Syarat-Syarat Menjadi Ustazah

Dita Oktavia Nika

Neno Warisman dikenal sebagai seorang penyanyi dan bintang film senior yang naik daun di era 1980-an. Saat ini, perempuan yang juga berprofesi sebagai desainer busana muslim ini aktif di bidang sosial, agama, dan pendidikan. Ia juga mendadak mendapatkan sebutan ustazah dari penggemarnya.

Neno lahir di Banyuwangi, Jawa Timur, 21 Juni 1964. Sejak kecil, dia sudah memperliatkan ketertarikannya terhadap puisi.

Lalu seperti apakah yang dimaksud ustazah itu? Pertama, guru atau pengajar. Kedua,Seseorang yang memiliki kemampuan ilmu agama dan bersikap serta berpakaian layaknya orang alim. Mereka para pendakwah baru dengan mudahnya menarik perhatian masyarakat dengan modal terkenal, pandai berbicara di tempat umum dan juga berpengetahuan agama walaupun sedikit. Dengan melalui media sosial masyarakat sekarang lebih memilihnya sebagai sarana mendapatkan informasi. Oleh karena itu, banyaknya pendakwah baru khususnya mereka para artis yang berhijrah lebih mudah menjadi terkenal dan mempunyai banyak pengikut seperti yang dilakukan Neno Warisman.

Lalu bagaimana dengan kasus seorang perempuan yang kita sebut sebagai ustadzah Neno Warisman ini, tepatkah Neno Warisman menyamakan munajat 212 dengan doa Nabi pada perang badar? berikut bunyi puisi yang berisikan do’a oleh Neno Warisman “Jangan, jangan kau tinggalkan kami, dan tolong menangkan kami. Karena jika kau tidak menangkan kami, kami khawatir ya Allah, kami khawatir tidak ada lagi yang menyembahmu.” Kalimat inilah yang bermasalah alias menuai kontroversi. Takhsinul Khuluk, (2019) munajat artinya berdoa secara lirih, berdoa sepenuh hati kepada Tuhan untuk mengharapkan keridhaan, ampunan, bantuan, dan hidayahNya. Untuk melakukannya dituntut dengan cara yang baik dan beradab. Tidak semaunya dan tanpa tata krama. Didalam puisi Neno diatas nyaris tidak ada tata krama kepada Allah. Doa tersebut disampaikan dengan berteriak dan berisi rasa putus asa dan ancaman.

Baca juga:  Perempuan-Perempuan Bercadar itu.. (2)

Bukankan puisi Neno ini berlebihan? Dalam puisi tersebut sudah jelas hanya untuk kepentingan duniawi saja yang mengandung unsur politik. Akting itu boleh tetapi jangan berlebihan karena didalam do’a tersebut sangat menyakitkan hati bangsa Indonesia dan dapat memecah belah persatuan bangsa. Zuhairi Misrawi, Minggu (24/2/2019) Kalaupun Neno tidak mau menyembah lagi gara-gara tidak menang (pilpres), Allah tidak bermasalah, Allah maha kuasa, tidak butuh disembah-sembah makhluknya. Apalagi yang disertai pamprih dan tidak ikhlas yang mengatasnamakan Allah untuk sekedar memuaskan nafsu politik.

Sepintas doa dalam penggalan puisi Neno ini mirip dengan doa Rasulullah Saw, dalam perang badar pada 17 Ramadhan 2 H. Perlu ditegaskan perang badar sesungguhnya bukanlah perang merebutkan kursi politik atau jabatan tertentu. Perang badar adalah perang kaum muslimin menghadapi kaum kafir Quraisy yang gemar merampok dan membunuh. Dalam perang ini, pasukan muslim yang berjumlah 313 orang, melawan pasukan Quraisy Mekkah yang berjumlah kira-kira 1.000 orang. Satu banding tiga sangat berat bagi pasukan muslim. Tak heran kemudiaan Rasulullah saw bermunajat kepada Allah. Doa tersebut “Ya Allah, penuhilah janjimu kepadaku, Ya Allah berikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah jika Engkau membinasakan pasukan Islam ini, maka tidak ada yang akan beribadah kepadamu di muka bumi ini.” (H.R. Muslim 3/1384 hadits no. 1763).

Baca juga:  Indonesia Tanpa Islam

Untuk mendapatkan peran sebagai ustadzah itu sebenarnya tidak mudah, lalu bagaimana menjadi ustadzah yang benar? Menjadi ustadzah yang sesungguhnya? Didalam berdakwah yang berupa kebaikan dan kebenaran, terdapat empat syarat untuk menjadi seorang pendakwah.

Pertama, belajar mengenai ilmu agama, mendalami ilmu agama (tafaqqud fiddin). Kedua, memahami ilmu komunikasi maksudnya dapat menguasai teknik ceramah, teknik berpidato. Jadi menguasai teori komunikasi dengan baik, supaya pesan-pesan yang disampaikannya itu bisa tepat sasaran. Ketiga, ikhlas dan sabar. Maksud ikhlas disini itu apa yang dilakukan seorang pendakwah semata-mata karena Allah SWT bukan yang lainnya. Keempat, memiliki akhlak yang baik dalam perkataan, perbuatan, dan penampilan yang baik.

Kita sebagai umat muslim di Indonesia harus berhati-hati mengenai ustadz ustadzah abal-abal yang akhir ini berseliweran jadi tim kampanye. Oleh karena itu, kita harus pandai mengetahui mana yang pantas dan mana yang tidak pantas untuk dijadikan panutan dalam memperdalam ajaran agama Islam. Karena, ustadzah yang baik adalah mereka yang mengerti ajaran Islam, mereka yang mengetahui tata krama Islam.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top