Sedang Membaca
Kisah Sayuran di Buku-Buku
Bandung Mawardi
Penulis Kolom

Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah

Kisah Sayuran di Buku-Buku

1 5prphqz2iiss Jb8gknava

Kegembiraan masih milik kita, belum punah. Kita turut gembira membaca berita orang-orang bisa pelesiran dan memetik sayuran. Kejadian di Sigedong, Bumijaya, Tegal, Jawa Tengah. Wabah belum tamat, orang-orang tetap memerlukan bahagia dengan pelesiran alam dan sayuran, 19-20 September 2020. Di perbukitan indah dan berhawa segar, kaum pelesiran membeli sayuran. Mereka beradegan memetik sayur di lahan-lahan milik para petani (Tribun Jateng, 21 September 2020). Kita membaca berita tertular gembira! Sayuran masih menjadi tema besar dan pilihan bagi orang-orang berpikiran hidup, selamat, dan waras selama wabah.

Kita mungkin terlalu lama tak belajar sayuran. Abai dalam pemaknaan sayuran untuk sekian peristiwa dalam hidup. Sayuran dalam ritual, sayuran dalam propaganda kesehatan, sayuran dalam perdagangan dunia, dan sayuran dalam pendidikan memiliki perbedaan kadar dalam pengetahuan publik. Sayur tentu masalah pertanian tapi membuka undangan bagi kita mengetahui pelbagai hal, dari mitos sampai pesta kuliner abad XXI.

Cerita sayur kita mulai dari Amerika Serikat dengan sindiran William H Sebrell dan James JH dalam buku berjudul Makanan dan Gizi (1986). Sindiran atas perubahan sikap dan tatanan hidup: “Seabad yang lalu kebanyakan keluarga Amerika Serikat makan hasil kebun sendiri. Mereka mendapatkan buah-buahan dan pepohonan di kebun belakang, memasak sayur-mayur hasil pekarangan rumah….”

Kejadian sama berlaku di Jawa. Pekarangan itu sumber hidup berupa tanaman, selain orang-orang Jawa di desa memiliki binatang ternak. Di Amerika Serikat menjelang keberakhiran abad XX, sayuran menjadi industrial dan  diperdagangkan dengan tatanan baru. Orang-orang diajak mengonsumsi berpamrih kapitalistik: membeli dan bersaing gengsi ketimbang bertaman sayuran di pekarangan. Sekian jenis makanan cepat sajai semakin membuat kerancuan berpikiran sayuran, keluarga, rumah, alam, dan lain-lain.

Permukiman berubah, artistektur rumah berganti, cara makan mulai sembarangan, dan pengajaran sayuran tak lagi terlalu penting di sekolah. Kita cuma ingin memberi tuduhan atau tanggapan sinis berlatar abad XXI. Kita telat dan bebal. Nasib sayuran sering tak untung bersama detik-detik kehidupan kita saat wabah. Sekian minggu lalu, para petani dan pedagang sayur bersedih gara-gara sayuran sulit laku, tak ada serapan dari publik. Pada hari berbeda, kita mengingat lagi sayuran melalui Wisata Petik Sayur di Tegal. Peristiwa berbeda dari berbelanja saja. Kehadiran di lahan-lahan milik petani memberi pengetahuan dan pengalaman tentang sayuran. Pilihan peristiwa bermakan pada masa sulit. Kita di rumah mungkin ingin belajar (lagi) sayuran tanpa pelesiran atau bergerak ke pasar-pasar. Belajar agak sulit setelah pekarangan tak lagi bercerita seperti para leluhur menanam “ini” dan “itu”. Kita kehilangan (pesona) pekarangan. 

Di rumah, kita bisa memilih menebus segala sesal dan salah dengan membaca buku berjudul Si Hijau yang Cantik: Aneka Sayuran Daun Hijau di Indonesia (1984) susunan HAPC Oomen, Poorwo Soedarmo, Djoeweriah PS, dan Surcahmat Kusumo. Di situ, kita membaca “petualangan kecil” bagi orang-orang sadar tanaman-sayur, belum bisa dianggap pelesiran. Kita mungkin memiliki pengalaman atau berjarak jauh dari pengisahan: “Krokot sering tampak tumbuh di celah-celah batu di jalan. Bayam, talas, leunca, talinum tumbuh begitu saja, entah di mana di luar pekarangan dan dipetik oleh siapa saja yang rajin mencarinya tanpa mengeluarkan uang sedikit pun. Selada air dan eceng padi hidup begitu saja di sawah-sawah setelah panen. Tidaklah jelas, apakah tanaman seperti kelor, turi, dan talas dulunya ditanam orang ataukah tumbuh dengan sendirinya.” Petualangan di sekitar rumah membuat orang-orang membuktikan pengetahuan sayuran. Ada anjuran bahwa membeli sayuran di warung atau pasar itu bukan kewajiban mutlak bila orang mau menanam di pekarangan atau melakukan “petualangan kecil.” 

Sayuran mengingatkan tempat-tempat: pekarangan, kebun, pasar, supermarket, warung makan, restoran, dan lain-lain. Sayuran bercerita tempat selain kandungan gizi, vitamin, atau protein. Pemberitaan tentang pelesiran sayuran menjelaskan siasat baru bagi pengenalan, pengajaran, dan mengonsumsi sayuran. Konon, pelesiran jenis baru bertema sayuran memberi pengalaman-pengalaman mengesankan. Kita menduga pengalaman pelesiran sayuran milik orang-orang kota atau berpikiran terlalu mutakhir berakibat lupa tanah, tanaman, petani, dan lain-lain. Pelesiran berhitung untung-rugi. Kita menghadirkan sayuran itu tanaman dengan adegan-adegan pemenanen dan pemotretan demi kenangan. Sikap-sikap baru membuat hubungan kitadan tanaman-sayuran terasa wagu.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Sejak ratusan tahun lalu, para sarjana dan pegawai kolonial takjub melihat tanaman-tanaman di Nusantara. Mereka pun melakukan penelitian, menerbitkan buku-buku memuat masalah sayuran. Pada saat, fotografi belum mewabah ke tanah-tanah jajahan, para peneliti atau pegawai kolonial mengajak para pelukis atau tukang gambar dalam pembuatan buku. Kini, kita bisa terpukau melihat gambar atau ilustrasi sayuran dalam buku-buku terbitan akhir abad XIX sampai masa 1940-an. Dulu, ikhtiar mengenal dan memahami sayuran dirangsang oleh gambar-gambar apik, sebelum orang mampu menemui tanaman di kebun, pekarangan, sawah, atau hutan. 

Para peneliti dan pegawai kolonial tak sedang pelesiran sayuran tapi melakukan kerja-kerja berkadar ilmiah dan tatapan mata eksotis khas kaum Eropa di Nusantara. Kita ajukan contoh buku berjudul Sajoer-Sajoeran Negeri Kita (1942) susunan JJ Osche, mendapat perbaikan dari W de Jong, dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Nur Sutan Iskandar. Buku informatif, memuat ilustrasi-ilustrasi memikat. Pihak Balai Poestaka selaku penerbit mengumumkan: “… njata soedah bahwa sajoer-sajoeran serta toemboeh-toemboehan jang didjadikan sajoer itoe amat penting bagi makanan ra’jat. Tambahan poela sajoer-majoer itoe dapat diperoleh oleh tiap-tiap pendoedoek negeri kita ini, karena moerah harganja. Djadi semangkin banjak serta tjermat diadakan sajoer-majoer, semangkin baik poela peri keadaan makanan anak negeri.”

Pada masa kolonial, ada propaganda makan sayuran. Buku dokumentatif tak terbebas dari nalar kolonialisme. Kita mewarisi sebagai bacaan membuktikan sayuran itu tema besar di Nusantara, masa lalu. 

Pesan Kerudung Bergo

Kita mengandaikan ajakan-ajakan pelesiran sayuran di pelbagai desa di Jawa digenapi dengan perisiwa-peristiwa imbuhan berupa obrolan ringan, melukis-mewarnai bersama bocah-bocah, pameran foto, bersenandung tentang sayuran, penggubahan sastra bertema sayuran, dan lain-lain. Pelesiran itu menggirangkan tapi imbuhan-imbuhan acara menjadikan pelesiran tak gampang dituduh peristiwa berpamrih senang saja. Begitu.     

Baca juga:  Resensi Buku: Perempuan di Titik Nol, Perlawanan atas Tirani Patriarki
Pesan Kerudung Bergo
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top