Sedang Membaca
Siapakah Sufi Itu?
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Siapakah Sufi Itu?

Hajriansyah

Siapakah sufi itu? Banyak teori tentang istilah ini, meskipun tak ada kesepakatan (kejelasan) kapan istilah ini mulai ada. Ada yang mengaitkannya dengan ashhabus suffah atau istilah shuf, shafwa dan sophia.

Banyak yang mengakui keunggulan sifat-sifat mereka, tapi tak sedikit pula yang menyesatkannya. Ada yang unggul dalam ibadah dan ada yang (di)sesat(kan) karena pemikirannya dan perilaku-perilakunya yang (dianggap) menyimpang. Siapakah sesungguhnya mereka?

Martin Lings, seorang orientalis yang menjadi sufi dan kemudian mendapatkan nama sebagai Syekh Abu Bakr Sirajuddin, mengatakan sufi adalah orang yang mengajukan pertanyaan kepada diri mereka sendiri, apakah jalan yg lurus itu (?); lalu sungguh-sungguh mencari kebenaran. Syekh Ragip Frager, seorang psikolog yang awalnya bernama Robert Frager, menyatakan bahwa tasawuf (jalannya para sufi) adalah jalan pendekatan yang paling langsung kepada Allah.

Baik Syekh Ragip maupun Syekh Sirajuddin, keduanya masing-masing adalah seorang salik (nama lain dari sufi atau mutashawwif) dan berafiliasi, belajar dalam bimbingan seorang guru di/, ke dalam tarekat. Syekh Ragip kemudian menjadi Mursyid Khalwati al-Jerrahi, sedangkan Syekh Sirajuddin Mursyid Naqsyabandi.

Mengapa orang Barat banyak yang tertarik menjadi sufi, atau setidaknya suka mengkaji tasawuf? Mungkin karena gagasan personalitasnya yang membebaskan.

Benarkah para sufi melepaskan dirinya dari syariat, dan hanya memilih amaliah dan cara berpikir yang “langsung” menuju Tuhan saja? Dan benarkah para sufi lebih senang mengurung diri sendirian, hanya berdua-duaan dengan Tuhan dalam zikir yg khusyuk?

Catatan sejarah, dan banyak kitab yang dikarang para sufi, tidak menyatakan demikian. Meskipun tampaknya ada banyak cerita tentang sifat-sifat semacam itu. Ada sufi yang pedagang, yang panglima perang, politikus, guru (dalam pengertian sehari-hari), seorang raja, dan banyak lagi macam karakter mereka—termasuk yang faqir, bahlul, majnun, bakhil, dan seterusnya.

Ada satu kisah yang diceritakan Idries Shah, yang juga seorang sufi.

Suatu ketika seorang salik telah mendapatkan makrifat, ia kemudian memilih menjadi pedagang untuk beramal baik. Suatu hari seorang temannya yang juga salik menjumpainya di pasar, dan merasa prihatin dengan pilihan sahabatnya itu. Ia lalu menasehati sang teman yang dianggapnya telah “gagal” itu tentang keburukan dunia dan pasar yang merupakan seburuk-buruk tempat di dunia. Sang teman mendengarkan dan diam saja, sampai si salik ini berlalu melanjutkan perjalanannya. Tak lupa, ia menyangui temannya bekal untuk di jalan.

Suatu hari si salik yang berkelana berjumpa dengan seorang guru besar yg dikenal ‘arif dan punya pandangan yang luas. Ia menyampaikan tentang suluknya dan perjumpaannya dengan seorang teman yang telah gagal dalam suluknya.

Setelah itu ia ingin menanyakan, siapakah sufi terbesar (wali quthb) zaman ini. Tapi sang guru besar keburu menjawab, bahwa di zaman itu wali quthb-nya adalah fulan bin fulan.

Dan kebetulan, atau memang bukan kebetulan, nama yg disebut sang guru adalah temannya yang baru dinasehatinya beberapa waktu yang lalu.

***
Bagaimana menjadi sufi? Apakah sufi layak disematkan bagi orang yang ingin menjadì sufi, atau untuk orang yang sudah berada di tengah (per)jalan(an), atau hanya bagi orang yang sudah melampaui perjalanan (seorang mursyid, maksudnya)?

Ada istilah-istilah dalam dunia tasawuf seperti sufi dan mutashawwif, salik, zahid, murid, mursyid. Membayangkan nama-nama itu yang sering terbayang dalam benak kita, mungkin, gambaran-gambaran kaprah tentang orang yang menyendiri, yang tampak sederhana bahkan mendekati lusuh dan compang-camping, yang (hanya) belajar dan jika berujar selalu sulit untuk dipahami. Atau, orang dengan karisma tertentu yang memukau kita.
Tepatkan gambaran itu? Mungkin saja, tapi juga dalam banyak bergaul atau membaca beberapa riwayat saya tidak mendapatinya demikian.

Baca juga:  Peluncuran Buku Syarah Al-Hikam Karya Ulil Abshar Abdalla

Saya kira ada pandangan umum bahwa seseorang yang menjalani jalan ini harus melewati suatu proses inisiasi yang biasa disebut baiat, yg secara sederhana bisa dimaknai perjanjian. Ikatan yang menandai hubungan guru dan seorang murid. Dikatakan, “Barangsiapa tak memiliki guru, maka gurunya adalah syetan.”

Syekh Ragip menyebutkan bahwa ada beberapa model “pertemuan”, hingga seseorang masuk ke dalam dunia “persahabatan” para sufi. Ada yang ditandai dengan mimpi terlebih dahulu, ada yang melalui pertemuan tak disangka-disangka tanpa dihajati sebelumnya, dan ada yang melewati perjalanan panjang pencarian, dan seterusnya.

Dzunnun al-Mishri ketika diminta menjelaskan orang-orang seperti ini menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang terusir dari rumahnya dengan dipenuhi kekhawatiran dan kecemasan… Pikiran mereka cemas dalam mencari Tuhan dan hati mereka terbang ingin menemui-Nya.”

Penjelasan selanjutnya menandai gambaran klasik tentang para sufi yang diketahui secara umum. Padahal dalam kenyataan hari ini, gambaran seperti “makanan mereka adalah tumbuhan kering dan minuman mereka adalah air yang murni”, “mereka berbahagia dalam firman Yang Mahapengasih dan meratapi dosanya dengan dukacita seperti jeritan merpati”, “mereka mencari perlindungan di gurun dan lembah pegunungan”, dst, terlalu absurd bagi kebanyakan kita hari ini.

Dalam kenyataannya, orang-orang seperti itu ada. Bahasa Dzunnun yang “indah” dan “absurd” akan lebih mudah dipahami jika kita telah masuk ke dalam lingkaran persahabatan abadi dimaksud. Dan untuk itu tampaknya, jika seseorang mengidam-idamkannya, hidayahlah yang akan memudahkannya. Saya diberi tahu untuk mudahnya, banyak-banyaklah berselawat setiap hari.
Wallahul musta’an.

***

Dalam wirid sehari-hari kalangan tarekat biasa mengawalinya dengan pernyataan atau doa, “Ilahi anta maqsudi waridhaka mathlubi, a’thini mahabbataka wama’rifataka.” Wahai Tuhanku Engkaulah tujuanku dan ridha-Mu lah yang kuminta, berilah aku mahabbah dan makrifah-Mu.

Mahabah dan marifah, atau cinta dan pengetahuan, adalah konsep “kedekatan” (penghambaan) dengan Tuhan yang mulai populer seiring pertumbuhan tasawuf awal, pada masa Hasan al-Basri, Rabiah al-Adawiyah, dan Abu Yazid al-Bustami.

Cinta yang bergelora adalah puncak penghambaan yang feminin khas Rabiah, dan terus mengalir dalam sajak-sajak Rumi dan para pengikutnya hingga beberapa abad kemudian. Sedangkan ma’rifah menjadi maksud dari setiap sufi yang bersifat maskulin, dari Dzunnun, Abu yazid, Junaid al-Bagdadi, terus ke masa Ibnu ‘Arabi, dst. Keduanya berkitaran di dalam sifat-sifat Ketuhanan yang Rahman, Rahim, Jamal, Jalal, Kamal, ‘Alim, dan lain sebagainya.

Para sufi berharap dapat mendekat kepada Allah sedekat-dekatnya. Bahkan lebih jauh, “menyatu” dengan Tuhan atau dengan sifat Ketuhanan yang ada. Inilah yang kemudian dengan mudah disalahpahami orang-orang yang tak pernah bersentuhan langsung dengan dunia para sufi, kecuali melalui teks-teks yang memang sulit dimengerti secara harfiah.

Sifat hiperbolik sastra memang kadang lebih banyak terlalu absurd bagi orang awam. Metafora yang diambil secara personal, melalui pengalaman spiritual yang bersifat individual, sering membolak-balikkan posisi subjek dan objek secara bergantian, sehingga yang mendekati dan didekati seolah-olah figur yang sama. Padahal dalam perjalanannya, setiap salik selalu mengandaikan jarak yang harus ditempuhi secara sungguh-sungguh.

Sungguh tak mudah menepiskan jarak, kecuali setiap yang dicintai telah menjadi “subjek” yang hadir di mana-mana. Seperti Qais yang merasa sangat bahagia hanya dengan menciumi dinding rumah Laila.

Baca juga:  Karen Armstrong, Beragama Seharusnya Sebuah Kedamaian

***

Al-Taftazani membedakan tasawuf ke dalam dua aliran: tasawuf Suni dan tasawuf Falsafi. Tasawuf Suni mendasarkan pemikirannya pada Alquran dan sunah, sedangkan yang Falsafi mengemukakan teori tentang ‘wujud’ dengan capaian intuisi dan pemahaman yang bercorak filsafat. Tokoh-tokohnya, menurut Taftazani, al-Qusyairi dan al-Ghazali dalam kecenderungan yang pertama, dan Suhrawardi (al-Maqtul), Ibnu Arabi dst pada kecenderungan kedua.

Bagi sebagian ahli yang lain, tasawuf Suni dalam pengertian di atas biasa juga disebut tasawuf Akhlaqi, artinya tasawuf yang membahas soal-soal berkaitan dengan akhlak. Menurut mereka tasawuf adalah “taghyirul khuluqi min al-syarri ila al-khairi“. Berubahnya akhlak dari yang buruk menjadi baik. Sedangkan tasawuf falsafi kadang juga disebut ‘Irfan, pengetahuan intuitif tentang kebenaran atau makrifah.

Dalam kenyataan hari ini ada dua kecenderungan sikap terhadap tasawuf. Yang pertama mengkajinya sebagai (objek) ilmu yang membentangkan sejarah peradaban Islam sejak abad ke-2 hijriah, tokoh-tokoh dan pemikirannya, dan transformasinya dari zaman ke zaman. Yang kedua menggelutinya dengan amalan, menjalani suluk melalui bimbingan guru dengan menyingkap setiap maqamat dan ahwal yang memang harus dialaminya.

Secara praktis di lapangan saya menemui pola-pola tertentu hasil bimbingan “guru”. Dan tak sedikit yang saya temui sejak saya bersentuhan secara langsung dengannya kurang-lebih 13 tahunan yang lalu, yang memulai pembicaraan dengan pertanyaan-pertanyaan yang terpola. Tentang hakikat Tuhan, manusia, alam dan amal keseharian.

Pertanyaan-pertanyaan ini sudah disiapkan jawabannya sebelumnya dan bersifat menguji.
Hanya saja yang mungkin tak banyak mereka tahu, dari yang berpola semacam ini, pengetahuan mereka itu adalah wujud teoretis dari pemikiran falsafi yang menurut Taftazani mulai marak sejak abad ke-6 dan 7 hijriah atau 12-13 masehi.

Memang tekanan mereka pada “pengetahuan” hakiki itu mereka sebut yang terimplementasi pada praktek langsung, sehingga istilah “teori” sering dicibir seperti dalam iklan sampo zaman dulu, “ah, teori!”.
Yang dilupakan, karena abai atau memang tak paham sistematika keilmuan, adalah teori itu sendiri pada dasarnya bersandar pada sejumlah fakta dan analisis (pengalaman).

Tidak sedikit sufi-sufi besar yang juga ahli dalam teori. Al-Qusyairi, al-Ghazali, Sukhrawardi, bahkan yang terkini al-Taftazani (juga seorang syekh tarekat) dan Syekh Hisyam Kabbani, adalah penulis dan ahli di bidang bersangkutan. Mereka menulis sejarah, pemahaman tasawuf, pembicaraan tokoh-tokoh sufi, dan mereka juga pengamal tasawuf, bahkan mereka adalah guru besarnya (mursyid).

Baca Juga

Dalam sebuah tayangan, Syekh Hisyam yang diterjemahkan Habib Novel al-Aydrus penyampaiannya, mengatakan, “Ilmu bukanlah yang tertulis dalam lembaran-lembaran kertas itu, melainkan yang dititipkan Tuhan ke dalam ruhani orang-orang saleh, yang dipilih Allah, melalui sinaran baginda Nabi Saw.” Kurang-lebih demikian perkataan beliau.

Suatu ketika Nabi Zakaria masuk ke dalam mihrab Maryam dan menemui makanan yang tak umum ada di sana. Ia bertanya kepada Maryam, dari manakah ini?

Dijawab, ini adalah pemberian dari sisi Allah. Maka ketika itulah Zakaria berdoa, di tempat itu, dengan sepenuh permintaan akan anak yang saleh. Dan doanya dikabulkan dengan mendapatkan anak di usianya yang sudah sangat tua itu.

Setiap tempat ada orang terpilih yang menempati, lalu bagaimana dengan suatu tempat yang di sana Nabi Saw mengambil tempat, bagaimana mungkin doa-doa tak dikabulkan di sana? Demikian kata Syekh Hisyam.

Maka sebenarnya, pemahaman yang kita anggap teoretis dan praktik tasawuf itu mengambil tempat yang sama, dalam kenyataannya. Keduanya dijalani secara berjenjang dari satu maqam ke maqam yang lain, melalui satu hal ke hal yang lain, dan tentu saja dengan bimbingan yang benar. Meski kebenaran itu adakalanya nisbi bagi sebagian orang.

Baca juga:  Kontroversi Tarekat, Mursyid dan Peran Sosial-Politiknya

Banyak-banyaklah berselawat, bro! Berkah hidupmu, dan semoga rahmat Allah senantiasa bersama kita. Wal ‘iyadzu billah.

***

Ada banyak pengalaman spiritual yang membuat orang takjub, pada dirinya atau orang lain. Takjub itu sendiri kemudian menjadi hijab bagi dirinya, kesadaran terbungkus pada kesadaran saat itu saja, dan membuatnya lupa pada perihal yang lain.

Al-Qusyairi menjelaskan sikap al-Wasithi yang menegur sekelompok salik, “Hendaknya mereka menjaga diri dari posisi takjub yang membuat mereka, bukannya menaiki maqam yang semestinya, malah mengarah ke penyimpangan atau menyiratkan keteledoran. Yang demikian menandakan cacat dalam adab.
Dalam wacana pengalaman spiritual para sufi ada yang dinamakan maqamat (jamak dari maqam) dan ahwal (jamak dari hal). Maqam adalah posisi atau kedudukan spiritual yang bersifat tetap dan berjenjang, sedangkan hal adalah keadaan tertentu yang bersifat sementara—seorang syekh bahkan mengatakan kondisinya seperti kilatan, sebentar menempati kalbu lalu hilang.
Namun ada hal yang bersifat menetap, “terpelihara” dalam diri seseorang, naik secara lembut ke tahap ihwal seterusnya. Seseorang seperti ditarik (jadzbah) ke dalam kesadaran spiritual yang terisolir dari lingkungan sekitarnya. Sikap dan keadaannya menjadi aneh bagi yang lain.

Dalam pandangan tasawuf manusia memang bukan sekadar struktur badan dan bangunan yang jelas terindera, namun juga terdiri dari kesadaran ruhaniah yang tak hanya bersifat psikis namun lebih dalam lagi. Spiritual atau maknawi. Makna juga berkaitan dengan kesadaran intelektual sekalian imajinal (khayali).

Dalam perbincangan sehari-hari mungkin kita pernah mendengar seseorang tiba-tiba membuka pembicaraan tentang hakikat diri. Dulu di depan gang Setia Kawan Kelayan saya sering mendengar pernyataan seperti itu, yang bicara paman sendiri. Yang lain lalu menimpali. Persis, seperti timpakul yang melompat dari batang ke dahan atau kaleng kosong yang mengapung dan, bila salah lompat, tenggelam.

Ada juga orang yang merasa sampai pada maqam-maqam tertentu dan puas dengan keadaannya karena orang-orang menerimanya pada kondisi itu. Istilah “sampai” itu sendiri menakjubkan. Hijab yang membatasi, seperti tirai tipis yang membuat kita menebak-nebak gadis cantik di balik tirai yang tengah “dirindui”.

Kilatan-kilatan praduga itu adalah khawathir (jamak dari khatir) yang adakalanya membingungkan.

Al-Qusyairi memberikan rambu-rambu, bila bisikan (khatir) itu sesuai dengan pengetahuan maka ia datang dari malaikat. Jika mengundang kemaksiatan, ia datang dari setan. Dan jika mengajak pada menuruti syahwat atau takabur, ia datang dari nafsu. Dan jika datang dari al-Haqq, sama sekali si hamba tidak dapat menentangnya.

Namun dalam kondisional tertentu yang demikian di atas tak mudah membedakannya, apalagi ia seorang awam. Tahukah ia tarikan nafsu, waswas manusia dan setan, ilham para malaikat?

Saya pribadi tak tahu. Dalam kondisi kita mengayuh perahu di sungai yang panjang, adakalanya tarikan arus begitu kuat sehingga kita berjuang sedemikian rupa, dan adakalanya arus tenang melenakan kita lalu sabetan buntut buaya menjatuhkan kita. Tenggelam, hilang, cacat dalam adab yang sesungguhnya.

Bertanyalah pada guru yang tulus, karena para sufi bilang seorang salik yang tak berguru maka setan-lah gurunya. Berselawatlah pada baginda Rasul, berselawatlah. Sungguh Allah sebaik-baik pemberi pertolongan.

Lihat Komentar (1)

Komentari

Scroll To Top