Huda Ubaidillah
Penulis Kolom

Santri Plumbon, Mahasiswa STIK Kendal.

Catatan Santri Plumbon (1): Santri, Ngaji, Ngopi

Whatsapp Image 2022 12 20 At 21.54.13

Berbicara tentang anak tentunya sangat menarik untuk setiap orang yang membacanya, karena setiap orang pasti akan menjadi orang tua seperti halnya dengan anak yang semakin tahun akan bertambah umur dan menjadi tua itulah hukum alam yang sudah ada. Setiap anak mempunyai sifat yang berbeda dengan anak lainnya, namun seiring dengan perkembangan zaman anak semakin tidak mampu mengkondisikan bagaimana sifat itu diterapkan, perlu adanya suatu pembentukan karakter untuk anak agar nantinya tidak ada kontroversi terhadap zaman sekarang.

Zaman sekarang atau mereka sebut dengan zaman now, sehingga memunculkan budaya-budaya asing dan mulai mempengaruhi budaya asli, bahkan mulai menghancurkan anak bangsa. Salah satu fakta dari penghancuran moral untuk anak zaman now adalah melalui media yang terkadang tidak kita ketahui sumbernya dari mana, sehingga seringkali orang tua memberikan handphone ataupun alat lainnya untuk anaknya agar mereka terhibur tanpa memikirkan dampak yang akan ditimbulkan dari apa yang diperbuat.

Padahal melalui handphone tersebut anak mampu mengakses apapun tanpa adanya batasan, atau iklan-iklan yang bermunculan terkadang tidak sepantasnya dipertontonkan kepada anak seumuranya. Sehingga seringkali presepsi anak akan bermunculan yang memberi dampak buruk pada pola pikir anak tersebut. Maka peran orang tua atau orang dewasa sangat diperlukan pada saat ini, khususnya pada zaman yang serba canggih yang dengan mudah dan cepat mengakses apapun tanpa adanya batasan usia.

Seperti kasus-kasus yang sering terjadi pada akhir-akhir ini, itu semua tak lepas dari kecanggihan handphone pada zaman sekarang, yang mampu menimbulkan rasa penasaran pada anak-anak, karena seperti yang kita ketahui bahwa anak-anak memiliki rasa penasaran lebih tinggi kepada suatu hal yang belum mereka ketahui. Sehingga anak tidak memikirkan dampak apa saja yang akan mereka dapatkan ketika melakukan hal tersebut. Belum mampu memilah mana yang pantas dan tidak.

Kita tahu anak-anak sebuah tunas bangsa, yang mampu membawa Indonesia menjadi dunia yang lebih tangguh, dan berkembang untuk menuju lebih jaya dan baik. Namun semua tidak mudah seperti semangat juang yang dilakukan oleh anak-anak terdahulu. Apalagi dengan kehadiran telepon pintar yang canggih, sehingga membuat anak-anak sibuk dengan dunianya masing-masing. Pemikiran tidak menjadi berkembang dan anak jarang bergaul dengan seusianya, diakibatkan sibuk dengan handphone yang mampu mengakses berbagai hal.

Pengontrolan orang tua terhadap hal tersebut diperlukan, dan pesantren hadir memberikan solusi atas permasalahan yang terjadi. Pembentukan karakter ala pondok pesantren mampu membangun pendidikan karakter anak-anak supaya tidak memfokuskan dunianya pada smartphone sehingga tidak menjadikan anak memahami betapa pentingnya juga kehidupan pesantren yang membawa ajaran agama kepada anak-anak.

Ketika di pesantren seorang anak akan dididik untuk tidak menggunakan handphone atau yang sering disebut telepon pintar, mereka akan diajarkan pelajaran agama dari bangun tidur sampai menjelang akan tidur. Semua dilakukan setiap hari hingga tidak sibuk dengan smartphone yang terkadang menimbulkan efek yang buruk, namun tidak semua efek terhadap smartphone akan berdampak buruk semua tergantung seorang anak tersebut bagaimana menggunakan dan apakah anak tersebut dipantau juga oleh orang tuanya.

Membentuk pendidikan ala pesantren dilakukan dengan berbagai metode, dapat dilakukan dengan metode ceramah atau praktik. Metode ceramah seorang guru atau kyai mampu menyelipkan pendidikan yang mampu menjadi pembatas perihal apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Sehingga anak-anak tahu perbedaan kedua hal tersebut, dari situlah pendidikan karakter mampu terbentuk. Apalagi dalam pesantren akan mengaji banyak kitab-kitab sehingga mampu menambah wawasan bagi anak-anak, khususnya anak-anak zaman sekarang.

Ada beberapa alasan kenapa banyak orang tua ingin menyekolahkan dan berharap anaknya melanjutkan pendidikan ke lembaga Islam tertua di Indonesia, yaitu Pesantren. Beberapa alasan selain berharap anaknya menjadi anak yang pintar, orang tua berharap agar anaknya memiliki akhlak yang bagus. Karena yakin bahwa pesantren adalah lembaga Islam yang mengajarkan ajaran agama, terlebih lagi metode 3A (Asuh, Asih dan Asah) yang melekat di dunia kepesantrenan. Itulah keutamaan pesantren dari lembaga yang lain dalam dunia pendidikan.

Namun, belajar di pesantren tidaklah mudah. Laksana perjuangan dan beratnya mencari mutiara dalam samudera dan emas di dalam tanah. Maka roda pendidikan seorang santri pun bisa kita analogikan seperti itu. Penuh perjuangan dan ujian yang berat. Bagaimana tidak? Dalam pendidikan pesantren santri terikat dengan banyak peraturan. Jauh dari kebebasan seperti anak sekolah umum lainnya. Disaat teman-teman sekolah umum bebas memegang gadget dan mudah berselancar di dunia maya. Santri malah sebaliknya, dilarang bahkan haram bagi santri membawa gadget.

Baca juga:  Pandemi, Optimalisasi Edukasi dan Digitalisasi Zakat

Dikala teman-teman sekolah luar dengan bebas bisa bersantai ria, kaum santri sebaliknya. Belum lagi pelajaran yang berat nan banyak yang harus mereka lahap dan hafalkan. Masih banyak lagi peraturan-peraturan yang lainnya.

Ujian santri lainnya datang ketika sang santri melanggar peraturan. Mau tidak mau, suka atau tidak suka maka ia harus menanggung konsekuensinya, yaitu dihukum. Hukuman bagi yang melanggar pun bermacam-macam. Mulai dari yang paling rendah seperti disuruh menghafal nadhoman dan kosa kata bahasa arab, atau lari di lapangan, atau membersihkan kamar mandi. Lalu katagori menengah seperti dibotak dan dijemur di kawasan santriwati, sampai hukuman yang berat, seperti meminta tanda tangan Pak Kiai atas kesalahan yang dilakukan atau bahkan di keluarkan dari pesantren.

Belum lagi saat penyakit datang menguji. Baik sakit dhahir maupun batin. Sakit dhahirnya seperti sakit gatal-gatal yang biasa disebut santri dengan sakit jarban yang artinya “cobaan”, lalu pusing, makan tiap hari pake SATE (Sayur Tahu dan Tempe) saja, dll. Kalau sakit bathin seperti rasa rindu dan kangen orang tua dan rumah. Meminjam istilah Dilan yang melarang rindu karena rindu itu berat. Maka rindu mana lagi yang lebih berat dari kerinduan anak pada pelukan ayah dan ibunya? Rindu ke Milea mah lewat.

Itulah ujian-ujian dalam kehidupan santri dan masih banyak lagi. Maka tak salah jika banyak santri yang menjuluki pesantren sebagai penjara suci mereka. Tempat mereka digembleng dalam menuntut ilmu. Demi keberhasilan belajar. Pesantren pun tak menuntut banyak dari sang santri melainkan taat, sungguh-sungguh, ikhlas, dan sabar dalam menjalankan aktifitas menuntut ilmu di pesantren.

Ujian yang didatangkan Allah adalah untuk mengangkat derajat manusia. Mengujinya untuk melihat sejauh mana kemampuan hambanya. Ujian nyantri pun sama seperti itu. Datang untuk mengangkat derajat santri, akan tetapi yang jarang kita sadari ternyata ujian nyantri itu bukan hanya datang ke santri tapi juga datang ke walisantri. Yaitu orang tua santri dan keluarganya.

Jauh dan meninggalkan anak bukanlah hal yang mudah. Orang tua mana yang rela jauh dari anaknya? Lebih-lebih jika anaknya merupakan anak semata wayang. Orang tua pun diuji kesabarannya dan keikhlasannya melepas anak dalam menuntut ilmu.

Keikhlasan dan kesabaran itu tidaklah mudah, harus dilatih. Awal jauh dari anak memanglah berat akan tetapi lambat laun pasti bisa. Kesuksesan anak pun ditentukan oleh orang tua. Jika orang tua ingin anaknya bermental kuat, orang tuanya harus lebih kuat.

Dalam sebuah kajian di pondok Pak Ustadz bercerita tentang dawuh KH. Hasan Abdullah Sahal pimpinan PM. Daarussalam Gontor pernah berkata: “Lebih baik kamu menangis karena berpisah dengan anak mu sementara karena menuntut ilmu agama. Daripada kamu nanti yen wes tuwo nangis karena anakmu lalai dari urusan akhirat”.

Biasanya ketakutan orang tua (terutama bagi orang tua yang anaknya sendiri ingin dipesantrenkan). Datang karena takut anaknya kelaparan di pesantren, tak mempunyai kemampuan seperti anak-anak luar yang bisa les ini itu dan sebagainya. Padahal tidak. Tidak sama sekali. Mengenai hal ini, KH. Hasan Abdullah Sahal Pun menasehatkan dengan lantangnya: “Anak-anakmu di pondok pesantren tidak akan mati kelaparan. Tidak akan bodoh karena tidak ikut les ini dan itu, tidak akan tertinggal zaman karena tidak pegang gadget. Insya Allah anak mu akan dijaga langsung oleh Allah. Karena sebagaimana janji Allah… yakin.. yakin… harus yakin!”.

Ada sebuah cerita “Di suatu sore, seorang anak datang mengeluh kepada ayahnya yg sedang baca koran, “Ayah, oh ayah”, kata sang anak. “Ada apa?”, tanya sang ayah.

“Aku capek, sangat capek. Aku capek karena aku belajar mati-matian untuk mendapat nilai bagus sedang temanku bisa dapat nilai bagus dengan menyontek. Aku mau menyontek saja! Aku capek.. sangat capek… Aku cape karena aku harus menabung, sedang temanku bisa terus jajan tanpa harus menabung. Aku ingin jajan terus! Aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga lisanku untuk tidak menyakiti. Sedang temanku enak saja berbicara sampai aku sakit hati…

Aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga sikapku untuk menghormati teman-temanku. Sedang teman-temanku seenaknya saja bersikap kepadaku… Aku capek ayah, aku capek menahan diri… Aku ingin seperti mereka…mereka terlihat senang, aku ingin bersikap seperti mereka Ayah!”.

Baca juga:  Pendidikan Pesantren (3): Corak Pendidikan Pesantren

Sang anak mulai menangis.

Kemudian sang ayah hanya tersenyum dan mengelus kepala anaknya sambil berkata, ”Anakku ayo ikut ayah, ayah akan menunjukkan sesuatu kepadamu”, lalu sang ayah menarik tangan sang anak. Kemudian mereka menyusuri sebuah jalan yang sangat jelek, banyak duri, serangga, lumpur, dan ilalang. Lalu sang anak pun mulai mengeluh, ”Ayah mau kemana kita? Aku tidak suka jalan ini, lihat sepatuku jadi kotor, kakiku luka karena tertusuk duri. badanku dikelilingi oleh serangga, berjalanpun susah karena ada banyak ilalang… aku benci jalan ini ayah”. Sang ayah hanya diam, walaupun sebenaranya ia pun merasakan kotor, luka, dan juga sukarnya melewati jalan tersebut.

Sampai akhirnya mereka sampai pada sebuah telaga yang sangat indah, airnya sangat segar, ada banyak kupu-kupu, bunga-bunga yang cantik, dan pepohonan yang rindang.

“Wwaaaah… tempat apa ini ayah? aku suka! aku suka tempat ini!”, sang ayah hanya diam dan kemudian duduk di bawah pohon yang rindang beralaskan rerumputan hijau. “Kemarilah anakku, ayo duduk di samping ayah”, ujar sang ayah. Lalu sang anak pun ikut duduk di samping ayahnya. ”Anakku, tahukah kau mengapa di sini begitu sepi? padahal tempat ini begitu indah?”, tanya ayahnya.

”Tidak tahu ayah, memangnya kenapa?”, kembali sang anak bertanya.

”Itu karena orang orang tidak mau menyusuri jalan yang jelek tadi, padahal mereka tau ada telaga di sini. Tetapi mereka tidak bisa bersabar dalam menyusuri jalan itu”.

Ujian menuntut ilmu bukan akan hanya datang kepada anak. Tapi juga kepada orang tua. Segala aspek masalah baik moral ataupun material itu akan datang menghujam dari segala penjuru. Ujian dan tantangan akan datang lebih besar lagi sesuai tingkat derajat dan kemampuan masing-masing. Tapi itu semua demi mencapai telaga kebahagiaan. Seperti sang ayah dan anak lakukan dalam cerita tersebut. Petuah bijak pernah berkata, “Kesabaran adalah kunci kesuksesan”. Maka orang tua dan santri harus tahan banting dengan penuh kesabaran dan keihklasan dalam menuntut ilmu di jalan Allah.

Ujian demi ujian santri hadapi baik dhohir maupun batin, Namun dengan niat yang bagus dan benar “Bismillah, pertama niat mesantren. Jangan hanya sekolah, karena sekolah tidak ada barokahnya. Jadi pesantren yang memberkahi sekolah. “Bismillah, saya niat mesantren dan sekolah,” tutur beliau.

Nah, kalau sudah niat, maka masuklah dengan pasrah apapun peraturannya. Karena pesantren mempunyai peraturan untuk kebaikan bersama.

Lantas menjelaskan “Al-Qur’an isinya dua, if’al dan laa taf’al. If’al kerjakanlah, laa taf’al tinggalkanlah. Ini syariat, ini peraturan. Apa saja pasti ada peraturan. Sepanjang peraturan masih diamalkan, maka aman.”

“Ketika Nabi Muhammad Saw mendapatkan wahyu. Nabi itu mendapatkan wahyu dua macam. Pertama wahyu an-nubuwah dan kedua wahyu ar-risalah.”

“Wahyu nubuwah itu wahyu yang diberikan kepada nabi untuk menerima ilmu ketika di Gua Hiro. Setelah ilmunya penuh, lantas nabi mendapatkan wahyu untuk berdakwah, itu risalah namanya,” terang Kiai Musthofa.

“Ketika nabi akan mendapatkan wahyu nubuwah, itu dibedel. Dibedel itu dibedah, dibuangi sifat-sifat kotor; hasud, dengki, unek-unek, dendam, takabbur, sum’ah, ujub, riya, dan bakhil, dibuang semua. Diisi dengan kona’ah, ridho, tasyakkur, dan tawadhu‘. Lantas, nabi masuk di Gua Hiro menerima wahyu.”

Kemudian Kiai Musthofa memberikan kesimpulan, “Inilah yang ditiru oleh ulama. Ulama ingin sekali santri-santri mendapatkan ilmu dari Allah yang suci. Oleh karena itu, di dalam pesantren diusahakan hatinya, otaknya, dalamnya suci.

“Untuk mencapai kesucian, karena Allah maha suci, punya ilmu yang suci, dan diberikan atau ditaruh di wadah yang suci, maka di pesantren itu dilarang ada HP, TV, motor dan PS,”.

Memang..

Hidup dalam dunia pesantren dalam indahnya kebersamaan menuntut ilmu agama merupakan dambaan sekaligus harapan orang tua bagi putra-putrinya. Kebersamaan yang terjalin dalam lingkup santri ini menjadi sebuah hal yang patut dicontoh oleh kalangan masyarakat di mana dalam pesantren merupakan sebuah praktik kecil dalam kehidupan bermasyarakat.

Adanya jiwa gotong-royong , tolong-menolong merupakan sebuah pendidikan moral yang harus dan wajib ditanamkan dalam diri jiwa para santri. Mendengar kata santri itu terlitas di pikiran pastinya seseorang yang menggunakan sarung dan dekat dengan ilmu agama. Definisi santri sendiri merupakan seseorang yang mendalami ilmu agama Islam , yang memiliki pribadi tulus dan tawadhu, yang tak mengenal lelah berhenti untuk belajar dan berlatih.

Baca juga:  Nabi Muhammad Saw Peringatkan Penghafal Al-Qur’an Bisa Jadi Radikal

Santri, Ngaji dan Ngopi

Meninggalkan rumah dengan niat untuk mencari ilmu merupakan sebuah kemulian yang bernilai sama dengan perjuangan perang melawan kaum kafir. Ngaji dan ngopi bagi mereka para santri merupakan keistimewaan dan kebutuhan yang menjadi modal dalam menumbuhkan rasa gairah dalam mencapai ilmu yang mereka pelajari, tidak hanya bermakna sekedar minuman yang dicampur gula dan serbuk kopi namun dalam sudut pandang tersendiri bahwasanya kopi itu sebagai filosofi perjuangan dalam menuntut ilmu agama dengan berbagai kepahitan tantangan kehidupan selama ia jauh dari kedua orang tuanya.

Begadang ala santri merupakan suatu hal yang sudah familar, namun paradigma tersebut tentunya diharap mampu dijadikan hikmah dalam mengambil ibrah dari ilmu agama yang telah dipelajari berbicara tentang begadang ini tidak terlepas dengan secangkir kopi yang menjadi teman asyik dalam berdiskusi malam, baik dalam hal memurojaah materi pelajaran yang telah didapatkan dari kegiatan madrasah pondok pesantren.

Syahdunya Ngopi

Ngopi merupakan bentuk kereta bahasa dari ngolah pikir , diharap dengan ditemani secagkir kopi ini mampu menemani para santri dalam berkreativitas baik dalam hal akademik maupun kegiatan sosial. Tidak dimungkiri asyiknya berdiskusi dengan ditemani secangkir kopi ini tidak lepas dari perbincangan terhadap rasa kagum kepada lawan jenis yang selalu menjadi hot news atau tranding topik dalam asyiknya berdiskusi malam.

Paradigma terkait kopi sendiri merupakan obat dalam menemani kejenuhan, kopi mampu memberikan warna baru dalam memunculkan sebuah inspirasi ketika kita mengalami kegabutan yang hakiki. Ada sebuah slogan yang dibuat oleh santri “ Yo, Ngaji, Yo Ngopi, Yo Mencintaimu barang, Ndarani Po”.

Dari slogan tersebut mengartikan bahwa ngopi sendiri merupakan teman asyik dalam syahdunya mengaji untuk mempelajari ilmu agama. Asalkan dalam pengonsumsian kopi ini tetap memperhatikan takaran dalam pengonsumsinya insyaallah kita tetap terjaga dalam pola hidup sehat. Amiin

Kopi ini menjadi sebuah pelekat kebersaam yang mampu membentuk sebuah miniatur sosial, sampai sampai ada sebuah kitab yang dikenal di dunia pesantren berjudul Irsyadu al-Ikhwan fil bayani al-Hukm al-Qahwah wa al-Dukhan yang ditulis oleh Syaikh Ihsan Jampes. Di kalangan pesantren kitab tersebut populer dengan kitab ngopi dan rokok, karena memang benar teman yang menemani diskusi itu memang secangkir kopi dan sebatang rokok.

Memang ada perdebatan terkait larangan pengonsumsian kopi dan rokok ini namun dalam ranah santri menanggapi dengan santai terkait isu tersebut. Karena memang tak mudah menghilangkan sebuah kebiasaan yang sudah melekat dan mengakar lama di kalangan pesantren.

Jika seorang ulama saja sampai menulis kitab khusus yang membahas tentang kopi, hal itu berarti saking melekatanya kopi dalam jiwa santri yang sangat akrab di kalangan pesantren. Ketika kita berkunjung ke sebuah pesantren sangat mudah dijumpai jejeran cangkir kopi baik di dalam kamar maupun pada ruangan tempat berdiskusi, minuman kopi juga menjadi suguhan utama dalam menjamu tamu yang sudah populer dikalangan pesantren.

Menurut saya kopi tidak dapat dilepaskan dari diri para santri. Kopi mampu mempersatukan perbedaan di tengah kerenyahan dalam berdiskusi di lorong lorong kamar, kopi mampu menggugah jiwa semangat sa’at bahtsul masa’il setiap malam dan kopi mampu menjaga mata selama musyawarah itu berlangsung. Apa lagi kopi yang usai diminum oleh kiai setelah mengaji menajdi sebuah momen bagi para santri untuk memperebutkan sisa secangkir kopi itu, karena dalam paradigma santri hal tersebut merupakan puncak keberkahan tersendiri. Ia menambahkan dalam setiap tegukan secangkir kopi para santri menghafal itu mampu menambah kemampuan menghafal dari kebanyakan santri.

Antara santri, ngaji dan ngopi menajdi sebuah hubungan harmonis yang akan menajdi oase dalam miniatur sosial kehidupan kalangan pesantren di mana dalam kehidupan masyarakat di Indonesia telah dialihkan oleh perkembangan teknologi berupa kecanggihan gadget yang menjadikan seseorang berkepribadian apatis dan individualis tinggi.

Itulah sedikit gambaran dari saya kehidupan pesantren

Yang awal mulanya tidak punya keinginan untuk nyantri.

Namun dengan berkembangnya tahun demi tahun menjadi betah dan sampai saat ini masih menetap Pondok Pesantren TPI Al Hidayah Plumbon Limpung Batang.

“Dengan nyantri kebahagiaan dunia dapat diperoleh cukup dengan sederhana (ora muluk- muluk )”

 

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top