Sedang Membaca
Gus Sholah Bangun Kerja Sama Bahasa antara Tebuireng-Gontor
Penulis Kolom

Guru di bidang "Bahasa Asing" di Pesantren Tebuireng

Gus Sholah Bangun Kerja Sama Bahasa antara Tebuireng-Gontor

1 A Gus Sholah

Pertama kali bertemu Gus Sholah adalah ketika aku menginjakkan kakiku di pesantren Tebuireng Jombang pada tahun 2007. Aku datang ke Tebuireng mengemban amanah dan tugas dari Pengasuh Pesantren Gontor, KH. Abdullah Syukri Zarkasyi. Saya tidak mengerti persis bagaimana perbincangan antara pengasuh Gontor dan pengasub Tebuireing ini, namun yang jelas, Kiai Abdullah menugaskanku berkhidmah dan membantu Pesantren Tebuireng dalam bidang bahasa.

Beliau menyambutku dengan penuh kehangatan dan semangat, di kantor Pesantren Tebuireng dekat dengan “Rumah Dalem Kasepuhan”. Beberapa waktu kemudian beliau mengenalkanku kepada seluruh dewan guru dan pembina Pesantren Tebuireng. Kami berkumpul di Masjid Ulul Albab, masjd di lingkungan pesantren.

Banyak kisah berjumpa dengan beliau, mulai dari ikut menemui tamu hingga melihat sendiri bagaimana cucu Mbah Hasyim ini begitu telaten memperhatikan detail-detail pekerjaan. Pemandangan beliau memungut sampah-sampah dengan tangannya di halaman pesantren atau di sudut-sudut rumah adalah hal yang biasa. Beliau adalah mendidik ribuan santrinya dengan praktik-praktik hidup.

Jarang sekali beliau meninggikan suaranya, karena ketidakcocokan atau kesalahan. Namun, pada suatu waktu dalam proses laporan tentang progres kegiatan bahasa pada tahun 2008. Waktu itu, Gus Sholah memanggil pengurus pondok dan hampir dimarahi karena tidak mengetahui progress program bahasa di Tebuireng. Si pengurus ini memang bukan pelaksana program bahasa, jadi tidak mengerti. Gus Sholah meminta maaf tanpa ragu. Yang menggelikan, Gus Sholah lupa bahwa sayalah penanggung jawab program bahasa ini. Saya memaklumi, beliau sibuk, banyak urusan. Jadi sangat wajar jika lupa.

Baca juga:  Ilmuwan Muslim Cum Musisi (2): Al-Kindi, dari Menciptakan Instrumen hingga Merumuskan Bunyi

Kemudian teman-teman pengurus mengundang saya untuk menjelaskan laporan kegiatan bahasa. Saya menjelaskan progres kegiatan bahasa dengan menunjukkan video kegiatan kebahasaan. Setelahnya, beliau tersenyum tanda puas dan menerima laporan. Beliau menunjukkan antusiasme dan perhatian program bahasa.

Yang saya pahami waktu itu, beliau benar-benar menginginkan progres kemajuan SDM terutama bagi santri yang tidak hanya dalam bidang agama dan prestasi belajar saja tapi juga bekal masa depan. Menurut Gus Sholah, “Penguasaan bahasa asing (terutama Arab dan Inggris) adalah kunci santri dalam menghadapi tantangan global dan kemajuan teknologi”.

Hal ini menunjukkan bahwa beliau memiliki vision jauh ke depan bahkan sebelum adanya revolusi Industri 4.0 yang sekarang ini sedang ramai, yang kuncinya adalah penguasaan soft skills, bahasa asing, dan karakter mental yang baik bagi generasi bangsa.

Suatu ketika, pasca selesai laporan kegiatan bahasa, beliau secara pribadi meminta kami untuk bisa menyediakan waktu khusus bagi beliau dan istri dalam belajar bahasa Arab secara lisan.

Setelah mendengar permintaan tersebut, saya mencoba untuk mengiyakan walaupun dalam benak saya ada perasaan canggung dan sungkan. Rasanya malu untuk menolak permintaan tersebut walaupun dalam pelaksanaan terganjal waktu dan kesibukan beliau yang begitu padat.

Namun justru hal itu seperti lecutan cemeti yang membakar semangat saya untuk mengembangkan penggiatan bahasa asing (Arab dan Inggris) di pesantren Tebuireng. Bagaimana tidak, beliau yang sudah sepuh tapi tetap mau belajar dari kami yang muda. Sungguh menunjukkan kerendahan hati serta semangat belajar yang luar biasa.

Baca juga:  Obituari: Menapaktilasi Kehidupan Kiai Fu'ad Mun'im Djazuli

Pada tahun 2018 lalu, setelah beberapa waktu kegiatan bahasa kendur untuk seluruh unit pendidikan di pesantren Tebuireng, beliau kembali menyemangati kami untuk menggiatkan kegiatan bahasa yang untuk tahun itu lebih fokus di bahasa Inggris. Di samping karena tuntutan dalam menghadapi revolusi Industri 4.0 juga karena memang beliau memandang perlu pembekalan intensif terutama untuk guru dan santri agar dapat bersaing secara internasional.

Kini, di tengah ruwet dan carut marutnya dunia saat ini, sosok yang selalu bijak dan semangat dalam kemajuan itu telah pergi, menghadap Dzat Yang Maha Agung lagi Maha Pengasih dan Penyayang. Semoga teladan dan sosok beliau menjadi inspirasi bagi kita semua untuk selalu bijak dan berpikiran maju dalam menghadapi perkembangan zaman ini.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
1
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top