Sedang Membaca
Eksistensialisme Manusia Jawa

Eksistensialisme Manusia Jawa

Junaidi Abdul Munif

Jawa sebagai entitas memiliki sejarah kearifan hidup bak mutiara yang terus berkilau sepanjang zaman. Namun, sejarah seolah sedikit memberi ruang bagi generasi muda untuk mengenal nilai-nilai luhur Jawa. Bahkan kebudayaan atau tradisi Jawa—sebagaimana pernah disinggung oleh alm. WS Rendra—adalah “kebudayaan kasur tua”. 

Filsafat Jawa (kejawen) memiliki kekhasan tersendiri. Dugaan Clifford Gertz bahwa kejawen merupakan bentuk agama ternyata salah besar. Kejawen merupakan cara pandang (falsafah) orang Jawa yang dapat dipadukan dengan agama lainnya. Pandangan Gertz inilah yang sepertinya menempatkan kebudayaan Jawa sebagai antitesis dari agama-agama resmi, khususnya Islam.

Ki Ageng Suryomentaram yang menjadi aktor utama buku ini merupakan juru bicara makrifat Jawa yang paling akhir. Sebelumnya telah banyak juru bicara makrifat Jawa yakni Dewa Ruci, Jayabaya, Demang Suryongalam, Wali Sanga, Siti Jenar, Ki Ageng Sela, Sultan Agung, Amongraga, Ranggawarsita, Mangkunegara IV, dan Sosrokartono. Dari nama-nama itu tampak bahwa makrifat Jawa tidak bisa dilepaskan begitu saja sufisme Islam.

Perbedaan mendasar dari pemikiran Ki Suryomentaram dari juru bicara pendahulunya ialah penekanan pada rasa dan laku (praktik). Filsuf Jawa sebelum dia konsentrasi pada metafisika (ilahiyat) sehingga filsafat Jawa jauh di awang-awang, tidak membumi, dan terkesan elitis.

Gerakan antroposentrisme yang diajarkan Ki Suryomentaram tampak jelas dalam pandangannya tentang kwaruh jiwa dan pethukan (interaksi) dengan apa yang dihadapi. Kwaruh jiwa merupakan pandangan bahwa manusia bisa merasa, menyaksikan, memahami secara langsung dan mandiri, dan tak seorang pun dapat memonopoli makrifat. Sedangkan pethukan adalah pertemuan rasa antarmanusia yang menghasilkan rasa sama.

Filsafat yang diajarkan Ki Ageng merupakan manifestasi kesadaran eksistensial manusia (jagad cilik) dan Tuhan (jagad ageng). Rasa manusia yang didapatkan dari kwaruh jiwa merupakan lendasan etis filsafatnya. Rasa Manusia inilah yang menentukan sikap manusia terhadap sesuatu. Radhar Panca Dahana dalam pengantar buku ini melihat Ki Ageng menempatkan “rasa” sebagai matra keempat yang mulur-mungkret (mengembang dan menciut) dalam eksistensi manusia dalam mencukupi keinginannya (hal. x).

Baca juga:  Catatan Sufistik: Burung pun Berakal

Buku ini berisi ajaran-ajaran Ki Suryomentaram terutama yang diterjemahkan dari buku yang ditulisnya, Langgar. Tahap pertama yang dijelaskan Suryomentaram adalah berdamai dengan weweka/reribed (kesulitan). Kesadaran batin untuk menerima reribed sebagai proses yang penuh ketabahan dan ketulusan untuk mendapatkan kebahagiaan yang luar biasa, seperti laku Sunan Kalijaga saat menunggu Titian Galinggang (hal. 142).

Dalam laku filsafat dan tasawuf, makrifat menjadi puncak segala proses yang telah dijalani. Ajaran ini bersifat universal, artinya tidak ada suatu agama atau ajaran apapun yang berhak mengklaim sebagai pemilik sah ajaran makrifat. Ini tampak dalam ajaran Kasunyatan Jawi, yaitu kepercayaan adanya Tuhan yang Maha Esa. Ilmu tersebut diyakini telah ada sejak sekira 900 SM.

Sebagai seorang mujtahid dan mujadid, Ki Suryomentaram benar-benar menempatkan dirinya dalam posisi yang rendah hati. Dia bukan sebagai guru dan tak akan memiliki murid. Apa yang disampaikannya hanya jarene (katanya) Suryomentaram. Hal ini dilakukannya sebagai kritik feodalisme Jawa yang sering memberikan penghormatan dengan berlebihan kepada orang yang dianggap lebih tinggi derajatnya (hal. 206).

Baca Juga

Ajaran Ki Suryomentaram tidak lantas membuat manusia terbuai dengan pencarian untuk menuju makrifat dengan melupakan anasir kemanusiaan yang bersifat fitrah. Dalam bab Kebutuhan Hidup Manusia, anasir-anasir itu didedahkan dengan bijak agar manusia dapat mengelola hidupnya yang berkaitan dengan orang lain. Mulai dari penghidupan, pekerjaan, keluarga, dll. Inilah mengapa filsafat Ki Suryomentaram seperti oase bagi manusia yang mengalami kegersangan hidup.

Baca juga:  Al-Maslakul Jali: Fatwa Ulama Madinah atas Polemik Siti Jenar di Nusantara (1674)

Penulis menutup buku ini dengan ajaran Ki Suryomentaram tentang aku gelem (aku bersedia) menjadi puncak dari segala rasa dan respons Ki Suryomentaram.

Pandangan ini mirip dengan ‘sabda’ Nietszche, amor fati, yakni kesediaan menerima apapun, rasa senang atau susah. Mau tidak mau, rasa itu akan dialami manusia di dalam hidupnya.

Ajaran Ki Suyomentaram sangat relevan jika ditarik dalam konteks kehidupan sekarang. Kesadaran sebagai Jawa Transenden yang ditorehkan lewat filsafat Ki Ageng Suryomentaram dapat dijadikan basis eksistensi manusia Jawa di tengah berbaurnya nilai-nilai global yang mengepung kebudayaan dan nilai-nilai Jawa. Agar wong Jawa ora ilang Jawane (orang Jawa tidak hilang Jawanya).

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top