Sedang Membaca
Ilmuwan Cum Musisi (6): 3 Buku Masterpiece Musik Islam Abad Pertengahan

Penerjemah buku-buku sejarah klasik dan penulis literasi Islam klasik dan kontemporer. Akun media sosial; Miftahus Syifa (Facebook), @syifaAdzkiya (twitter).

Ilmuwan Cum Musisi (6): 3 Buku Masterpiece Musik Islam Abad Pertengahan

Sumber Foto Flickr

Melihat rentang sejarah, dunia permusikan Islam pernah mencapai kondisi paling gemilang di abad pertengahan. Kondisi tersebut tentunya merupakan suatu rangkaian kesinambungan dengan ahli teori musik sebelumnya seperti al-Kindi, al-Farabi, Ibnu Sina dan Ikhwan al-Shafa.

Setelah mereka, bermunculan generasi-generasi pendatang yang menekuni teori permusikan serta mengembangkan temuan baru yang lebih kompleks. Mereka adalah Saifuddin al-Urmawi, Qutbuddin Mahmud al-Shirazi, Abdul Qadir ibnu Ghaybi al-Maraghi, Fathullah Mukmin al-Shirwani, Muhammad ibnu ‘Abd al-Hamid al-Lahiqi, Abu al-Faraj al-Isbahani dan lain-lain.

Selain nama-nama di atas, masa keemasan peradaban musik Islam ditandai dengan rilisnya tiga masterpiece buku musik yaitu Al-Adwar fi al-Musiqi, Al-Risalah al-Sharafiyyah fi al-Nisab al-Ta’lifiyya, dan Al-Aghani. Dari tiga buku inilah peradaban musik dalam Islam diakui dunia dan sampai sekarang masih dipelajari. Tanpanya,  habislah sejarah besar nan mengagumkan ini.

Dua kitab pertama di karang oleh Saifuddin al-Urmawi (1216-1294 M), seorang musikus kondang dari Dinasti Abbasiyah. Dalam hidupnya, musik membawa keberkahan bagi dirinya karena di saat Abbasiyah diluluh lantahkan oleh tentara Hulagu Khan, al-Urmawi justru diangkat sebagai musisi favorit Hulagu yang digaji dua kali lipat dari sebelumnya. Dengan dua hasil karya musiknya Al-Adwar dan Ar-Risala al-Sharafiyya fi al-Nisab al-Ta’lifiyya, al-Urmawi dinobatkan sebagai ahli teori musik paling mahir dalam sejarah Islam. Dua kitabnya banyak dirujuk ahli teori musik setelahnya hingga berabad-abad lamanya.

Di antara dua kitab tersebut, kitab Al-Adwar lebih dikenal di kalangan ahli teori musik. Kitab itu berisikan 15 bab dengan tema pembahasan tentang not balok, penentuan instrumen, penggunaan rasio dalam interval, lingkaran dan tangga musik, jenis lagu dan ritme, kemudian ketukan irama.

Banyak penjelasan baru yang sangat menarik yang ditambahkan pada kitab ini, seperti cara pengukuran suara dan mekanisme memainkan alat musik misal cara menyetem al-ud, memposisikan jari pemain, menambah, mengulagi atau merubah rasio interval. Selain itu, di dua bab terakhir kitab ini menjelaskan tentang pengaruh musik pada manusia dan metode bermain serta menyebutkan karya-karya musik. 

Kitab kedua al-Urmawi juga tak kalah keren. Al-Risala al-Sharafiyya menjelaskan sangat detail rumusan musik beserta pengembangan teori yang ia temukan sendiri. Bagian-bagian dari risalah ini membahas pembuatan suara dan bunyi, merumuskan rasio dua angka, membuat interval serta rasionya, serta membuat tingkat disonansi, skala maqam nada, hingga mengatur penempatan string pada al-ud. Al-Urmawi mengatur rasio antara dua angka dengan 12 level.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Ia juga menamai beberapa interval seperti dzu al-ku al-marratain (dua oktaf) rasionya adalah 2/1×2/1= 4/1, dzu al-ku al-hams (akord oktaf dan penta) rasionya 3, dzu al-ku al-‘arba (akord oktaf dan tetra) rasionya 8/3, dzu al-ku (oktaf) nilainya 2/1, dan dzu al-hams (penta chord) bernilai 3/2, dan dzu al-‘arba berasio 4/3. Penemuan baru yang populer dari Al-Urmawi adalah tentang penambahan string ke-5 pada al-ud yang dinamai al-haad. Di kitab ini juga dibahas pembagian oktaf menjadi 17 interval seperti yang telah ia jelaskan pada kitab pertama.

Al-Urmawi sebenarnya masih melanjutkan konsep matematika musik dari para pendahulunya baik yang ia peroleh dari konsep Phytagorian maupun warisan teori al-Kindi, al-Farabi, dan Ibn Sina. Namun ia mengembangkan konsep tersebut dengan sangat baik serta memberikan terminologi tambahan. Istilah oktaf, akord tentra dan penta adalah warisan al-Kindi, yang tidak disebutkan secara numerik oleh Ikhwan al-Shafa. Namun konsep populer al-Urmawi tentang pembagian oktaf menjadi 17 tingkat beserta pemberian definisi skala senada dengan teori awal Ikhwan al-Shafa bahwa komposisi terbaik adalah yang dihasilkan oleh konsonan yang paling banyak rasio.

Al-Urmawi juga menjelaskan konsep tetachordal yang menurut seorang peneliti Turki, Fazli Arslan, konsep ini pernah diulas oleh al-Farabi, namun setelah itu tidak ada ahli musik yang menjelaskan lagi karena terlalu rumit. Dua kitab karangan al-Urmawi ini merupakan kitab paling lengkap dan paling detail yang menjelaskan tentang rumusan dan teori musik secara numerik. 

Masterpiece musik terakhir adalah kitab Al-Aghani yang dikarang oleh sastrawan Islam abad kesepuluh dari Persia, Abu al-Faraj al-Isbahani. Kitab ini sebenarnya tidak berbicara tentang teori musik yang bersifat eksakta. Penjelasan dan pendekatannya sangat humaniora. Meskipun begitu kitab ini merupakan sebuah karya agung yang sangat otoritatif yang pernah dikarang oleh sastrawan muslim. 

Seperti namanya, kitab Al-Aghani adalah sebuah buku tentang musik. Kitab ini merupakan ensiklopedia sastra yang berisi kumpulan lagu dan puisi yang dalam edisi modern cetakannya mencapai lebih dari 20 volume dengan jumlah halaman 10.000 lebih. Isbahani mengklaim telah menghabiskan waktu selama 50 tahun untuk menyelesaikan kitab tersebut yang pada akhirnya ia persembahkan kepada sultan Damaskus, Saif al-Daulah. 

Di balik monumentalnya karya ini, ia cukup kontroversial di kalangan ulama. Ada yang memberikan apresiasi luar biasa, ada juga yang mengkritik dan menjatuhkan secara tajam. Beberapa intelektual seperti Ibnu Khaldun, Ibnu Katsir, dan al-Dzahabi menyambutnya dengan komentar posistif. Ibnu Khaldun bahkan mengatakan karya tersebut merepresentasikan dirinya, dan dari kitab itu ia banyak mendapatkan berbagai informasi, catatan langka, silsilah, dan suksesi dinasti bangsa Arab.

Berbeda dengan Ibnu Khaldu, beberapa cendekiawan hukum Islam seperti Ibnu al-Jauzi yang memberikan kritik keras atas kitab tersebut. Ia mengatakan isi kitab tersebut tidak dapat dipercaya karena menyuguhkan banyak cerita amoral. Kitab ini banyak menceritakan hedonisme pejabat, khalifah bahkan ulama seperti lazimnya minum arak dan aktivitas seksual.

Tak bisa disangkal, kitab ini memang banyak menampilkan cerita vulgar yang menurut dimensi sekarang akan dipisahkan mana ranah yang publik dan yang privat. Namun para sastrawan berpendapat bahwa sebagai kitab sastra, justru cerita semacam ini dipandang sebagai anekdot yang menghibur dan sisi lain dari kondisi masyarakat.

Terlepas dengan semua kelemahan yang ada, kitab ini tetap merupakan karya luar biasa dan belum pernah ada yang menandingi. Di sana terdapat ribuan lagu dan puisi, biografi para penyanyi dan penyair serta mengisahkan beragam anekdot, dan cerita-cerita sosial masyarakat dari kalangan penguasa, pejabat pemerintah, dan ulama sejak zaman pra Islam hingga khalifah Al-Mu’tadid Billah (289 H).

Atas dasar melimpah ruahnya beragam informasi dan cerita penting, wajar bila kitab ini menjadi sumber otoritatif bagi para sastrawan Arab dan sejarawan. Sejarawan Philip K. Hitti tampaknya juga menggunakan kitab Al-Aghani sebagai salah satu dari referensi utamanya, terlihat dari banyaknya pengutipan atas karya ini.

Baca juga:  Sabilus Salikin (14): Rabitah (Merabit)
Pesan Kerudung Bergo
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top