Sedang Membaca
Catatan Santri Plumbon (2): Suka Duka di Pesantren
Ahmad Fauzi
Penulis Kolom

Santri Plumbon, Mahasiswa STIK Kendal.

Catatan Santri Plumbon (2): Suka Duka di Pesantren

Whatsapp Image 2022 12 20 At 21.56.51

Saya adalah insan yang beruntung, karena dilahirkan dalam kondisi yang utuh. Ini artinya saya harus hidup dengan proses kepada tujuan hidup yang utuh juga, yakni akhirat yang bahagia.

Kampung tempat tinggal saya terbilang sebagai kampung islami, yang se-dari dulu masyarakat banyak yang jebolan dari pesantren, sehingga tidak sedikit yang meletakkan buah hatinya di pesantren-pesantren wilayah Kabupaten Batang, bahkan ada juga yang di luar Batang.

Saya pernah mendengar ceramah dari salah satu kiai yang menyampaikan bahwa, “keberhasilan suatu pendidikan islam di desa adalah pendidikan yang mampu mengantarkan anak didiknya meneruskan belajarnya di pondok pesantren”. Ini artinya pendidikan/majlis di desa adalah suatu awal bekal untuk membuka lembaran di Pesantren.

Tidak beda dengan lumrahnya masyarakat, Ayah Ibu saya juga menitik harap pada anak-anaknya dengan mengantarkan ke Pesantren. Mulai dari kakak saya yang pernah dipondokkan, hingga sampai detik ini adik saya yang masih di Pondok.

Awal mula saya sampai pada pesantren adalah dengan sebab runtutnya pendidikan dini saya, dari TPQ, MI, MTs sampai sekarang. Saya menyimpulkan bahwa saya mondok itu bukan suatu kebetulan.

Pada tahun 2012 tepatnya hari Minggu, 14 Oktober adalah waktu awal mulai saya menginjakkan kaki di bumi pesantren Plumbon, saya masih ingat betul karena saya mencatatnya. Dengan diantar orang tua, saudara, dan ustadz saya di kampung, dengan segala bekal pesangon saya bawa.

Kiai Manaf adalah tempat berlabuh pertama yang disowani pada saat itu, dengan gaya polos minim tawadhu’ saya duduk di depan beliau sembari memandang wajahnya. Bagi calon/santri baru menurut saya lumrahnya belum faham babakan andap asor pada kiai/ustadz.

Setelah selesai sowan, saya melanjutkan pendaftaran di kantor pesantren dengan pengurus yang bertugas saat itu. Melengkapi persyaratan administrasi serta perjanjian santri agar menjadi santri yang resmi untuk siap menetap di pesantren.

Menurut saya, pesantren adalah suatu tempat pendidikan yang khos, yakni berbeda dengan tempat pendidikan lain, memiliki sejuta keunikan yang  pasti dirasakan oleh setiap santri baik baru maupun yang sudah lama. Misal saja tentang pemanggilan nama santri dimana banyak yang menggunakan nama laqob (julukan) yang diberikan oleh teman secara cuma-cuma, bahkan julukan tersebut terkadang diambil dari nama binatang. Mau heran tapi ini pesantren. hehe…

Bahkan terkadang nama julukan itu lebih dikenal dibanding dengan nama asli santri tersebut. Pengambilan nama tersebut biasanya dengan melihat dari fisik, atau tingkah laku yang dilakukan santri. Itu salah satunya keunikan pesantren secara umum.

Hal unik kesan menarik silih berdatangan menyelimuti hari-hari dalam santri mengaji, kitab kuning sebagai bukti bahwa dia pernah mengabdi untuk islam sejati. Secara umum pesantren identik dengan kajian-kajian kitab kuning dan secara khusus pesantren juga memiliki ciri khas yang dimiliki yang menjadikan pembeda atau pengenal antara pesantren satu dengan yang lainnya.

Baca juga:  Empat Tingkatan Puasa: dari Fikih ke Tasawuf

Dalam beragama islam pendidikan itu penting agar benar dalam beragama, apalagi untuk mempelajari Islam sudah pasti kurang sempurna tanpa menimba ilmu di pesantren. Maka dari itu pesantren merupakan thoriq (jalan) fisik yang menjadi sarana pengetahuan berlandaskan hukum-hukum Islam. Dari pesantren pula muncul generasi penerus bangsa yang sangat dibutuhkan.

Dalam awal saya di pesantren begitu berat untuk melupakan hal-hal yang ada di rumah, kebiasaan berkumpul bersama teman, hp dan yang tidak ada di pesantren terus membayangi pikiran. Rasa sedih dan bosan membuat saya ingin meneteskan air mata, jeruji jendela menjadi saksi bisu setiap lamunan.

Mengapa demikian, mungkin cobaan agar bisa menahan untuk menjadikan insan kamilan. Satu teman menghampiri tangan bermaksud berkenalan yang lain datang mengajak pergi jajan dengan sedikit menampakkan senyuman untuk melupakan keadaan yang membosankan aku pun iyakan.

Warung Bek Dah sangat ramai santri mengantri piring-piring nasi berlimpah tangan untuk para santri, megono dan kulit melinjo yang aku lihat tidak membuatku lapar malah menjadikan saya semakin ingat rumah di kampung halaman. Satu piring tersaji dipenuhi nasi dan megono yang terlihat tadi saya santap di depan tv sambil melihat tayangan yang tersaji.

Sedikit bingung banyak heran melihat teman-teman yang belum mengenal tapi saling mengingatkan, mengajak jajan dan menemani dalam kesendirian. Hal apapun di rumah membuat sedikit demi sedikit terlupakan, ini membuat saya mulai lebih kuat untuk bertahan. Urusan tidur menjadi penghibur ketika hati rasa ingin mundur celoteh teman saya ngawur.

Hari demi hari terlewati menjadikan pribadi benar-benar seperti santri asli, ngaji, ngaji dan sudah terus aktif mengaji itulah santri kata kiai. Jangan banyak tidur, apalagi setelah subuh, dalam mau’idzoh setelah jama’ah subuh. Meskipun lelah, haruslah jalani kegiatan dengan baik dan jangan membuat gaduh tetangga sekitar.

Pesan orang tua jangan pulang sebelum melewati 40 hari di pesantren terlaksanakan, itu menjadi salah satu tanda akan kerasan kata orang-orang. Semakin lama membuat hati semakin asyik menjadi diri sendiri yang mandiri tanpa kesenangan duniawi sebelum kita pergi. Urusan rumah biar berjalan yang penting saya di pesantren kerasaan tanpa harus ada keluarga yang bersandingan.

Hampir satu tahun berlalu ini tandanya ada acara besar yang dinanti wali santri yakni melihat Putra-Putri bisa mengikuti khataman al-Qur’an dan Juz ‘Amma baik binnadzor ataupun bil hifdzi. Daftar nama terpapar melihat siapa yang berhak mengikuti khotaman, hati terasa senang sebaris nama diriku dilihatkan. Bahagia tiada tara sebelum pulang banyak acara makan-makan bersama, hingga libur datang santri-santri dipulangkan.

Baca juga:  Menjaga Lisan, Memelihara Ucapan

Pesantren itu menjadi alasan setiap santri untuk merindu, bukan rindu pada kekasih tapi rindu pada setiap sudut pesantren yang hampir setiap hari tak sepi dari santri-santri mengaji. Kiai datang dalam mimpi pertanda santri untuk segera kembali mengaji. Terlalu lama di rumah membuat beberapa santri terjebak dalam kesenangan yang menjadikan ia enggan untuk melanjutkan perjuangan yang pernah ia janjikan.

Awal tahun kedua bagi santri lama menjadikan lebih dewasa dan berubah menjadi istilah “penak jamanku to” yang artinya setiap keadaan berubah tidak sama seperti yang dirasa. Pesantren akan mengubah aturan sesuai keadaan agar tidak kecolongan dengan hal-hal yang merugikan.

Santri baru kembali terdaftar, tanda kegiatan akan segera kembali dilaksanakan, santri lama banyak juga yang berpamit pulang untuk meneruskan hidup di kampung halaman. Kegiatan berjalan normal sampai pengurus kewalahan karena santri itu tidak semua belum siap mengaji, ada yang masih nongkrong di warung, ada yang masih tidur di kamar dan ada pula yang sembunyi karena takut belum bisa mengaji.

Pesantren tidak tempat untuk bermalas-malasan, maka setiap kecurangan akan dibalas hukuman, bukan untuk melukai tapi untuk menasihati hati agar bisa kembali di jalan yang diridhohi Ilahi dan kiai. Takzir istilah masyhur berarti hukuman. Santri yang ditakzir seakan merasa paling hina diantara teman lain, agar tak mengulangi kesalahan lagi, sadar diri, dan giat mengaji lagi.

Jahil wajar jangan kriminal nanti kamu dapat takziran, perbincangan di kamar usai selesai kegiatan. Menengok ke halaman ada tontonan santri yang sedang disanksi karena tidak ikut mengaji dengan alasan berenang di Sungai Petung saat kegiatan. Santri itu masih diberi ampunan dianggap melakukan pelanggaran yang masih bisa meneruskan pendidikan di Pesantren.

Beda pasal masalah larangan santri mengkonsumsi minuman terlarang, sebab sekali ada santri yang diketahui telah menikmati jenis larangan ini tak segan-segan langsung dihadapkan kepada Kiai, tamat riwayat harus pulang tak terhormat bahkan petaka akan menanti. Pasalnya selain melanggar aturan pesantren dia juga melanggar larangan hukum Islam.

Kembali lagi harus rajin mengaji nasehat Kiai yang setiap hari membayangi, betapa hina dan tak berguna jika manusia tidak berilmu dan akan kalah mahal dibanding dengan binatang yang bisa dijual dan dimakan. Semangat berkobar kobar setelah santri dikumpulkan terlihat semua akan melaksanakan sesuai dengan kemampuan.

Ajaran keilmuan pesantren bukan lagi hal yang ketinggalan, anggapan orang jika menjadi santri adalah ketinggalan jaman, sekarang terkikis dijawab oleh pesantren itu sendiri. Karena Selain pesantren melahirkan bibit unggulan masa depan pesantren juga telah mengikuti perubahan jaman, bukan artinya pesantren meninggalkan ajaran kitab kuning namun pesantren menambah pengajaran pendidikan umum.

Baca juga:  Ngaji Ilmu Kalam: Konsep Kosmologi Kaum Materialis

Dengan begitu santri tidak lagi menjadi pribadi yang dianggap remeh, bukan soal penampilan ketinggalan jaman, tapi  pastinya keilmuan. Islam mengajarkan cara berpenampilan yang baik maka pesantren mengamalkan ajaran itu, soal harga pun banyak sarung milik kalangan pesantren yang lebih mahal dibanding dengan harga celana pada umumnya. Maka dalam pandangan jaman sudah tidak lagi mempermasalahkan penampilan karena yang terpenting itu keilmuan.

Satu hal yang tidak akan bisa dibeli, tapi bisa diperoleh dan antara santri satu dengan yang lainnya berbeda, yaitu “barokah”. Setiap santri akan mendapatkan barokah dari Kiai dan Pesantren sesuai dengan usaha keras ketika hidup di pesantren, dan kebanyakan manfaat barokah itu dirasa ketika santri sudah menetap di rumah.

Ketika saya belajar di pesantren banyak hal yang menjadikan perubahan secara langsung ataupun bertahap secara tidak terasa, perubahan positif yang memang tidak dimiliki oleh teman di rumah seperti pengetahuan babakan fikih misalnya. Selain itu banyak hal yang mungkin tidak bisa disebutkan satu persatu.

Pesantren yang saya pilih memiliki daya tarik yang menjadikan berbeda dengan pesantren pesantren lain, meskipun perbedaan tersebut saya ketahui setelah menetap di pesantren. Sebagai contoh yang memang menjadi sorotan adalah tentang kajian sorogan al-Qur’an yang menjadi unggulan, pesantren saya terkenal dengan bagus bacaan al-Qur’annya.

Di atas telah saya katakan bahwa ada yang namanya khataman al-Qur’an dan Juz ‘Amma, untuk dapat menjadi peserta khataman tidak mudah karena harus mengikuti seleksi tes secara tertulis, lisan dan hafalan maka dari itu menjadi peserta khataman adalah suatu kebanggaan dari usaha setiap santri, bahkan tidak sedikit yang harus mengulang tes pada tahun berikutnya karena dinilai kurang mampu dan layak.

Dalam segi pendidikan pun tidak monoton karena dipadukan dengan pendidikan formal, seperti MI, MTs, MA, SMK dan kesetaraan Paket B dan C. Bahkan sekarang membuka perguruan tinggi yang menjadi cabang dari perguruan tinggi di kota Kendal. Menurut saya jika memang kita benar-benar ingin menekuni di satu tempat ini pasti sudah lebih dari kata cukup.

Banyak sekali alumni pesantren yang sekarang menjadi sukses sesuai dengan perspektifnya, ada yang di pemerintahan, guru, dosen, pengusaha dan lain lagi. Artinya di zaman yang modern ini tidak usah ragu untuk memondokkan anak di pesantren, sebab bukti nyata sudah di depan mata.

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top