Sedang Membaca
Gong Xi Fat Cai, Gus Dur
Penulis Kolom

Bekerja sebagai editor di penerbit Turos Pustaka. Alumni di Al-Azhar Kairo. Kini tinggal di Jakarta.

Gong Xi Fat Cai, Gus Dur

Menteri Agama Fachrur Razi menyatakan kekagumannya saat berkunjung ke Dubai, Uni Emirat Arab (UEA) beberapa hari lalu. Takjub, lantaran melihat Dubai gopoh berdandan, demi menyambut pesta Imlek 2020. Pesta Imlek terbesar di luar negeri Tirai Bambu.

“Jadi kalau orang yang pemikirannya merengmereng (miring) agak bingung juga, ‘Loh kok di negara Arab, Islam lagi kok tulisan Cina, lagunya lagu Cina.’ Nah itulah dia mereka menghormati orang, menghormati agama, mereka mau mendekati Imlek ya dipasang lagu Cina,” jelasnya, Detikcom (16/1/2020)

Sejak awal 2020, Dubai sudah sibuk bersolek, terkait perayaan Sin Chia. Tak hanya melibatkan warga expatriat Cina yang tinggal di Dubai, bahkan Marching Band dari Kepolisian Dubai pun ikut terlibat.

Pesta tahunan ini tak lagi milik negara Cina sendiri. Kini warga dunia pun bisa menikmati meriahnya hajatan yang identik dengan warga Tionghoa ini. Dikutip dari Kumparan.com, acara di Dubai ini akan dimeriahkan oleh 40 grup penampil. Jalan-jalan akan dihiasi dengan lampion, warna merah jadi yang paling dominan di Dubai dalam satu bulan ini.

Dubai memang tak tanggung-tanggung dalam menarik wisatawan asing untuk mampir. Salah satu Direksi Hala China menyatakan, acara ini diharapkan mampu menyedot sekurangnya 50 ribu turis dari Tiongkok ke UEA. Selain itu juga memang untuk memanjakan 150 ribu warga Cina yang menetap dan bekerja di sana.

Turis berarti devisa, dan hubungan baik berarti ada dirham di antara mereka. Pada 2019, sebanyak 680 izin bisnis baru dikeluarkan UEA untuk perusahaan Cina. Nilainya kurang lebih 250 dirham, setara Rp928 triliun uang kita. Jumlah itu lebih banyak dari biaya perpindahan ibu kota baru ke Kalimantan.

Cina merupakan rekan dagang terbaik UEA, Euronews menyatakan bahwa negara Tirai Bambu ini merupakan rekan dagang UEA terbesar kedua, serta menjadi sumber impor UEA paling besar. Untuk mengencangkan jalur sutra abad 21, Negara Teluk adalah kata kunci bagi Cina. Maka tak heran, perayaan terbesar Imlek di luar Cina ada di Dubai.

Cerita berbeda, lebih nyentrik, memanusiakan manusia, tanpa yuan maupun dirham: Gus Dur punya konsep menghargai budaya Cina, sebagai bagian dari keragaman. Bukan sebagai mata uang.

17 Januari 2000, di Indonesia

Baca juga:  Etika Bisnis Syariah Perspektif Musa Asy’ari

Tanpa pikir panjang, Gus Dur langsung bilang “oke” soal perayaan Imlek setelah 33 tahun dilarang dirayakan di tempat umum. Mendengar kata ajaib itu, Sekertaris Dewan Rohaniawan Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia, Budi Tanuwibowo kaget bukan kepalang.

“Waktu itu, kami ngobrol sambil berjalan mengelilingi Istana. Gus Dur lalu bilang, oke, Imlek digelar dua kali, di Jakarta dan Surabaya untuk Cap Go Meh. Kaget juga saya,” kata Budi, dikutip dari harian Kompas (7/2/2016).

Mengenai Inpres No. 14/1967, Gus Dur dengan enteng bilang “Gampang, Inpres saya cabut.” Gus Dur sendiri pernah mengaku sebagai keturunan Cina. Bagi cucu KH Hasyim Asy’ari ini, konsep kebangsaan tidak mengenal dikotomi antara pribumi dan non pribumi.

Instruksi Presiden (Inpres) itu bernada khawatir. Dengan pertimbangan, “Bahwa agama, kepercayaan dan adat istiadat Cina di Indonesia yang berpusat pada negeri leluhurnya, yang dalam manifestasinya dapat menimbulkan pengaruh psychologis, mental dan moril yang kurang wajar terhadap warganegara Indonesia sehingga merupakan hambatan terhadap proses asimilasi, perlu diatur serta ditempatkan fungsinya pada proporsi yang wajar.”

Inpres itu menyisakan banyak pertanyaan, apa pula yang disebut dengan “menghambat proses asimilasi”? 

James Dananjaya menyebut bahwa akibat indoktrinasi yang dilakukan dengan sistematis tersebut, kebanyakan orang Tionghoa yang patuh pada politik pemerintahan Orde Baru, dengan sadar atau dengan tidak sadar, telah berusaha melupakan jati diri etnisnya sendiri, sehingga terjadilah autohypnotic amnesia, dalam “Imlek 200: Psikoterapi untuk Amnesia Etnis Tionghoa,” Tempo (14/2/2000).

Dengan melibatkan Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri, serta Badan dan Alat pemerintah di Pusat dan Daerah, Inpres ini dijalankan dalam kurun waktu yang cukup lama. Pada poin kedua, Inpres yang terbit pada 6 Desember 1967 itu berbunyi, “Perayaan-perayaan pesta agama dan adat istiadat Cina dilakukan secara tidak menyolok di depan umum, melainkan dilakukan dalam lingkungan keluarga.”

Tidak hanya bilang “oke”, atas pertimbangan hak asasi manusia, Gus Dur mengeluarkan Perpres Nomor 6 Tahun 2000. Pada poin kedua juga, Perpres itu menganulir yang telah ada, “Dengan berlakunya Keputusan Presiden ini, semua ketentuan pelaksanaan yang ada akibat Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina tersebut dinyatakan tidak berlaku.”

Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 17 Januari 2000, oleh Presiden Republik Indonesia, Abdrurrahman Wahid, yang juga dinobatkan sebagai “Bapak Tionghoa Indonesia” di Kelenteng Tay Kek Sie pada 10 Maret 2004.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top