Sedang Membaca
Obituari dan Etika Keutamaan (Virtue Ethics)
Zaim Ahya
Penulis Kolom

Lahir di Batang, 1989. Penulis Lepas, Pegiat di Idea Institut Semarang. Tinggal di Kendal, Jawa Tengah.

Obituari dan Etika Keutamaan (Virtue Ethics)

Francesco Ungaro Tzi 5h Rfjo Unsplash

Kenapa obituari ditulis? Salah satu jawabannya adalah sebagai persaksian atas perjuangan yang tak boleh dilupakan. Kenapa tulisan persaksian atas perjuangan harus diingat?

Namun sebelum menjawab pertanyaan lanjutan tersebut, ada baiknya mengetengahkan pengertian obituari. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring, kata obituari tidak penulis temukan. Sedangkan dalam Oxford Dictionary of English, obituary diartikan dengan “a notice of a death, especially in a newspaper, typically including a brief biography of the deceased person” yang artinya kira-kira, “kabar kematian, terutama di koran, biasanya menyertakan biografi singkat dari seseorang yang meninggal”.

Perihal pentingnya menulis obituari ini, memori saya terseret ke beberapa tahun silam saat membaca buku Etika Lingkungan yang ditulis oleh Menteri Lingkungan era Presiden Gus Dur, Sonny Keraf. Sebelum ia menjelaskan persoalan etika lingkungan, terlebih dahulu ia mengajak pembaca menyamakan persepsi tentang pengertian etika sekaligus teori-teori etika.

Ada tiga teori etika yang ia kemukakan dalam buku hijaunya itu: Etika Deontologi, Etika Teleologi dan Etika Keutamaan. Tiga teori etika ini diproyeksikan menjawab sebuah pertanyaan, “Bagaimana kita harus bertindak dalam situasi konkret tertentu?”

Etika deontologi, yang dinisbatkan kepada Emmanuel Kant, menyatakan bahwa kita harus melakukan apa yang menjadi kewajiban sesuai dengan moral yang ada. Menurut etika ini, sesuatu dinilai baik atau tidak berdasarkan sesuai dan tidaknya perbuatan tersebut dengan kebaikan. Etika ini, tulis Keraf, tidak mempedulikan akibat yang ditimbulkan dari perbuatan tersebut. Perbuatan dianggap baik karena baik pada dirinya sendiri. Alasan Kant menolak akibat dari suatu tindakan lantaran akibat tersebut tak menjamin universalitas dan konsistensi kita dalam bertindak dan memberi nilai suatu perbuatan.

Baca juga:  Obituari: Ra Lilur, Wali Laut

Etika semacam ini punya kelemahan saat sesorang berada dalam situasi dilematis, seperti ada dua kewajiban, bahkan lebih, yang saling mengeliminasi satu sama lain, sedang keduanya menununtut untuk dilakukan.

Yang kedua adalah etika teteologi. Etika ini seakan menjadi jalan keluar dari kebuntuan etika deontologi ketika berhadapan dengan sitauasi dilematis. Berbeda dengan deontologi, etika teteologi lebih melihat kepada akibat dari suatu perbuatan.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Lalu pertanyaannya, akibat baik bagi siapa? Untuk menjawab ini, menurut Keraf etika teteologi bisa dibagi menjadi dua: egoisme dan utilitarianisme.

Yang pertama membenarkan akibat perbuatan tersebut bedampak pada diri pelaku itu sendiri, karena sesorang dibenarkan mengejar kebahagiaan untuk dirinya sendiri.

Sedangkan yang ke dua, yakni utilitarianisme, baik buruknya perbuatan tergantung dampak akibatnya bagi banyak orang. Secara singkat, tulis Keraf, yang dianut etika ini adalah “the greatest good for the greatest number“, sebanyak mungkin kebaikan untuk sebanyak mungkin orang.

Namun, walaupun tampak rasional, etika ini memiliki beberapa kelemahan. Diantaranya, etika ini secara tidak langsung membenarkan pengorbanan atas minoritas demi moyoritas, entah itu menyangkut kebaikannya maupun kuantitas penerimanya.

Lalu bagaimana dengan etika keutamaan?

Berbeda dengan dengan deontologi dan teteologi, etika keutamaan lebih fokus kepada pengembangan karakter pada diri setiap orang. Mengutip Aristoteles, Keraf menulis, bahwa “nilai moral ditemukan dan muncul dari pengalaman hidup dalam masyarakat, dari teladan dan contoh hidup yang diperlihatkan oleh tokoh-tokoh besar dalam menghadapi dan menyikapi persoalan-persoalan hidup ini.”

Baca juga:  Gastronomi dan Upaya Memuliakan Pangan Nusantara

Dalam sudut pandang etika ini, nilai moral bukan didekte oleh perintah maupun larangan, namun muncul dan dihayati dari contoh kongkret tokoh-tokoh teladan dalam menghadapi persoalan hidup yang komplek. Dari teladan tokoh-tokoh tersebut seseorang belajar apa itu yang dinamakan kesetian, saling bercaya, kejujuran, keadilan, kasih sayang dan sebagainya. Singkat kata, etika keutamaan membentuk seseorang mejadi pribadi bermoral. Seseorang tidak sekedar melakukan perbuatan yang adil (doing something that is just) tapi adil sepanjang hayatnya (being a just person).

Etika ini menyediakan jawaban yang berbeda mana kala sesorang berada dalam situasi yang dilematis. Kata etika ini, “teladanilah sikap dan prilaku moral tokoh-tokoh yang kita kenal, baik dalam masyarakat, sejarah atau dalam cerita yang kita ketahui, ketika mereka menghadapi sitausi yang serupa. Lakukan seperti yang dilakukan tokoh moral itu. Itulah tindakan yang benar secara moral.”

Dari paparan di atas, tampaknya sudah sedikit terjawab alasan penulis mengaitkan etika keutamaan dengan penulisan obituari. Karena dari membaca obituari, yang berisi tentang persaksian perjuangan sang tokoh, generasi selanjutnya akan belajar memiliki etika keutamaan.

Lalu apakah etika keutamaan tak memiliki kelemahan? Tentu ada. Tak ada gading yang tak retak berlaku pula terhadap etika ini. Salah satu kelemahannya adalah jika minim teladan baik dari para pemimpin dan tokoh. Tampaknya ini juga yang menjadi pekerjaan rumah bagi kita, generasi sekarang. Apakah mampu memberikan teladan seperti mereka yang telah mewariskan etika keutamaan, atau justru sebaliknya? (RM)

Baca juga:  Mengenang Fuad Nahdi, Aktifis Islam Moderat di Inggris Raya
Pesan Kerudung Bergo
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
2
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top