Sedang Membaca
Santri, Keikhlasan Telur Mata Sapi
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Santri, Keikhlasan Telur Mata Sapi

Cak Tarno

Ayam yang bertelur, sapi yang punya nama. Itulah telur mata sapi. Begitu pun juga santri. Kontribusinya di mana-mana, meski namanya nyaris tak terdengar.

Tentang Santri

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Dalam Islam tradisional, “santri” merupakan gerakan intelektual, baik secara kultural maupun secara organik. Santri dan pesantren merupakan dualitas struktur yang tidak dapat dipisahkan seperti dua sisi mata uang yang berbeda tetapi tidak bisa dipisahkan dari pemaknaan sebagai alat tukar, begitupun pesantren dan santri.

Seperti uang, pesantren merupakan sarana yang dapat membentuk perilaku manusia. Namun, uang juga dapat menjadikannya sebagai sumber konflik antar kepentingan, dan uang juga dapat menghadirkan cinta juga kebahagiaan. Begitu juga santri dan pesantren. dimanapun pasti terdapat dikotomi, sehingga manusia harus memaknai secara bijaksana.

Istilah santri berasal dari bahasa Sansekerta ‘shastri’ dari akar kata yang sama dengan kata ‘sastra’ yang berarti teks, tulisan, ajaran, dan kitab pengetahuan. Untuk lidah orang Jawa, kata ‘shastri’ dilafalkan menjadi ‘cantrik’, yang berarti seseorang yang mengabdi, belajar, berguru atau ‘nyantrik’ kepada orang yang berilmu, orang sakti, begawan, pandita, atau orang linuwih.

Dalam hidup santri tak pernah merasa tinggi, tak pernah merasa iri. Sebagaimana dalam filosofi padi, semakin merunduk ketika santri semakin berisi

Visi Santri

Dalam hakikatnya santri tak pernah meminta balas budi, “seperti telur mata sapi”. Ayam yang bertelur, tapi namanya, sapi yang memiliki.

Dalam dunia santri, terdapat dua paham, ukhuwwah wathaniyyah dan ukhuwwah basyariyyah, yang ditanamkan di dalam diri pesantren dan santri. Bagaimanapun, persaudaraan antar manusia itu harus dijunjung tinggi.

Dengan begitu, santri dapat menerima perbedaan: suku, Agama, budaya juga bahasa. Dan suburnya relasi sosial pesantren, membuat generasi santri dapat mewujudkan “hidup berdampingan secara damai” .

Bagi santri, keanekaragaman merupakan kemewahan kebesaran Tuhan. Dengan begitu Santri dapat menumbuhkembangkan peran sosial sebagai agen transformasi sosial menuju masyarakat plural, bagi upaya-upaya mencapai kebenaran dan realitas agar dapat meraih kebahagiaan dunia akhirat.

Santri adalah panglima, santri adalah laskar bhinneka. Santri adalah yang banyak berjuang untuk negara. Semua tahu, santri adalah yang menjaga keutuhan bangsa. Walaupun santri tak pernah di ikut serta dalam rumusan tata negara.

Namun santri tak pernah merasa dirinya kecewa. Sekalipun, santri tak pernah ditulis dalam sejarah bangsa. Bukan berarti santri tidak pernah berbuat apa-apa. Seperti telur mata sapi.

Kehidupan pesantren

Santri adalah sebutan orang yang menempuh pendidikan agama Islam. Pesantren adalah lembaga yang menghimpun dinamika-dinamika pemikiran, baik pemikiran sosial, budaya, politik, ekonomi dan terutama ilmu humaniora.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Di dalam kehidupan pesantren, tidak mengenal antara miskin dan kaya, semua diperlakukan sama. Dari belajar ilmu eksak, belajar tentang kearifan dalam kehidupan hingga belajar mendekat diri kepada Tuhan: semua sama. Dan yang lebih penting, bagaimana kaum santri dapat mengenal perbedaan sejak usia dini.

Semua ilmu diajarkan: dari belajar ilmu tajwid , membaca Alquran, nahwu shorof (tata bahasa dan gramatika bahasa Arab), hingga menghafal hadis sampai ribuan. Ilmu astronomi perbintangan hingga menghitung daun di pohon pun bisa dirumuskan.

Dengan begitu tradisi pesantren dan santri dapat menciptakan inklusifisme, bukan eksklusifisme seperti yang dipikirkan oleh orang di luar sana.

Santri adalah agen yang dibentuk oleh struktur pesantren. Bagaimana kehidupan santri yang berawal dari bentukan keluarga, semua serba ada, makan sudah disiapkan cuci pakaian sudah tinggal dandan. Begitu pindah ke pesantren dia harus menyesuaikan kemandirian kehidupan. Semua santri di wajibkan bertanggung jawab atas dirinya.

Termasuk memasak, mencuci, sampai membersihkan kamar, semua dikerjakan oleh masing-masing santri itu sendiri. Tetapi ada juga santri yang tidak pernah diajar mengaji oleh romo kiai. Hanya dia di tugaskan oleh romo kiai sebagai pembantu di rumahnya saja: seperti mengisi bak mandi, mencuci pakaian romo kiai, membersihkan halaman saban hari di waktu sore dan pagi.

Semuanya dikerjakan oleh santri yang mengabdi pada kiai.

‌Pernah suatu ketika ada pertanyaan dari teman satu kampung, ketika santri itu pulang dari pesantren. Sebut saja bernama Jagad. santri yang tidak pernah diajarkan mengaji oleh romo kiai.

“Hai Gad, apa yang kau dapat dari pesantren? Saat di pesantren, katanya kau tidak pernah diajarkan apa-apa, hanya menjadi pembantu saja di rumah kiai?” tanya Raya, anak kampung.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

“Benar katamu”, kata Jagad.

“Lalu, untuk apa kamu berlama-lama di pesantren kalau sekedar jadi pembantu, tidak digaji. Baju yang kau pakai saja juga baju tahun lalu yang sekarang kau gunakan lagi, hampir gak pernah ganti.”

Jagad hanya bisa diam saja, tak ada yang ingin menjawab satu patah kata pun dari pertanyaan Raya.

Raya adalah sahabat baik Jagad di kampungnya. Sewaktu kecil ke mana-mana selalu bersama. Semenjak lulus sekolah menengah, keduanya ia berpisah. Si Raya pergi merantau ke kota. Perubahan Raya banyak dipengaruhi oleh orang kota, setelah lama di kota, lalu Raya pulang kampung dan berbisnis, lumayan sukses di kampungnya.

Jadi tidak heran jika Raya melihat kesuksesan orang itu selalu diukur dengan semata materi saja, sedang Jagad pergi menuntut ilmu ke pesantren, terlepas dia tidak pernah diajarkan ilmu agama oleh Romo Kiai, tetapi Jagad lebih bisa menata hati. Menjalani hidup sebagaimana mestinya.

Menurutnya kesuksesan orang bukan semata materi, tetapi kesuksesan orang adalah bagaimana seseorang bisa mensyukuri. Itulah yang tidak di dapatkan oleh Raya.

Sebagaimana menjelaskan barokah. Bagaimana barokah kiai itu dapat dijelaskan? Sedang yang diberikan barokah tidak pernah bisa merasakan.

Sama halnya menjelaskan pada orang buta, bahwa susu itu berwarna putih. Seperti dalam cerita rakyat dalam buku Leo Tolstoy, seorang yang buta sejak lahir bertanya kepada orang yang melihat, “Bagaimana warna susu?”

“Warna susu itu putih seperti kertas,” jawab orang yang melihat. “Kalau begitu warna itu juga gemerisik di tangan kalau di pegang?” tanya si buta.

“O.. tidak, dia itu putih seperti tepung.” Jawab orang itu. “Kalau begitu, berarti dia itu halus seperti tepung?

“O…tidak, hanya putih seperti kelinci putih.”  Si buta masih saja juga bertanya, “Berarti susu itu juga empuk dan lembut seperti kelinci ?”

Dari beberapa contoh yang tadi sudah dijelaskan pada orang buta tersebut, orang buta tetap saja tidak dapat mengerti bagaimana putihnya warna susu.

Sebagaimana menjelaskan tentang barokah. Bagaimana dapat menjelaskan nikmatnya makan pada orang yang lidahnya sedang sariawan? Bagaimana menjelaskan indahnya pantai Raja Ampat kepada orang yang matanya tidak bisa melihat?

Begitu pula menjelaskan tentang “barokah” atau berkah. Barokah tetap saja tidak bisa dijelaskan tanpa orang tersebut bersedia mengalami dan mensyukuri hidup.

Salam santri. Semoga barokah…. (SI)

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top