Menyelisik Alquran Litografi Pertama di Dunia Asal Palembang

M. Fauzi Sukri

Dalam kolofon Alquran litografi (cetak dengan teknik cap batu) ini tertulis, “Sebermula adalah mengecap Alquran al-‘Azim ini di atas paris lithographique yakni di atas impitan kayu batu dengan khat suratan fakir ila Allahi ta’aala al-Haji Muhammad Azhari bin Kemas al-Haji Abdullah, Palembang nama negerinya, Syafi’i mazhabnya, Asy’ari iktikadnya, Junaidi ikutannya, Sammani minumannya.”.

 

Alquran litografi itu selesai pada Senin 21 Ramadhan 1264 H atau 21 Agustus 1848 M. Adopsi teknologi litografi itu hanya butuh sekira 30-an tahun sejak Alois Senefelder menemukan dan mempopulerkannya di Eropa pada 1806-1817. Sungguh sangat jauh lebih cepat diadopsi daripada penemuan termasyhur Johann Gutenberg (teknik cetak tipografi) pada 1455 M namun baru diadopsi sekira akhir abad ke-19 (Proudfoot, 1998).

Setelah 5 abad, baru umat Islam mau menggunakan teknologi cetak tipografi, dengan berbagai pertimbangan yang sering diperumitkan. Sudah sejak penemuan Gutenberg, khususnya para penguasa politik dan sebagian besar ulama melarang menggunakan teknologi kaum kafir. Kita ingat, bahkan pakaian berpotongan ala Eropa saja umat Islam sering bersikap sengit.

 

Penyebutan berbagai atribut lokasi, mazhab fikih, aliran teologi, sekte sufi dalam kolofon cetak pertama Alquran itu adalah sebagai penguatan dan bantahan terhadap berbagai kemungkinan fatwa larangan. Apalagi teknisi ahli litografinya adalah Ibrahim bin Husain, salah satu murid Abdulah bin Abdul Kadir Munsyi—bapak percetakan Melayu Islam—yang secara sembrono sering dituduh sebagai antek kolonial Inggris dan misionaris Protestan. Kolofon dengan berbagai atribut keislaman dan keimanan itu, sangat mungkin, sebagai penangkal fatwa sengit bernuansa fobia teknologi Eropa.

 

Pada bagian berikutnya, Muhammad Azhari dengan bangga yang disamarkan menulis, “Maka adalah banyak bilangan Qur’an yang dicap itu seratus lima Qur’an [105]. Maka perhimpunan mengerjakan dia lima puluh hari, maka dalam satu hari dua Qur’an 3 juz…”

Azhari tampak ingin menunjukkan keampuhan teknologi litografi dalam kecepatan mencetak secara massal. Adalah suatu kemajuan pesat dan besar jika dibandingkan dengan hanya mengandalkan teknik tulis tangan seorang kaligrafer profesional.

 

Baca Juga:  Louis Massignon, Orientalis Dua Citra

Apalagi, teknik litografi bisa mencetak persis sama seperti teknik tulis tangan sehingga sesuai dengan selera umat Islam yang selama ini sudah terbiasa dengan teknik tulis tangan. Alquran cetak massal pertama kali di dunia itu, mendahului Kairo Mesir (1864) dan Mekkah (1883), dijual dengan harga f 25 yang membuat modal f 500 untuk membeli teknologi litografi kembali dan beroleh untung besar (Laffan, 2015).

 

Pada 1855 Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Masyarakat Batavia untuk Seni dan Ilmu Pengetahuan) mendapatkan kiriman cetakan Alquran dari Palembang itu—masih tersimpan sampai sekarang di Perpustakaan Nasional. Kiriman dari kontrolir Belanda (Dutch District Officer) begitu menggugah para sarjana di lingkaran sarjana Batavia itu. Mereka mengutus seorang sarjana, Von Dewall, untuk melihat secara langsung pencetakan Alquran dan diminta membuat memorandum.

 

Memorandum penuh kesan dan harapan Von Dewall yang diterbitkan jurnal kelompok sarjana itu pantas dikutip, “Mempertimbangkan betapa dahsyatnya revolusi dan betapa cepat perkembangan seni dan ilmu pengetahuan secara keseluruhan yang dibawa oleh gerbong percetakan buku di Eropa, kita bisa berharap bahwa usaha pertama percetakan oleh pribumi ini tidak akan gagal membawa banyak keuntungan untuk mencerahkan para penduduk pribumi kita.” Sungguh impian yang muluk. Sebagai seorang sarjana yang menikmati gagasan liberal Eropa, Von Dewall begitu antusias dan penuh harap pada teknik percetakan di tanah Hindia Belanda, sebagaimana teknik cetak (tipografi) membawa kemajuan dahsyat di Eropa. Namun Pemerintah Hindia Belanda sendiri mulai ketakutan dan akhirnya mengeluarkan peraturan yang melarang pribumi mempunyai media massa pada 1856 (Proudfoot, 1995).

 

Kita membayangkan, Von Dewall berimajinasi perihal teknologi cetak Gutenberg yang pertama kali digunakan mencetak Alkitab akhirnya menjadi alat sangat penting dalam penyebaran gagasan Martin Luther. Tanpa teknik cetak massal tipografi Gutenberg, gagasan teologi Protestan—yang secara umum sangat mirip teologi Islam—barangkali hampir mustahil disebarkan dan mendapatkan pengikut.

Baca Juga:  Pengaruh Ibnu Sina dalam Persalinan Modern

Apalah arti khotbah-lisan Luther agar orang-orang membaca sendiri Alkitab, jika hanya sangat segelintir elite agamawan saja yang mempunyai Alkitab. Jika memerintahkan membaca sendiri bagi tiap orang, Alkitab wajib tersedia untuk tiap orang. Menulis dengan tangan tentu tidak bisa memenuhi permintaan ribuan orang. Teknologi Gutenberg yang terus berkembang baik menjadi sangat penting. Tentu saja, salah satu jasa terbesar cetak tipografi Gutenberg adalah pengembangan sains dan seni sehingga Eropa menjadi pusatnya, mengambil alih dari kaum Muslim.

 

Namun, teknik tipografi (dengan bahan dasar timah untuk tiap huruf) yang mampu bisa mencetak secara massal jauh lebih banyak, tidak segera diadopsi umat Islam. Malah kemudian, teknik litografi yang disukai dan dipakai. Ini artinya, etos keilmuan yang diimajinasikan Von Dewall tidak berubah. Kita tahu, salah satu “paradigma membaca” yang berubah akibat tipografi (juga litografi dalam kadar tertentu) ialah membaca berbasis bunyi tersuarakan dengan keras dan dalam satu ruang-massal. Karena tiap orang bisa punya, memegang, bahkan membaca sendiri, membaca sewajarnya tidak membutuhkan penyuaraan yang keras.

 

Dalam masyarakat naskah yang sangat berbasis kelisanan, membaca adalah dengan disuarakan atau bahkan dilagukan agar orang yang tidak punya atau memegang kitab atau Alquran tetap bisa mendengarkan. Di pesantren yang masih mempertahankan tradisi pembacaan kitab ala naskah, kita mengenal sorogan (membacakan kitab di hadapan kiai) dan bandungan (dibacakan kitab oleh kiai). Di sini, membaca selalu bersamaan dengan otoritas keilmuan penuh sang kiai. Bahkan, hasil pembacaan si murid seakan tidak begitu penting. Yang paling penting adalah pengesahan kiai, hasil kesimpulan dan pemikiran kiai. Segalanya harus sang kiai yang terlebih dahulu.

Baca Juga:  Islam Struktural Vs Islam Kultural di Aceh

Semua ini tidak terjadi di sekolah modern apalagi perguruan tinggi. Tak ada dosen apalagi profesor yang mau dan bersusah payah membacakan kitab Ihya’. Justru, di tingkat master dan doktoral, mahasiswa ditantang untuk membaca sendiri, dengan segala paradigma membacanya, agar menemukan sesuatu masalah dan kesimpulan yang baru.

 

Dalam percetakan massal (tipografi) yang diharapkan adalah setiap orang membaca sendiri bukunya. Teks menjadi pusat dan fokus utama, tidak peduli siapa kiainya, tidak peduli siapa penulisnya. Di sini, membaca adalah proses dalam pikiran dan hati, seorang diri berhadapan dengan kitab, hampir setaraf dengan ikrar syahadat yang hanya si manusia dan Tuhan. Pengembangan penajaman pemikiran dan kepekaan berbahasa menjadi prasyarat yang perlu dikembangkan.

Itulah dasar pikir gagasan pembaharuan Islam yang bergemuruh sejak Muhammad Abduh mengobarkannya ke seluruh dunia muslim—bandingkan dengan paradigma ‘membaca literalisme’ dalam halaqoh kelompok radikal yang lebih menekankan suara sang imam daripada mendalami seluruh lingkup teks itu sendiri.

 

Akhirnya, jika melihat semua efek teknik cetak ini dari posisi mutakhir, kita masih belum mendapatkan hasil yang memuaskan. Bukan saja kita masih terlalu sebentar jika dibandingkan dengan di Eropa. Perkembangan politik kenegaraan, modernisasi lembaga pendidikan Islam, dan khususnya kekalahan politik bahasa Arab sebagai bahasa keilmuan ternyata tidak cukup mendukung kemajuan dalam pemahaman kitab suci secara massal dan mencerahkan akal-hati.

 

Lihat Komentar (0)

Komentari