Membongkar Misteri Sedulur Papat Limo Pancer

Hamidulloh Ibda

Dari kecil, istilah ‘Sedulur Papat Limo Pancer‘ sudah akrab di telinga saya. Terminologi ini merupakan bukti luasnya falfasah Jawa yang tak kalah enigmatis dan ilmiah dibandingkan ilmu-ilmu modern era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0.

Masalahnya, orang Jawa, Nusantara, tidak mencari rumusan epistomologi, ontologi, dan aksiologinya, namun justru hanyut dalam gelombang pembidahan, penyirikan, dan pengafiran nilai-nilai, tradisi, dan budaya khas Nusantara itu.

Jika dianalisis, Jawa itu tidak sekadar adiluhung, namun sangat ilmiah. Namun dalam kajian perkembangan ilmu pengetahuan dan filsafat, ada upaya para ilmuwan “meninabobokkan” hal itu. Buktinya, peradaban Jawa Kuno atau Nusantara Kuno tidak sering bahkan tidak pernah disebut dalam ilmu modern. Adanya, hanya Yunani Kuno, Mesir Kuno, China Kuno. Di mana Jawa atau Nusantara Kuno tersebut?

Hal itu diperkuat saat saya dan teman akademisi meneliti Kidung Wahyu Kolosebo karya Kanjeng Sunan Kalijaga. Belum saya temukan rujukan asli, valid, dan secara kualitas mampu menerjemahkan mahakarya Raden Mas Said tersebut. Padahal, Kidung Wahyu Kolosebo ini sangat luar biasa yang sekarang justru jadi komoditas pentas dangdut.

Selain Wahyu Kolosebo, ada kidung lain karya Sunan Kalijaga yang memuat istilah Sedulur Papat Kelimo Pancer pada kurun abad 15-16. Dalam Suluk Kidung Kawedar, Kidung Sarira Ayu, pada bait 41 dan 42 tertulis Sedulur Papat Kelimo Pancer.

Bunyinya; Ana kidung akadang premati//Among tuwuh ing kuwasanira//Nganakaken saciptane//Kakang kawah puniku//Kang rumeksa ing awak mami//Anekakaken sedya//Pan kuwasanipun adhi ari-ari ika//Kang mayungi ing laku kuwasaneki//Anekaken pangarah//Ponang getih ing rahina wengi//Angrowangi Allah kang kuwasa//Andadekaken karsane//Puser kuwasanipun//Nguyu uyu sambawa mami//Nuruti ing panedha//Kuwasanireku//Jangkep kadang ingsun papat//Kalimane pancer wus dadi sawiji//Nunggal sawujudingwang.

Dalam lisanul jawi (lisan orang Jawa), secara leksikal, dapat diartikan ke dalam beberapa poin. Pertama, ada nyanyian tentang saudara kita yang merawat dengan hati-hati. Memelihara berdasarkan kekuasaannya. Apa yang dicipta terwujud. Ketuban itu menjaga badan saya. Menyampaikan kehendak dengan kuasanya. Adik ari-ari tersebut memayungi perilaku berdasar arahannya.

Darah siang malam membantu Allah Yang Kuasa. Mewujudkan kehendak-Nya. Pusar kekuasaannya memberi perhatian dengan kesungguhan untuk saya. Memenuhi permintaan saya. Maka, lengkaplah empat saudara itu. Kelimanya sebagai pusat sudah jadi satu. Manunggal dalam perwujudan saya saat ini. Dus, apakah ini syirik? Sangat konyol jika tak berbasis riset, kita membidahkan kidung ini.

Epistemologi Sedulur Papat

Secara bahasa, ada yang menyebut Kiblat Papat Limo Pancer, Sedulur Papat Limo Pancer Kakang Kawah Adi Ari-ari. Pemaknaan istilah ini tidak bisa sembarangan karena sangat enigmatis dan penuh misteri, bahkan banyak kaum intelektual hanya menyebut sebagai mitos. Apakah demikian? Jelas tidak.

Adi (2018) menerjemahkan secara ilmiah ke dalam beberapa bagian. Pertama, kakang kawah atau air ketuban. Kedua, adi ari-ari atau ari-ari.  Ketiga, getih atau darah. Keempat, puser atau pusar. Kelima, pancer, yang berarti kita sendiri sebagai pusat kehidupan ketika dilahirkan.

Baca Juga:  Bagaimana Kebenaran Muncul?

Ketika sang jabang bayi lahir ke dunia melalui rahim ibu, maka semua unsur-unsur itu keluar dari rahim ibu. Dengan izin Tuhan, unsur ini menjaga manusia yang ada di bumi saat dilahirkan. Orang Jawa di dalam doa sering menyebut untuk mendoakan pejaga yang tidak tampak ini (kakang kawah, adi ari-ari, getih dan puser).

Sedulur papat juga dimaknai empat makhluk gaib yang tidak kasat mata (metafisik). Mereka merupakan saudara yang setia menemani hidup manusia, mulai dilahirkan di dunia hingga nanti meninggal dunia menuju alam kelanggengan.

Riset Raharjo (2012:4), menyebut dalam ilmu Jawa terdapat jagat kecil (mikrokosmos)  kiblat papat” yang merupakan “kakang kawah adhi ari-ari” dengan pusat manusia sendiri, sebagai satu kesatuan jiwa manusia untuk meraih ketentraman hidup memiliki saudara alamiah dalam tubuhnya.

Kedalaman makna ini tidak cukup ditinjau dari aspek filologi atau antropologi, namun harus menggunakan pendekatan lain yang lebih kompatibel. Dalam falsafah Jawa, saat manusia dilahirkan dari rahim ibu pasti membawa air ketuban, ari-ari, darah, dan tali plasenta. Masyarakat Jawa meyakini bahwa keempat benda ini menyertai kehidupan manusia dan selalu “menghidupi” secara batin sejak dilahirkan sampai meninggal dunia.

Semua agama meyakini bawa hidup dan matinya seorang ditentukan oleh Tuhan. Dalam kehidupan ini, selain alam fisik juga ada metafisik yang dalam keyakinan Hindu disebut mikrokosmos yang merupakan unsur alam dengan mengawinkan “sedulur papat” di atas sebagai bagian empat kiblat dalam alam yang berupa tanah/bumi, air, api, dan angin.

Konsep ini tentu selaras dengan kepercayaan semua agama di Nusantara yang meyakini manusia hidup, mati, dan menyinergikan kehidupan-kematian itu dengan tanah, api, air, dan angin. Tidak bisa tidak. Jika ada orang mengingkari Sedulur Papat, otomatis mereka menolak kehidupan.

Dalang Ki Sigit Ariyanto (2017) pernah menafsir Sedulur Papat dengan sangat rinci. Pertama, watman, merupakan rasa cemas atau khawatir ketika seorang ibu hendak melahirkan anaknya. Watman diartikan saudara tertua yang menyiratkan betapa utamanya sikap hormat, sujud kepada orangtua khususnya ibu. Kasih sayang ibu ialah kekuatan yang akan mengiringi hidup seorang anak.

Kedua, wahman yaitu kawah atau air ketuban. Fungsinya menjaga janin dalam kandungan agar tetap aman dari goncangan. Ketika melahirkan, air ketuban pecah dan musnah menyatu dengan alam, namun secara metafisik ia tetap ada sebagai saudara penjaga dan pelindung.

Ketiga, rahman atau darah dalam persalinan sebagai gambaran kehidupan, nyawa, dan semangat. Selalu ada sebagai saudara yang memberi kehidupan dan kesehatan jasmani. Keempat, Ariman atau ari-ari (plasenta) sebagai saluran makanan bagi janin. Ia merupakan saudara tak kasat mata yang mendorong seseorang untuk mencari nafkah dan memelihara kehidupan.

Baca Juga:  Bunga Mawar dalam Tradisi Sastra Sufistik Nusantara

Kelima, panceratau pusat yang berarti bayi itu sendiri dimaknai juga sebagai ruh yang ada dalam diri manusia yang akan mengendalikan kesadaran diri seseorang agar tetap eling lan waspada (ingat dan waspada). Ingat kepada sang pencipta dan menjadi insan yang bijaksana.

Dalam risetnya, Dewi (2017:4) juga menemukan,  keempat saudarana watman, wahman, rahman, dan ariman itu merupakan saudara manusia yang menemani secara metafisik. Sedulur Papat menjadi potensi atau energi aktif dan pancer sebagai pengendali kesadaran. Mereka adalah saudara penolong dalam mengarungi kehidupan hingga seseorang  kembali lagi pada sang pencipta.

Artinya, tanpa mengenal Sedulur Papat kita sendiri akan susah menuju Tuhan.

Bukan Misteri

Dari epistemologi di atas sudah jelas dan ilmiah, manusia mau beragama atau ateis akan berteman dengan Sedulur Papat atau Kiblat Papat. Sebab, Sedulur Papat inilah yang akan memandu manusia menuju Tuhannya. Orang Jawa sendiri, menjadi Sedulur Papat Limo Pancer sebagai jimat, pakem, aturan, atau pedoman dalam berbagai kehidupan.

Apa wujudnya? Salah satunya filosofi Kiblat Papat Lima Pancer yang diartikan sebagai empat arah mata angin yaitu timur, selatan, barat dan utara sedangkan Lima Pancer yaitu tengah.

Bahkan, orang Jawa sendiri memasukkan itu ke dalam nama-nama hari (pasaran) yang menjadi penentu jodoh, rezeki, dan nyawa manusia. Wujudnya, berupa konsep hari seperti pasaran legi (timur), pahing (selatan), pon (barat), wage (barat), dan kliwon (tengah/pusat).

Misalnya, dalam menanam jagung, ketika tidak mengindahkan konsep ini, bisa jadi mereka puso alias gagal panen. Begitu pula dengan pemilihan hari pernikahan, khitan, pindahan atau membangun rumah dan sebagainya.

Apakah hanya itu? Ternyata tidak. Kontekstualiasi Sedulur Papat juga menjelmas dalam elemen dasar dalam kehidupan manusia. Seperti cipta, rasa, karsa, dan karya. Tanpa keempat hal ini, bisa jadi manusia hidup namun mati. Artinya, sangat konyol ketika manusia hidup namun tidak memiliki cipta, rasa, karsa dan karya.

Islam sendiri sudah mengonsep hal itu dengan riil ke dalam bab nafsu, tasawuf, dan kondisi hati manusia dalam Surat Al-Qiyamah (75:1-2). Dari ayat itu, Winardi (2017) mengnalisis, manusia memiliki empat unsur paling dasar, yaitu lawwamah, supiyah, amarah dan mutmainah.

Lawwamah ini diartikan selemah apa pun manusia, pasti di dalam jiwanya terdapat sifat kejam dan berani membunuh. Jika diilmiahkan, sifat ini  menjadi pertanda setiap manusia hidup membutuhkan tanah sebagai salah satu sumber hidup atau dalam tubuh manusia  pasti mengandung zat tanah. Lambang warna dari sifat aluamah yakni  hitam.

Supiyah mengandung arti yaitu sebagai sahabat hidup manusia  yang selalu menginginkan harta benda dalam kemegahan serta  kemewahan dunia. Lambang warna dari sifat supiyah yakni kuning. Amarah yaitu sifat selalu mengajak dan menginginkan hal berbau atau dalam ranah politik, kecerdasan akan tetapi lebih cenderung dalam kesombongan.

Lambang warna dari sifat ini merah. Mutmainah yaitu sifat cenderung mengajak dalam nafsu ketuhanan,  beribadah kepada Tuhan. Lambang warna dari mutmainah yakni putih.

Dari keempat jenis ini, tidak mungkin manusia hanya memilih satu saja karena sudah digariskan dalam kehidupan. Namun, di antara keempat itu manusia harus dapat menyinergikan, memilah dan memilih mana yang potensi benar-salah, baik-buruk, indah-jelek untuk menggapai kehidupan bahagia dan pada akhirnya mengantarkan manusia kepada Tuhannya.

Baca Juga:  Siapa Pemilik Islam, Kristen, Yahudi, Hindu?

Tanpa Sedulur Papat Limo Pancer, bisa jadi manusia tidak tahu dirinya. Bahkan, filsuf Martin Buber (1878-1965) jauh-jauh hari menggagas konsep diri dalam kehidupan dengan tujuan agar manusia menjadi dirinya sendiri meskipun dalam dirinya ada diri-diri yang lain. Dari diri-diri yang lain itu, manusia harus dapat menggapai jati diri, hakikat diri, dan harga diri agar tidak membelah diri.

Sedangkan konsep diri perspektif Ibnu Miskawaih (1994: 43-44), manusia memiliki tiga bagian, yaitu al-quwwah  alnatiqah (fakultas berpikir), al-quwwah algadabiyyah (fakultas amarah), dan alquwwah  al-shahwiyah (fakultas nafsu syahwat). Sedangkan Imam Al-ghazali (1960: 291) membuat episteme fakultas berpikir dengan al-nafs al-insaniyyah (jiwa  sebagai  esensi  manusia), fakultas amarah dengan istilah al-nafs alhayawaniyyat, dan fakultas nafsu syahwat dengan istilah al-nafs al-hayawaniyyah.

Diri manusia, menurut dua filsuf ini memiliki keutamaan dengan beberapa syarat. Miskawaih dan Al-Ghazali mengemukakan ada empat keutamaan tertinggi bagi manusia.

Mulai dari al-hikmat sebagai keutamaan akal, al-shaja‘ah keutamaan daya, al-gadab, al-‘iffah sebagai keutamaan daya al-shahwah, dan al-‘adalah sebagai  keseimbangan  daya  itu. Keutamaan-keutamaan inilah yang harusnya digali, karena manusia selain badan, juga memiliki akal, nafsu/syahwat dan hati.

Sudah jelas, Sedulur Papat Limo Pancer merupakan bagian dari diri manusia yang harus diijtihadi, digali, dan disinergikan ke dalam kehidupan agar manusia dapat kembali kepada Tuhannya. Uniknya, saat ini Indonesia berada pada era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 yang secara leksikal merupakan kesamaan dari Sedulur Papat (Revolusi Industri 4.0), Limo Pancer (Society 5.0). Ini bukan kebetulan, namun memang sudah sesuai dengan zeitgeist (spirit zaman).

Jika kita tidak dapat mentransformasi teknologi batin pada Sedulur Papat Limo Pancer, maka akan susah bagi kita untuk menjawab tantangan Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0.

Sebab, sinyal, kuota, internet, pulsa, semuanya adalah dunia maya, makhluk gaib yang kita sembah setiap hari. Sedangkan Sedulur Papat Limo Pancer jelas-jelas ada secara fisik saat kita lahir. Dus, kini siapa yang lebih gaib dan mitos antara sinyal, pulsa, kuota dengan Sedulur Papat Limo Pancer?

Lihat Komentar (16)

Komentari