Sedang Membaca
Desing Peluru dan Pedal Sepeda Masomah Ali Zada
Penulis Kolom

Cerpenis, esais, dan kolumnis.  Menulis cerpen, kolom budaya, dan kritik buku di media-media nasional. Alumnus Pascasarjana Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Buku antologi cerpennya: LARAS -Tubuhku Bukan Milikku- (2005),  Lidah Sembilu (2006), Cinta di Atas Perahu Cadik–cerpen KOMPAS  pilihan 2007, (2008),  SMOKOL–cerpen KOMPAS  pilihan 2008, (2009) dan Juru Masak (2009), Anak-anak Masa Lalu (2015). Antologi esainya   Darah-Daging Sastra Indonesia (2010). Bermukim di Jakarta.

Desing Peluru dan Pedal Sepeda Masomah Ali Zada

Img 20210803 Wa0053

Film dokumenter Les Petites Reines de Kaboul, produksi Arte, stasiun TV Prancis 2016, memperlihatkan berbagai tantangan yang dihadapi oleh sejumlah perempuan dalam sebuah tim bersepeda di Kabul, Afghanistan. Masomah Ali Zada (25), atlet sepeda kontestan tim pengungsi Olimpiade Tokyo 2021, adalah bagian dari tim itu.

Ia mengenang pengalaman pahitnya sebagai pembalap sepeda perempuan di negaranya. Masomah pernah diancam, dihina, dilempari batu, saat mengendarai sepeda di jalanan kota Kabul. Serangan itu adalah upaya orang-orang di kota kelahirannya guna menghentikan Masomah dari kegemaran mengendarai sepeda.

“Pemilik toko di pinggir jalan melempar kami dengan sayuran. Saya pernah terkena kentang, apel, dan barang dagangan lainnya. Saat melihat kami melintas di jalan dengan sepeda, apa pun yang ada di tangan mereka, akan dilemparkan pada kami, sambil memaki dengan kata-kata sangat kasar. Sangat memalukan! Kadang-kadang kami merasa sangat malu, bahkan untuk menjadi seorang gadis,” ungkap Rukhsar Habibzai (22) kapten tim sepeda wanita Kabul, teman satu tim Masomah, sebagaimana dikutip Lizzy Davies di www.guardian.com (27 Juli 2021).

Para tetua di keluarga Habibzai (keluarga yang pindah ke Kabul sejak 2012), semula enggan, karena khawatir akan keselamatan Habibzai. Ketakutan semacam itu tentu dapat dimengerti, karena pengendara sepeda wanita sering mengalami pelecehan verbal dan fisik setiap mereka berlatih di jalanan. “Para laki-laki, terutama yang baru pertama kali melihat kami, akan melempari kami dengan batu, atau mereka akan menyenggol kami dengan mobil mereka,” kenang Habibzai lagi.

Sudah lama Habibzai membayangkan negara tumpah darahnya, Afghanistan, dapat menjadi tempat yang aman bagi perempuam seperti dirinya, terutama bagi yang menekuni olah raga bersepeda.

“Tetapi saya cukup yakin bahwa kelompok Taliban dan semuanya (kelompok) tidak akan pernah mengizinkan perempuan untuk belajar, bekerja, dan bekerja. Jadi, bagaimana mungkin mereka mengizinkan kami bersepeda? Mereka tidak akan pernah mengizinkan kami, dan hanya akan menembak kami,” kata Habibzai sambil tertawa sinis.

Hasil liputan Lizzy Davies mencatat, Habibzai (24) jatuh cinta pada sepeda sejak usia 9 tahun. Sebagai anak yang tumbuh di provinsi Ghazni yang bergolak di wilayah tenggara Afghanistan, entah bagaimana carannya, ia kemudian berhasil belajar bersepeda. “Itu memberi saya perasaan yang sangat menyenangkan bahwa saya cukup bebas, seolah-olah saya memiliki sayap untuk terbang, seolah-olah saya tidak memiliki rasa takut di bumi ini,” kata Habibzai.

Baca juga:  Tentang (Teman) Sefrekuensi

“Itu memberi saya, bisa saya katakan, makanan untuk jiwa saya. Sejak saat itu bersepeda menjadi bagian dari hidup saya…”

Terlepas dari semua masalah yang dialami tim sepeda perempuan di kota yang hampir binasa oleh perang itu, ketaksetujuan anggota keluarga dan pelecehan orang asing, olahraga bersepeda di kalangan perempuan Afghanistan semakin populer. Menurut penelusuran Lizzy Davies, hanya dari kelompok kecil satu dekade lalu, kini telah berkembang menjadi 220 kontingen perempuan dalam federasi bersepeda. Setidaknya ada tujuh tim provinsi dan kompetisi sepeda wanita tahunan diadakan di Kabul setiap musim panas.

Keterlibatan kaum perempuan dalam olah raga ini tidak serta merta karena mereka ingin menjadi bagian dari tim nasional, menurut Habibzai, mereka melakukannya untuk kesenangan, karena mereka bisa melakukannya.

Begitulah tidak mudahnya menjadi atlet sepeda di negara yang telah porak-poranda itu. Saat berkendara di jalanan kota Kabul, dari angkasa mereka bagai dikepung oleh desing peluru atau kepulan asap akibat ledakan bom bunuh diri, sementara di bawah, mereka terancam oleh pelecehan verbal dan fisik, caci-maki, hingga lemparan baru. Itulah sebabnya, untuk menggapai mimpi besar sebagai atlet sepeda, Masomah Ali Zada tak mungkin terus bertahan di Kabul. Menurut sebuah laporan mendalam berjudul Masomah Ali Zada; The Little Queen of Kabul yang tersiar di laman resmi www.olympics.com (6 Juli 2021), Masomah yang pernah ditabrak secara sengaja oleh seorang pengemudi mobil, termasuk ancaman dari orang-orang yang meyakini bahwa perempuan yang bersepeda adalah perempuan tidak bermoral, seperti yang dikisahkan film dokumenter di atas, rupanya membuat seorang pensiunan pengacara bernama Patrick Communal merasa terpanggil untuk menyelamatkan mereka dari situasi buruk itu.

Patrick berhasil menghubungi Masomah melalui Federasi Bersepeda Afghanistan lewat komunikasi di media sosial. Patrick menyurati federasi itu, dan memberitahukan bahwa Masomah Ali Zada dan saudara perempuannya Zahra telah diundang oleh Kedutaan Besar Prancis untuk ikut berkompetisi dalam sebuah turnamen sepeda perempuan di selatan Prancis, pada Hari Perempuan Internasional, 8 Maret 2016.

Baca juga:  Bom Mengerikan di Afghanistan dan Nalar Kekerasan dalam Islam

Setelah berjumpa dengan Masomah dan Zahra untuk pertama kalinya, Patrick mengatakan bahwa keduanya sedang berada di bawah tekanan komunitas mereka di Kabul, untuk segera menikah, dan segera berhenti menginjak pedal sepeda.

Selepas kejuaraan itu, Masomah kembali ke Kabul, lalu mengajukan permohonan visa kemanusiaan untuk keluarga, dan setahun kemudian dikabulkan. Patrick Komunal berhasil memperjuangkan suaka untuk keluarga Masomah, yang memungkinkan mereka untuk tinggal di Prancis secara permanen. Patrick menempatkan Masomah dan keluarganya di rumah liburannya di Brittany. Ia mendatangkan guru secara bergiliran untuk memberi mereka kelas bahasa Prancis. Frozan Rasooli, saudara Masomah yang lain, dapat mendaftar di Universitas Lille sebagai bagian dari program khusus untuk pengungsi. Masomah sendiri saat ini berada di tahun kedua sebagai mahasiswi teknik sipil dan berkompetisi dalam turnamen sepeda di Prancis utara.

Pada tahun 2019 Masomah sempat berbicara di Kongres Asosiasi Olahraga Internasional (AIPS) 2019 di Lausanne tentang upayanya menjadikan olah raga bersepeda (bagi perempuan) sebagai hal biasa di negara asalnya.

Di tahun yang sama, tepatnya pada bulan Juni, Masomah dianugerahi Beasiswa Atlet Pengungsi yang memberinya biaya perjalanan untuk bertanding di Prancis dan luar negeri, dan di situlah gadis anggun yang menghabiskan masa kanak-kanak di Iran (mengungsi dari Kabul), berkesempatan menjadi bagian dari Refugee Olympic Team di Tokyo 2021. Alhasil, pada Juni 2021, ia terseleksi sebagai salah satu dari 29 atlet yang akan mewakili ROT untuk Olimpiade Tokyo 2021.

“Adalah tanggung jawab saya untuk mencoba bekerja, demi hak-hak perempuan di Afghanistan dan untuk semua negara di mana orang berpikir bahwa perempuan tidak punya hak sebagai pengendara sepeda,” kata Masomah sebagaimana dikutip oleh Kirsten Frattini di www.cyclingnews.com (28 Juli 2021). Nomor Woman Individual Time Trial berjarak tempuh 22 km yang telah diikuti Masomah Ali Zada pada Rabu (28 Juli 2021), memang tidak berhasil ia menangkan, namun tampil di turnamen kelas dunia tampak seperti kemenangan besar bagi Masomah, terutama kemenangan dalam melawan kaum yang selama ini berpikir bahwa wanita tidak pantas bersepeda.

Baca juga:  Sebagai Lelaki, Saya Sangat Tersinggung

“Itu sangat bagus, ini percobaan pertama saya, Olimpiade pertama saya. Sebagai pengalaman pertama, saya sangat senang karena saya bekerja untuk itu dan saya mencoba menggunakan semua pengorbanan selama beberapa bulan. Saya tidak menyesal,” kata Masomah pada Euro Sport setelah finish di Fuji International Speedway.

Bagi Masomah, tampaknya perlawanan atas kuasa yang senantiasa menghambat kebebasannya menginjak pedal dengan kepala berhijab, jauh lebih penting dari medali emas.

Di Tokyo, ia ingin membuktikan bahwa mimpi-mimpi besar yang hendak ia gapai sejak remaja tidak bisa lagi dihambat dengan lemparan batu, dan caci-maki di jalanan Kabul. Hari itu, seorang anak bangsa yang terbuang lantaran keinginan mengayuh kebebasan sampai jauh, tidak menyematkan bendera Afghanistan di punggung jersey-nya, tapi tertandai sebagai ROT alias tim perwakilan pengungsi.

“Saya sangat senang mewakili Tim Olimpiade Pengungsi karena saya akan mengirimkan pesan harapan dan pesan kedamaian bagi 82 juta orang yang harus meninggalkan negaranya karena alasan berbeda-beda,” kata Masomah.

“Saya sangat bangga padanya dan begitu juga semua anggota tim, dan kami sangat menantikan untuk menyaksikan balapannya dan melihat ia melakukan yang terbaik,” kata Zahla Sarmat, asisten Direktur Pengembangan Divisi Wanita Federasi Bersepeda Afghanistan sebagaimana dikutip Lizzy Davies (2021). Bagi Sarmat dan rekan-rekan cyclist lainnya, Masomah Ali Zada adalah inspirasi besar, bahkan jika kesuksesan itu akhirnya membawanya meninggalkan Afghanistan dan meminta suaka di Prancis.

Demikianlah Masomah Ali Zada, yang saat menginjak pedal dan mengayuh hingga garis finish, tetap saja mengingatkan kita pada bangsa yang telah membuangnya, yang telah membuat ia harus pergi, dan melepaskan sidik jari Afghanistan. Tapi apa boleh buat, hanya begitu cara Masomah membebaskan teman-temannya. Pergi dari Kabul, mencari suaka, lalu mengayuh sepeda sekencang-kencangnya sebagai pembalap sebagaimana atlet-atlet lain.

Kebebasan untuk merengkuh mimpi-mimpinya hanya dapat digapai dengan menjauh dari bau mesiu dan desing peluru di Kabul. Masomah harus meniadakan dirinya, atau tepatnya harus mati (sebagai warga Afghanistan), agar Sarmat, Habibzai, dan para cyclist wanita Kabul lainnya, bisa hidup…

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top