagai “nasionalisme” memang cukup berbeda maknanya ketika dibandingkan dengan perspektif politik maupun sosial.

Ketika Ben Anderson mengaitkan nasionalisme dengan komunitas yang diangankan pada dasarnya ia telah meletakkan “bumi pertiwi,” atau istilah lainnya yang lebih mengaitkannya dengan kehidupan, “tanah air” dan “tanah tumpah darah,” sebagai entitas yang terpisah dari istilah asal-usul yang sesungguhnya tak bisa dihindari.

Baca juga:  "Mudhammataan" dan Suspensi Kenikmatan

Dalam hal ini, saya pun berbeda dengan paradigma postmodern yang sejauh ini dipahami sebagai paradigma yang tak lagi mendasarkan diri pada prinsip teleologi sebagaimana filsafat maupun ilmu-ilmu humaniora klasik. Asal-usul itu tetap berpengaruh atau penting ketika kita berpikir secara organik atau berpikir secara sirkular.

Bangsa Nusantara telah lama memakai cara berpikir sirkular semacam ini yang berbeda dengan cara berpikir Barat-modern yang linear. Bagi cara berpikir Barat-Modern 1 + 1 = 2, tapi belum tentu ketika kita berpikir dengan logika Nusantara. Seumpamanya saja Ayah itu 1 dan Ibu itu juga 1, maka ketika dijumlahkan bisa jadi akan menghasilkan 4 (anak).

Istilah-istilah yang secara sekilas bersifat oposisi biner: wal awwalu wal akhiru, wal dhohiru wal bathinu, sangkan-paran.

Logika Barat-modern tentu akan memaknainya secara linear seperti halnya menghitung angka 1 sampai 9 atau mengeja abjad dari A sampai Z. Angka 1 dan abjad A akan dimaknai sebagai sangkan dan angka 9 serta abjad Z akan dimaknai sebagai paran. Padahal tak demikian adanya ketika kita berpikir dengan logika Nusantara.

Al-Qur’an mengabarkan bahwa “Inna lillahi wa inna ilahi raji’un” di mana dalam parafrase orang Jawa dikenal dengan ungkapan “Sangkan-paraning dumadi” (Sangkan-Paran, Heru Harjo Hutomo, Bintang Pustaka Madani, Yogyakarta, 2021).

Ketika dikabarkan bahwa sangkan-paran segala sesuatu adalah “Allah,” maka dalam hal ini logika yang bekerja adalah logika sirkular dan bukannya logika linear.

Dengan demikian, ketika nasionalisme dimaknai dengan perspektif budaya semacam ini tentu ia bukanlah sekedar komunitas yang diangankan. Atau ketika ia dibandingkan dengan khilafah misalnya, tentu pula ia tak nihil akan nuansa agama maupun spiritual.

Martin Heidegger pernah menyingkapkan manusia sebagai “dasein” yang tak mungkin lepas dari konteks yang melingkupinya. Manusia sebagai dasein sudah secara otomatis mengada bersama dengan buminya.

Baca juga:  Sumarah

Atau setidaknya ia tak dapat dipikirkan terlepas dari konteksnya. Inilah yang menjelaskan kenapa ada beragam pandangan tentang manusia yang adakalanya memiliki titik-singgung dan adakalanya berbeda secara diametral.

Bumi, atau di Jawa lebih dikenal dengan sebutan bumi pertiwi, ternyata cukup pokok bagi cara berada (Ekzisten) seorang manusia. Pendeknya, yang menjadikan seorang manusia adalah manusia adalah juga karena Bumi di mana ia berpijak.

Karena itu, dalam pandangan Heidegger, manusia otentik atau manusia yang tak menipu dirinya sendiri adalah manusia yang sangat berakar pada Bumi di mana ia berpijak.

Inilah yang dikenal sebagai prinsip “autochthony” yang membedakan antara seseorang dengan orang lainnya, satu komunitas dengan komunitas lainnya, yang boleh percaya atau tidak menjadikan sesuatu itu sakti atau tak gampang untuk ditumbangkan.

Bukankah Bung Karno secara rendah hati mengatakan bahwa Pancasila adalah sebuah pandangan hidup yang ia gali dari rahim kebudayaan Nusantara.

Kenapa presiden pertama itu tak mengatakan bahwa Pancasila adalah sebuah pandangan hidup yang ia ciptakan dan justru adalah hasil galian?

Sebab, Pancasila merupakan warisan masa silam yang selama ini dikenal sebagai hikmah perenial laiknya risalah tauhid yang timbul-tenggelam di sepanjang sejarah manusia.

Terkadang, saya tak dapat menghindari untuk tak menghubungkannya dengan kapitayan yang ternyata sepadan dengan konsep tauhid dalam agama. Bukankah secara historis banyak aliran kapitayan, dan juga NU sendiri, berdiri di belakang Bung Karno kala itu?

Itulah kenapa General Maya, dengan racikan musik “ambang batas” ala Jenderal Pay-Indra-Bongky, juga lengkingan suara David Bayu, menggemakan kerinduan purba pada sangkan-paran.

Suasana musikal yang mereka bawa pun seolah sudah dapat mengantarkan pada suasana purba itu sejak intro dihembuskan. Sesesap suasana yang barangkali menjadi kerinduan kita semuanya saat ini di tengah upaya-upaya sistematis untuk melupakannya: Gula Kelapa Nuswantara. (PER)

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top