Sedang Membaca
Martin van Bruinessen Buka Rahasia Gus Dur di Depan Bu Sinta Nuriyah
Fachry Ali
Penulis Kolom

Pengamat Politik

Martin van Bruinessen Buka Rahasia Gus Dur di Depan Bu Sinta Nuriyah

1 Fachry

Karena banyak permintaan, cerita Kiai Abdurrahman Wahid atau Gus Dur saya tambahkan sedikit. Sebenarnya, walau mungkin hanya empat hari, Martin van Bruinessen turut menginap di rumah saya di Clayton, Melbourne.

Saat Martin sedang pergi, Gus Dur memuji tinggi kesarjanaan ahli asal Belanda ini. “Martin adalah scholar sejati,” kata Kiai Wahid. Saya suka-suka menyebut cucu pendiri NU ini, kadang Gus Dur, lain waktu Kiai Wahid (padahal ini nama ayahandanya), atau dalam forum-forum yang agar formal saya sebut Pak Abdurrahman atau Pak Dur. Usia Gus Dur dengan saya terpaut jauh, saya lebih mudah 15-an tahun.

“Dia bukan saja menguasai bahasa Arab. Melainkan juga bahasa Kurdi,” kata Gus Dur, memuji Pak Martin, yang usianya 10an tahun di atas saya.

Dalam kesempatan itu, saya mengajak keduanya ke bukit Dandenong. Herbert Feith, dengan mobil tuanya, ikut bergabung. Sementara saya membawa Kiai Wahid dan Martin Bruinessen, Herbert Feith menyupiri lainnya.

Sampai di puncak bukit, kami berhenti di sebuah restoran. Pemandangan indah dengan Melbourne tampak di bawah tidak sempat dinikmati. Sebab, Herb mempromosikan roti sebuah negara Eropa yang paling enak. Saya melirik kepada Martin Bruinessen. Sebab, bukankah ia juga orang Eropa —sama dengan Herb?

Baca juga:  Tahun 1986, Gus Dur Menulis Humor Berisi Plesetan Maskapai Penerbangan

Maka, dengan penuh empati saya bertanya kapada pelayan dengan suara keras: “Do you have Dutch bread?”

Serta merta, Martin berteriak sama kerasnya: ‘No!’

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Rupanya ia tidak ingin masuk dalam persaingan mana roti paling enak.

Tapi, Kiai Abdurrahman Wahid, awal 1990-an itu agak gemuk. Mbak Siti Nuriyah mewanti-wanti agar sang kiai jangan banyak makan. Hanya, semua kami makan dengan lahap siang itu, termasuk Kiai Abdurrahman Wahid.

Ketika sarapan pagi, kami semua sarapan di dapur. Mbak Siti Nuriyah tentu menjatah makanan Kiai Abdurrahman Wahid. Tiba-tiba, Martin van Bruinessen buka rahasia. Dengan mengalihkan wajahnya kepada Kiai Abdurrahman Wahid, Martin berkata: “Di luar dia makan banyak sekali.”

Spontan Kiai Wahid menyanggah, “Enggak kok!”

Mbak Nuriyah “marah”. Redaksi kalimatnya saya lupa. Tapi, jelas sang Mbak yang kalem ini “mengomeli” Kiai Abdurrahman Wahid.
Bukan saja sebagai tuan rumah, saya adalah yang paling yunior di antara raksasa-raksasa ini. Maka, saya hanya tak berkata apa-apa.

Hanya saja, dalam hati, saya menikmati juga pemandangan bagaimana Kiai Abdurrahman Wahid hanya bisa diam, ketika diomelin Mbak Siti Nuriyah.

Mahal sekali pemandangan dan pengalaman ini ‘kan? Pernah bayangkan seorang scholar taraf dunia seperti Martin van Bruinessen mengadu kepada Mbak Siti Nuriyah tentang Kiai Wahid yang makan terlalu banyak? Pernah bayangkan Kiai Wahid duduk tenang di-omelin Mbak Siti Nuriyah?

Baca juga:  Bila Gus Dur Menulis Habib Kwitang
Apa Reaksi Anda?
Bangga
2
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
1
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top