Sedang Membaca
Manuk
Penulis Kolom

Penulis lepas. Mengembangkan cross-cultural journalism, menulis, menggambar, dan bermusik

Manuk

Gambar Burung Kicau

Dalam paramasastra Jawa, dikenal prefiks “ma” dan prefiks “ng.” Misalnya, kata dasar “antuk” yang berarti mendapat/beroleh, bisa menjadi “mantuk” yang berarti pulang dan “ngantuk” yang berari mengantuk. 

Secara tersirat, dalam Serat Jaka Lodhang, Ronggawarsita merangkai sebait tembang yang mengetengahkan keterkaitan antara “ngantuk” dan “antuk”:

Tinemune wong ngantuk anemu ketuk/ Malenuk samargi-margi/ Marmane bungah kang nemu/ Marga jroning kethuk isi/ Kencana sesotya abyor.”

Tapi, kebiasaan ini, terasa sedikit nyalawadi atau aneh, ketika kata benda “manuk” yang berarti burung ternyata juga adalah sebentuk kata kerja yang berarti bersarang atau berlubang. Sebab, kata dasar “manuk” adalah “nuk”, yaitu lubang/sarang.

Sejak lama manuk ini menjadi sanepan yang lekat dengan jiwa manusia. Seumpamanya, pada sebait tembang yang konon diciptakan oleh Sunan Bonang yang notabene tak beristri.

Upamakna paksi mabur mesat saking kurunganeki,” yang menggambarkan peristiwa megatruh atau lepasnya ruh dari raganya.

Saya tak akan mengaitkan “manuk” ini dengan lambang garuda yang telah menjadi kelumrahan sebagai lambang nasional berbagai negara. Setidaknya, ada dua aliran kapitayan yang memiliki lambang paguyuban berupa “manuk.”

Yang pertama adalah PDKK yang merupakan tilaran pemuka laskar Dipanegara pada Perang Jawa, Eyang Jimat Suryangalam Tambaksegara.

Yang kedua adalah Harda Pusara, tilaran sang demang pembangkang asal Kemanukan, Purworejo, Sang Mahayogi Ki Kusumawicitra.

Bagi beberapa orang, lambang manuk itu merupakan lambang suksma manusia sebagaimana yang digambarkan oleh sebait tembang Sang Prabu Wahdat, Sunan Bonang.

Tapi ada satu data yang lebih detail dalam mengartikan manuk yang tak sekedar bermakna suksma atau berbagai jisim latif manusia lainnya.

Baca juga:  Mengurai Era Kenabian di Tanah Jawa

Data yang merupakan penggambaran manuk ini terdapat dalam teks yang diwariskan oleh Kyai Ronggasutrasna,  pujangga yang ikut menggarap Serat Centhini yang dalam pengerjaannya memerlukan pengembaraan ke pulau Jawa bagian Timur.

Sementara, Kiai Yasadipura mengembara ke pulau Jawa bagian Barat dan Sastradipura atau Kyai Muhammad Ilhar khusus mengembara ke Mekkah.

Dalam keterangannya, Ranggasutrasna mengungkapkan bahwa penggambaran manuk ini adalah bagian dari kumpulan kidung yang diwariskan oleh Sunan Kalijaga pada Gusti Kanjeng Ratu Pambayun, putri keraton Surakarta.

Seandainya Syekh Abu Hasan al-Syadzili identik dengan Hizib Bahri, dst. seumpamanya, maka Sunan Kalijaga identik dengan kidung-kidung ini.

Dengan kata lain, kidung-kidung yang diracik oleh Sunan Kalijaga ini adalah sejenis hizib dalam cita rasa orang Jawa.

Dari manuk inilah dapat dimengerti kenapa orang-orang Jawa di masa silam lebih menyebut ilmu ketuhanan atau tauhid dalam bahasa agama dengan istilah “ngelmu kamanungsan.”

Sebab, saya kira, dalam logika yang kental dengan paham wujudiyah yang bersambung dari Ibn ‘Arabi dan Abdul Karim al-Jilli ini, ternyata tak perlu terlalu jauh untuk menggayuh Tuhan, dengan menyeksamai manusia atau diri sendiri sebagai subyek yang mencari ternyata Ia dapat pula dikenali.

Barangkali, seuntai dalil wujudiyah yang berbunyi “Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu” sudah terlalu familiar dibanding “Al-insanu sirri wa ana sirruhu.” Tapi yang pasti, dalail-dalil inilah yang mendasari “ngelmu kamanungsan” dalam kebudayaan Jawa masa silam.

Baca juga:  Kita dan Tragedi 65 (8): Upaya Generasi Muda NU Menjadi Koncone Wong PKI

Pada perlambang manuk yang diwariskan oleh Sunan Kalijaga inilah “ngelmu kamanungsan” yang merupakan salah satu kearifan lokal Jawa tersebut akhirnya menjadi wijang dalam perspektif tasawuf.

Ana paksi mangku bumi langit/ Manuk iku endah warnanira/ Sagara erob wastane/ Uripe manuk iku/ Amimbuhi ing jagad iki/ Warninipun sakawan/ Sikile wawolu/ Kulite iku sarengat/ Getihipun tarekat ingkang sajati/ Ototipun kakekat
Dagingipun makripat sajati/ Cucukipun sajatining sadad/ Eledan tokit wastane/ Anadene kang manuk/ Pepusuhe supiyah nenggih/ Amperune amarah/ Mutmainah jantung/ Luamah wadhuke ika/ Manuk iku anyawa papat winilis/ Nenggih manuk punika
Uninipun Jabarail singgih/ Socanipun puniku kumala/ Anetra wulan srengenge/ Napas nurani iku/ Grananipun tursina nenggih/ Angaub soring aras/ Karna kalihipun/ Ing gunung arpat punika/ Uluwiyah ing loh kalam wastaneki/ Ing gunung Manikmaya

Perlambang manuk tersebut adalah perlambang dari sebuah ilmu atau ngelmu dalam bahasa Jawa. Saya istilahkan sebagai “ngelmu” karena ilmu yang seperti ini sifatnya diberikan atau tanpa melalui proses belajar-mengajar secara umum.

Dalam hal ini, Mangkunegara IV mengatakan bahwa ilmu semacam ini terlaksananya hanya melalui laku. Barangkali, banyak orang akan mengartikan laku ini sebagai praktik dalam istilah sekarang.

Tapi, saya kira, laku dalam konteks Serat Wedhatama lebih mengacu pada apa yang dikenal sebagai jalan purgativa.

Dengan demikian, ilmu inilah yang dirujuk oleh al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumuddin pada bab ‘Ajaibul Qulub yang diperoleh dengan cara penyucian hati semata. Al-Ghazali menamakan ilmu semacam ini sebagai sebagai ilmu laduni (Wedhatama dan “Kuluban” di Bulan Ramadhan, Heru Harjo Hutomo, https://alif.id).

Baca juga:  Kapan Sejarah Kemerdekaan Indonesia Harus Mulai Ditulis

Atas dasar tilikan tersebut, maka penggambaran ngelmu sebagai seekor manuk oleh Sunan Kalijaga mendapatkan kejelasannya. Sebab, di balik ilmu laduni dalam perspektif al-Ghazali ini disiratkan bahwa hanya Tuhan-lah yang sesungguhnya tahu akan diri-Nya sendiri.

Karena itu, tasawuf, pada titik tertentu, adalah ibarat upaya pembersihan rumah agar Sang Tamu Agung berkenan singgah, meskipun hanya melalui para kurirnya.

Jadi, etiketnya, dikarenakan Sang Tamu Agung tersebut memiliki kuasa yang mutlak, bahkan terhadap rumah dari dari sang tuan rumah sendiri, maka yang dapat dilakukan oleh sang tuan rumah hanya membersihkannya atau menjadikannya pantas untuk disinggahi, meskipun sekedar oleh para kurirnya.

Itulah kenapa dalam kebudayaan Jawa wahyu atau pulung kerap dilambangkan dengan seekor manuk. Dengan kata lain, ilmu yang oleh Sunan Kalijaga dilambangkan dengan manuk adalah sejenis wahyu atau ilham bagi orang awam (non-nabi), dalam bahasa al-Ghazali. Isi kidung Kalijaga tak perlu dibahas lagi karena sudah kerap saya kupas.

Yang jelas, dalam logika orang-orang kasepuhan Jawa, keseluruhan diri manusia adalah sebuah kitab teles yang mendampingi kitab-kitab suci yang disebut sebagai kitab garing.

Tapi patut diungkapkan satu pertanyaan besar terkait manuk sebagai perlambang ngelmu: ketika ukuran kebenaran sains adalah kesesuaian antara amatan dan obyek yang diamati (korespondensi), lantas apakah yang kemudian menjadi ukuran kebenaran ngelmu ini?

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top