Sedang Membaca
Sarung dan Peci Hamka; Sebuah Potret Lama

Sarung dan Peci Hamka; Sebuah Potret Lama

Ahmadul Faqih Mahfudz
Sarung dan Peci Hamka; Sebuah Potret Lama

Rabu malam, 1 November 2017, saya datang ke acara pembukaan pameran fotografi Kompas, “Unpublished”, yang digelar oleh desk foto Harian Kompas, di Gedung Museum Bank Indonesia, Jl. Panembahan Senopati, Yogyakarta.

Acara yang dibuka oleh wakil pemimpin redaksi Kompas, Trias Kuncahyono, itu memajang foto-foto karya fotografer Kompas yang tidak dipublikasikan di koran dengan sejumlah alasan etik jurnalistik yang dipegang Kompas.

Setelah acara dibuka, lalu pintu gedung peninggalan kolonial itu dibuka, saya masuk, melangkah pelan-pelan, mengamati satu per satu foto di dalamnya. Namun, di antara puluhan foto yang dipajang malam itu, hanya ada satu foto yang membetot mata saya; menyita pandangan saya. Cukup lama saya memandanginya.

Di dalam foto hitam-putih itu, Haji Abdul Malik Karim Amrullah, sastrawan sekaligus ulama Indonesia asal Sumatera Barat yang masyhur dipanggil dengan singkatan namanya, HAMKA, terlihat duduk dengan posisi bagai orang bertasyahud dalam salat sambil bersandar ke dinding, di ruang tamu rumahnya.

Di dinding yang ia sandari, terpaku sehampar karpet  bergambar tiga masjid bersejarah: Masjid Al-Haram, Masjid Al-Aqsha, dan Masjid Nabawi; oleh-oleh khas orang Indonesia ketika pulang dari berhaji. Juga tampak foto seorang lelaki, mungkin Haji Rasul, ayahnya.

Kalau tak salah, foto ini karya fotografer senior Kompas: Kartono Riyadi. Terlalu asyik memandang, saya kurang memperhatikan siapa fotografernya, bahkan lupa melihat tahun berapa sang fotografer membidiknya dengan kamera.

Baca Juga
Sarung Samarinda dan Kitab Beirut 3

Saya selalu bahagia melihat tokoh, agamawan lebih-lebih bukan, memakai sarung dan peci hitam, atau lebih sering disebut peci nasional. Tidak karena terlihat religius, tapi karena terlihat lebih santai, dan lebih Indonesia.

Foto itu, tiba-tiba melesatkan ingatan saya ke puluhan tahun silam, saat begitu arifnya Hamka menerima Daniel Setiawan, calon menantu Pramoedya Ananta Toer, untuk masuk Islam. Padahal, di zaman itu, Pram dan Hamka sedang berada dalam pusaran konflik karena perbedaan paham politik. Tapi Hamka, seakan tidak pernah merasa bermusuhan dengan Pram. Hingga Pram pun berkata:

“Aku lebih mantap mengirim calon menantuku untuk diislamkan dan belajar agama kepada Hamka, meski kami berbeda paham politik.”

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top