Sedang Membaca
Saat Lebaran, Apakah Baca Buku Jadi Agenda?
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Saat Lebaran, Apakah Baca Buku Jadi Agenda?

Bandung Mawardi

Lebaran demi Lebaran mungkin melulu bercerita makanan, busana, hiburan, dan pelesiran. Pada hari suci dan mendapat pengesahan libur oleh pemerintah, orang-orang mengartikan Lebaran dengan pilihan sering tetap dan rutin. Pengisahan cenderung tetap ketimbang ada ikhtiar memberi arti “selingan” atau “imbuhan.”

Kita sengaja mengajukan sebutan itu menuruti kelaziman mengalami Lebaran seharian. Beribadah, kumpul keluarga, silahturahmi, makan, menonton televisi, atau bepergian ke tempat-tempat keramaian adalah jadwal padat. Di sela atau luar daftar, orang agak sulit mengadakan peristiwa berdalih literasi.

Pada 12 Mei 2018, para penulis asal pelbagai kota berkumpul dan bercakap di Omah Petroek, Jogjakarta. Mereka hampir bermufakat untuk memberi arti Idul Fitri dan literasi. Pilihan peristiwa agak dilematis adalah membaca buku. Mereka mengandaikan jumlah orang berpredikat pembaca buku saat Lebaran mungkin berkurang ketimbang hari-hari biasa. Orang “cuti” sebagai pembaca, beralih ke predikat lazim dalam adab Lebaran sesuai nalar-imajinasi kolosal.

Mereka mengandaikan bakal mengalami suasana suci dengan kesanggupan jadi pembaca buku. Pengandaian itu bakal bersua sindiran, protes, dan nasihat dari orangtua, sahabat, kekasih, atau tetangga. Pamrih berpredikat pembaca terpaksa memberi jawab: “Lebaran nekat membaca buku?” Keinginan itu tak muluk tapi terasa sulit masuk jadwal penuh saat Lebaran.

Senang, haru, dan capek biasa bercampur selama Lebaran. Raga kadang harus mengalami “keterpaksaan” dalam bersantap dan bergerak.

Konon, Lebaran itu hari kemenangan. Apakah hasrat orang menjadi pembaca teranggap raihan kemenangan? Posisi pembaca buku di Lebaran tak gampang. Sekian penulis perlahan mengajukan kemungkinan-kemungkinan buruk.

Baca juga:  Sabilus Salikin (4): Dasar Alquran Tarekat

Di rumah, tugas di dapur dan meladeni tamu sudah berat. Janji bersilahturahmi menguras keringat dan waktu. Kepatuhan berkumpul bersama keluarga dengan “ibadah” menonton televisi atau piknik sulit terhindarkan. Kemungkinan demi kemungkinan diajukan memicu perdebatan atas kesulitan mengesahkan diri selaku pembaca buku. Argumentasi paling kecil pun gampang mendapat bantahan.

Percakapan menjelang Ramadan dan sebulan sebelum Lebaran itu sampai ke mufakat sembrono. Delapan orang bakal memenuhi hak menjadi pembaca buku meski sulit “termaafkan” bagi rutinitas Lebaran di Indonesia. Janji lanjutan adalah menentukan jenis bacaan. Pilihan-pilihan agak mengentengkan pembaca: novel, kumpulan esai, dan biografi. Hari demi hari berganti dengan penguatan janji di hari suci.

Dua minggu menjelang Lebaran, mufakat bepredikat pembaca disokong oleh hamba Allah dengan memberikan infak untuk belanja buku sesuai selera. Terang mulai di depan mata. Peristiwa literasi menjelang ke hari suci. Janji terbesar adalah membaca saat Lebaran dan menuliskan pengalaman membaca di hari berbeda untuk diterbitkan jadi buku.

Mufakat itu sembrono tapi memiliki kaitan dengan iklan hampir sehalaman di majalah Tempo, 21 Mei 1988. Iklan dari penerbit Pustaka Utama Grafiti bagi orang-orang keranjingan membaca buku. Awalan iklan: “Penawaran khusus berhadiah paket Idul Fitri.” Godaan berliterasi di hari suci atau pilihan belanja buku ketimbang boros membeli roti, baju, sandal, dan sirup. Isi iklan:

Baca juga:  Bung Karno dalam Bingkai Lukisan

“Menyambut bulan suci Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri 1408 H kami tawarkan kepada Anda 4 judul buku dalam satu paket berhadiah 4 buku yang sama menariknya.”

Pembaca tulen pasti tergiur dan rela membelanjakan duit untuk cerdas dengan renungan atas bacaan-bacaan. Empat buku dalam paket: Ibnu Khaldun, Insan Kamil, Jejak Sang Penguasa, dan Mencari Titik Temu Agama-Agama. Buku-buku itu bertema agam: serius dan berat. Apakah pembaca pun rela membaca buku itu saat Lebaran?

Baca Juga

Para pembeli paket Idul Fitri bakal mendapat kupon berhadiah untuk mendapatkan paket 4 buku. Sepuluh orang berhak beruntung mendapat 4 buku setelah membeli 4 buku. Empat buku hadiah: Dari Raja Ali Haji Hingga Hamka, Meraba Gajah Dalam Gelap, Profil di Balik Cadar, dan Orang Jawa Naik Haji.

Hadiah Lebaran adalah buku. Hadiah semakin memberi rangsang literasi, pelesiran ke bacaan-bacaan. Apakah pembeli buku, pembaca, dan penerima hadiah itu termasuk “beruntung” saat mengalami Lebaran? Di mata publik, urusan bacaan dan Lebaran masih terasa aneh.

Mengapa penjualan buku berkaitan Lebaran? Pengiklan mungkin sudah menebak bakal ada orang memilih menjadi pembaca ketimbang berperan “tukang makan”, “penggandrung televisi”, “penidur” dan “turis”. Hitungan waktu saat Lebaran tetap sama. Kemauan membaca buku mungkin memiliki kelebihan bagi pembaca ingin mengerti agama dan memperkenankan renungan-renungan mendalam tanpa gangguan televisi atau ketupat. Pembaca bisa berharap ada bacaan di atas meja, bukan cuma sirup, biskuit, permen, dan  kacang atom.

Baca juga:  Kapan Idulfitri Menurut Muhammadiyah? Kapan Menurut NU?

Pemuatan iklan itu tak perlu mengejutkan atau merisaukan bagi pembaca. Pada bulan berbeda, iklan pendahuluan telah disuguhkan penerbit di majalah Tempo, 19 Maret 1988. Iklan belum dihubungkan dengan Ramadan dan Lebaran tapi membujuk pembaca menekuni Islam di Indonesia. Iklan berslogan “Paket khusus 4 buku tengan Islam.” Buku-buku bermutu pantas dibaca menjelang mengalami bulan suci (Ramadan) dan hari suci (Lebaran). Empat buku pilihan: Sarekat Islan: Gerakan Ratu Adil (APE Korver), Pergumulan Islam di Indonesia (BJ Boland), Darul Islam: Sebuah Pemberontakan (C Van Dijk), dan Partai Islam di Pentas Nasional (Deliar Noer).

Puluhan tahun berlalu dari 2 iklan di Tempo, kita bisa membandingkan dengan cara penerbit-penerbit mengajukan tawaran ke pembaca. Di situs-situs penerbit dan penjualan buku, kita biasa mendapatkan tawaran buku dengan potongan harga dan berhadiah. Penjualan menggunakan sebutan “Paket Ramadan”, bermaksud tetap memberikan hak bergirang bagi pembaca terus belanja buku.

Ramadan bukan dalih cuit dari membeli buku. Lebaran pun bukan dalih berhenti sejenak dari predikat pembaca buku. Kesengajaan menaruh buku di atas meja tentu tindakan mengajak diri tetap menunaikan janji berliterasi untuk semakin berarti di hari suci. Lebaran tanpa bacaan mungkin terasa wagu. Begitu.

Lihat Komentar (1)

Komentari

Scroll To Top