Sedang Membaca
Didi Kempot dan Laki-Laki yang Boleh Menangis
Penulis Kolom

Peneliti dan pemerhati politik yang tinggal di Jatinangor Sumedang. Bisa dijumpai di akun Twitter @sidhila

Didi Kempot dan Laki-Laki yang Boleh Menangis

Didi Kempot Synchronize 2019 Antarafoto Ratio 16x9

“Smile, because it confuses people. Smile, because it’s easier than explaining what is killing you inside.”

Bulan lalu saat lowong, saya baru bisa menyempatkan diri menonton film Joker dan perkataan Joker tadi yang secara tidak langsung menggambarkan caranya menghadapi gangguan mental terus saja terekam jelas di kepala.

Film yang masuk nominasi Oscar tersebut juga sukses membuat saya tercekat diam dan mendadak sentimental, semacam sedih bercampur kecewa pada dinamika kehidupan sosial kita, namun di saat yang sama tak tahu harus berbuat apa. Adegan demi adegan Joker terus terngiang, terutama ketika di masa kecilnya Arthur Fleck dipaksa tertawa saat disiksa oleh ibu angkatnya. Anjuran tersenyum dan berhenti menangis memang terdengar manis, tapi sejatinya itu hanyalah bentuk lain dari kekerasan verbal serta fisik. 

Di level lebih ringan, toxic masculinity sejenis sebenarnya kerap kali kita lakukan pada kaum laki-laki saat mereka terjatuh atau mengalami hal-hal sedih. Kita sering memaksa mereka buru-buru menghapus air mata karena menangis bukanlah indikator kejantanan laki-laki, seperti yang dilakukan oleh Penny Fleck pada Joker kanak-kanak. 

“Ayo ah, masa’ cowok nangis.”

“Gitu aja sedih, cemen lu!”

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

“Jangan nangis, dong! Kayak cewek aja.”

Deretan kata larangan menangis dan istilah populer “boys don’t cry” kemudian harus memaksa para pria berlagak tegar, kuat, serta menahan kekecewaan secara mendalam. Sehingga, banyak laki-laki lalu memilih memendam perasaan sakit hati menahun yang berisiko menyebabkan depresi berkepanjangan. Dalam banyak kasus, sebagian dari mereka akhirnya memanifestasikan stresnya pada hal-hal adiktif, dari rokok, alkohol, hingga obat-obatan. 

Padahal frase pria sejati tidak menangis justru keliru. Dr. Jodi DeLuca, neurologis dari Rumah Sakit Tampa Florida menjelaskan bahwa menangis justru membantu seseorang untuk lepas dari stress, “ketika menangis, sebenarnya tubuh kita sedang mencoba memberikan sinyal agar kita bertindak mengatasi penyebabnya, atau paling tidak meminta kita agar mengelola emosi dengan cara sehat dengan mengeluarkan air mata misalnya. Jika kemudian gejolak emosi itu tidak dikeluarkan dengan menangis, justru dapat menyebabkan sejumlah gejala fisik yang dikenal secara klinis sebagai gangguan Somatoform (sederhananya, sakit karena stress yang membuat seseorang merasakan gejala penyakit tanpa penyebab fisik yang jelas).” 

Secara umum, kaum hawa memang terdata lebih banyak mengidap gangguan tersebut, tapi jangan salah, dengan stigma kesehatan mental di Indonesia yang acap kali disalahpahami, bisa saja banyak kasus yang tidak terdeteksi atau para pengidapnya (terutama dari kalangan laki-laki) cenderung abai untuk memeriksakan diri.

Selain kekhawatiran akan mendapat persepsi negatif dari masyarakat, pelarian diri dari stress bagi para pria terkadang justru tidak terduga. Bisa berupa tindakan kekerasan ke orang sekitar atau disalurkan dalam bentuk kecanduan ke rokok sampai minuman keras. Tak heran, meski data global dari Badan Kesehatan Dunia/WHO menunjukkan bahwa persentase depresi perempuan jauh lebih tinggi dari laki-laki, namun kecenderungan untuk bunuh diri di antara kaum pria justru menunjukkan hal berbeda. Persentase kematian pria dengan bunuh diri justru lebih besar dibandingkan wanita. 

Di tengah isu kesehatan mental tadi yang semakin menyeruak ke permukaan, Didi Kempot dan sobat ambyarnya seakan menjadi oase dalam pusara kesedihan. Pria yang lahir di Surakarta 53 tahun lalu tersebut tak henti-hentinya mendendangkan kepiluan hati tanpa kehilangan jati diri. Syair-syairnya dari Terminal Tirtonadi hingga Cidro mampu menemani para sadboys dan sadgirls untuk tetap kuat bagaimanapun ujian hidup yang harus dihadapi.  

Sepanjang perjalanan kariernya, Didi Kempot sendiri bertahan dengan berbagai tembang sedihnya yang terus terngiang di telinga para penggemar. Seluruh lagunya yang banyak melukiskan haru biru kehidupan, khususnya perpisahan dengan mencomot judul terminal, pelabuhan, dan stasiun dengan sempurna mencerminkan berbagai realita pahit bani Adam, utamanya dari kelas bawah: ditolak orangtua kekasih hingga nasib perantau yang jarang pulang ke kampung halaman.

Semua tuntas dibahas dan didendangkan oleh laki-laki yang lahir dengan nama Dionisius Prasetyo itu. Bahkan ketika disentil oleh Agus Mulyadi, penulis dan blogger asli Magelang, mengapa ia tak pernah menuliskan lagu yang bertemakan bandara, ia menjawab gamblang saja bahwa orang-orang yang berpisah di bandara biasanya punya kesempatan yang jauh lebih besar untuk bersua kembali:

“Wong sing pisahe neng bandara kuwi kemungkinan bakal iso ketemu meneh. Paling seminggu rong minggu yo wis mbalik. Karang wong sugih. Tapi nek pisahe neng stasiun, pelabuhan, opo meneh terminal, mesti nggrantes, soale le ketemu meneh mesti bakal suwe. Kuwi yo hurung karuan iso ketemu sebab hurung mesti nduwe sangu kanggo bali.”

Tak heran, tiap konsernya digelar, ada saja deretan fansnya yang tak malu untuk mengekspresikan emosi dengan berjoget dan bernyanyi ria. Dari sekian video cuplikan konser Didi Kempot yang saya tonton, selalu ada sekelompok laki-laki yang menangis keras dan menghayati tiap lirik lagu yang dilantunkan. Berbeda dengan stigma sosial yang mengharamkan laki-laki mencurahkan seluruh air matanya, di pagelaran Lord Didi, semua orang bebas berekspresi. Bahkan sesekali ketika ia melihat laki-laki yang sedu sedan menangis, ia menyempatkan diri untuk menggoda, “ora popo patah hati, sing penting dijogeti.” 

Meski terdengar sederhana, permakluman Didi Kempot terhadap reaksi emosional para penggemarnya justru patut diapresiasi. Kala masyarakat kita melekatkan tangisan dengan sikap keperempuanan dan jauh dari maskulinitas, legenda campursari itu dengan gaya sederhananya justru membuka ruang mereka yang patah hati untuk semaksimal mungkin mengekspresikan diri. Dan, ketika sang maestro tersebut beranjak pergi, tentu kita tidak hanya dihadapkan oleh lagu patah hatinya yang ternyata memotivasi, tetapi juga kita kehilangan kembali tempat terbuka untuk melampiaskan emosi tanpa takut terkena bully. 

Oh Mas Didi yang buru-buru mengucapkan selamat tinggal dengan senyap, tanpa menunggu kita siap, mungkin sudah saatnya kami mematri nasihat emasmu tentang menghapuskan tangisan dan menggantikannya dengan semangat bekerja demi melangsungkan kehidupan, “sing uwis ya uwis, lara ati ya oleh. Ning tetep kerjo lho ya. Sebab urip iso diragati nganggo tangismu.”

Baca juga:  Obituari Gus Zaki Hadziq: Hadratul Gus, Tongkat, dan Sorban KH. Hasyim Asy'ari
Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
1
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top