Sedang Membaca
Idrisiyah, Dinasti yang Menganut Mazhab Syiah
Penulis Kolom

Mahasiswa Islamic Studies International University of Africa, Republic Sudan, 2017. Sekarang tinggal di Pati, Jawa Tengah.

Idrisiyah, Dinasti yang Menganut Mazhab Syiah

Wilayah kekuasaan Islam yang sangat luas, serta perpindahan kekuasaaan dari Damaskus ke Baghdad merupakan salah satu faktor munculnya dinasti-dinasti kecil yang ada di barat maupun timur Baghdad. Salah satu dinasti yang muncul, akibat faktor di atas adalah Dinasti Idrisiyah.

Dinasti Idrisiyah merupakan dinasti awal-awal yang berdiri di wilayah Maghrib, yang didirikan oleh Idris bin Abdullah bin Al-Hasan pada tahun 788 M.

Pendiri Dinasti Idrisiyah adalah keturunan Ali bin Abi Thalib, dan juga seorang simpatisan kelompok Syiah, yang ikut ambil bagian dalam perlawanan keturunan Ali bin Abi Thalib di Hijaz terhadap orang-orang Dinasti Abbasiyah pada tahun 786 M atau yang dikenal dengan pertempuran Fakh. Pertempuran Fakh bersimpati Syiah kalah telak. Dan yang selamat melarikan diri ke Afrika Utara, salah satunya yaitu Idris bin Abdullah bin Al-Hasan.

Situasi dan kondisi politik di wilayah Maghrib yang sedang dilanda konflik internal antarsuku, membuka ruang untuk berdirinya dinasti baru, yaitu Idrisiyah. Konflik antarsuku tersebut, melibatkan suku-suku Berber seperti Shanhaja, Masmudiyah dan Burghuathah. Masmudiyah merupakan salah satu suku Berber, yang memegang teguh as-Sunnah. Sedangkan Burghuathah merupakan kabilah yang dianggap sesat karena menciptakan ideologi agama baru. Kabilah ini menjadi kabilah terkuat di antara kabilah lainnya.

Baca juga:  Parokialisme Keagamaan, Fragmentasi Umat, dan Tanggung Jawab Kita

Dengan membawa misi membebaskan masyarakat dari penindasan dan kezindiqan atas kelompok tertentu. Dukungan kepada Idris bin Abdullah bin Al-Hasan semakin massif, apalagi ketika adanya propaganda untuk mengangkat seorang pemimpin keturunan ahlul bait, dukungan bertambah semakin banyak.

Kabilah Arwaba adalah salah satu kabilah yang mendukung berdirinya Dinasti Idrisiyah, selain itu mayoritas simpatisan Dinasti Idrisiyah berasal dari wilayah Wallili atau Volubilis. Yang kemudian menjadi pusat pemeritahan pertama Dinasti Idrisiyah.

Setelah berhasil memproklamirkan sebagai dinasti baru di wilayah Maghrib, Dinasti Idrisiyah juga berhasil memperluas wilayah kekuasaannya di Afrika Utara dan Samudera Atlantik.

Dinasti ini menjadi semakin kuat ketika mendapat dukungan dari para tokoh dan suku Berber Zenata, yang ada di Maroko Utara, yang sangat mengagumi keturunan Ali bin Abi Thalib.

Berdirinya Dinasti Idrisiyah di wilayah Maghrib, mengancam eksistensi kekuasaan Dinasti Abbasiyah yang berpusat di Baghdad. Bahkan khalifah pada waktu itu, yaitu Harun Al-Rasyid marah dengan berdirinya Dinasti Idrisiyah, karena mengancam eksistensi wilayah kekuasaan Dinasti Abbasiyah di wlayah Maghrib. Selain itu, dinasti ini juga memasukkan doktrin Syiah ke dalam ideology kenegaraannya.

Berdirinya Dinasti Idrisiyah mendapat penolakan dari penguasa Dinasti Abbasiyah, hingga akhirnya pemerintahan Dinasti Abbasiyah pernah mengirimkan pasukannya untuk menyerang Dinasti Idrisiyah di wilayah Fez.

Baca juga:  George Orwell dan Cairnya Identitas Politik

Namun penyerangan yang dilakukan oleh pasukan Dinasti Abbasiyah gagal, karena kurangnya persiapan dan jauhnya jarak atara Baghdad dan wilayah Fez. Kemudian strategi lain digunakan untuk melemahkan kekuatan pemerintahan Dinasti Idrisiyah, yaitu dengan mengirimkan mata-mata untuk membunuh pemimpin dinasti tersebut.

Mata-mata tersebut adalah Sulaiman bin Jarir, yang mendapat tugas untuk berpura-pura menentang pemerintahan Dinasti Abbasiyah, dan kemudian merapat ke Dinasti Idrisiyah untuk mengabdi kepadanya.

Melalui gubernur wilayah Ifriqiya yaitu Ibrahim bin Aghlab, yang mendapat mandat untuk memfasilitasi misi yang dibawa oleh Sulaiman bin Jarir. Pada akhirnya mengizinkan Sulaiman bin Jarir untuk menyeberang, dan masuk ke wilayah Dinasti Idrisiyah. Sehingga pada akhirnya misi tersebut berhasil, untuk membunuh Idris bin Abdullah bin Al-Hasan dengan menyamar sebagai tabib dan meracuninya.

Wafatnya para pemimpin Dinasti Idrisiyah tidak mengurangi kekuatan dinasti tersebut, justru malah banyak imigran dari Arab dan Andalusia yang datang dan menjadi simpatisan dinasti tersebut. Keruntuhan Dinasti Idrisiyah dimulai ketika para pemimpinya, tidak mampu menyatukan suku-suku yang ada. Apalagi ketika ada upaya pengikisan yang dilakukan oleh para pemimpin Dinastri Idrisiyah, terhadap peran suku Berber.

Selain itu, serangan dari Gubernur Ifriqiya Ibrahim bin Aghlab, pemberontakan kelompok Khawarij dan juga ekspansi Dinasti Fathimiyah juga menjadi faktor lain runtuhnya dinasti yang telah membangun banyak kota di wilayah Maghrib tersebut. Dan kekuasaan dinasti ini resmi berakhir pada tahun 974 M.

Dinasti ini juga tercatat sebagai dinasti pertama yang menganut paham Syi’ah dan menjadikannya sebagai ideologi pemerintahan.

Baca juga:  Sejarah Dinasti Al-Murabithun, dari Dakwah Islam ke Gerakan Politik
Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
0
Senang
1
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
1
Scroll To Top