Sedang Membaca
Kata Tahun Ini
Penulis Kolom

Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah

Kata Tahun Ini

Pada awal 2020, kita mendapat berita (tidak) penting. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menetapkan kata “milenial” sebagai Kata Tahun Ini. Milenial dianggap kata paling populer selama 2019. Argumentasi disampaikan ke publik mengacu ke jumlah pencarian kata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia daring. Kita mungkin kaget dengan argumentasi tak berdasarkan riset panjang dan serius. Penentuan kata terpopuler ditetapkan sebagai Kata Tahun Ini itu mudah. Pejabat di Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mengatakan bahwa milenial sering digunakan oleh publik berdasarkan Google Trends. Pencarian kata milenial tercatat tertinggi bagi pengguna Kamus Besar Bahasa Indonesia daring. Pada 30 Desember 2019, pencarian kata itu mencapai 19.834 kali.

Di Republika, 7 Januari 2020, Pemimpin Redaksi KBBI, Dora Amalia, mengatakan penetapan Kata Tahun Ini pertama kali dilakukan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Kita boleh bingung dan ragu. Kegiatan dan pengumuman institusi di naungan pemerintah itu belum pasti berfaedah bagi pemajuan bahasa Indonesia. Pejabat di Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menjelaskan pemilihan Kata Tahun Ini “menunjukkan perkembangan bahasa di masyarakat.” Para pegawai bahasa di Kemendikbud berhak menganggap penting membuat program dan mengumumkan Kata Tahun Ini. Kita pun boleh menunduk malu membaca kesibukan institusi bertugas mengurusi bahasa.

Pengumuman itu dimuat pula di Media Indonesia, 7 Januari 2020. Pemilihan Kata Tahun Ini mempertimbangkan popularitas, penggunaan, dan distribusi. Di Solopos, 8 Januari 2020, kita simak penjelasan Dadang Sunendar selaku pelaksana tugas Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa: “Kata milenial juga digunakan dalam berbagai bidang kehidupan yakni media nasional, publikasi ilmiah, laman pemerintah, swasta, bidang pengetahuan, dan wilayah penggunaan.” Kita mungkin ingin membaca halaman-halaman berisi tulisan berisi argumentasi dan penjelasan dalam pemilihan Kata Tahun Ini. Kita curiga kerja institusi itu mengandalkan data di internet saja dan bergantung ke peran Google Trends.

Baca juga:  Eka Kurniawan: Negara Tidak Berbuat Apa-apa

Penulis belum pernah menggunakan Kamus Besar Bahasa Indonesia daring. Pilihan terhormat adalah membeli kamus edisi cetak di toko buku. Penulis membeli Kamus Besar Bahasa Indonesia (2018) dengan harga setengah juta rupiah. Mahal tapi dianggap berfaedah untuk misi menekuni masalah kata dan makna. Di halaman 1092, ada entri milenium mengandung arti: “masa atau jangka waktu seribu tahun”, “alaf”, “peringatan atau perayaan yang ke-1.000”, “hari ulang tahun ke-1.000.” Kita tak menemukan entri milenal di kamus tebal dan mahal. Pada 2020, kita mungkin menunggu ada cetak ulang Kamus Besar Bahasa Indonesia dengan memuat entri milenal, setelah ditetapkan sebagai Kata Tahun Ini (2019). Uang harus disediakan jika ingin membeli kamus dengan harga bakal semakin mahal.

Kita mendingan memikirkan kata, belum perlu terlalu serius memikirkan milenal. Buku penting sebagai referensi tentu Diksi dan Gaya Bahasa (1981) susunan Gorys Keraf. Penjelasan panjang: “Kata sebagai satuan dari perbendaharaan kata sebuah bahasa mengandung dua aspek, yaitu aspek bentuk atau ekspresi dan aspek isi atau makna. Aspek bentuk atau ekspresi adalah segi yang dapat dicerap dengan panca indera. Sebaliknya segi isi atau makna adalah reaksi-reaksi yang timbul dalam pikiran kita karena dirangsang oleh aspek bentuk tadi.” Penjelasan itu mungkin tak pernah dipilih oleh redaksi pembuat kamus di institusi pemerintah. Buku lama dengan penjelasan sederhana mungkin dianggap kedaluwarsa.

Baca juga:  Politik Ukhuwah Islamiyah: Satu Lagi Tugas Menteri Agama

Kita membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (2018). Entri kata memiliki sekian arti disajikan dalam dua halaman, 756-757. Kita mengutip satu pengertian saja: “unsur bahasa yang diucapkan atau dituliskan yang merupakan perwujudan kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat digunakan dalam berbahasa.” Pengertian sederhana dan puitis justru kita temukan dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (1952) susunan Poerwadarminta: “setumpuk rangkaian huruf jang menjatakan sesuatu arti.” Kita membaca ada perubahan dalam memberi arti pada entri kata dalam kamus-kamus pernah terbit di Indonesia. Kita boleh memberi pujian untuk Kamus Umum Bahasa Indonesia (1994) susunan JS Badudu dan Sutan Mohammad Zain. Di halaman 625, ada pencantuman keterangan bahwa kata berasal dari bahasa Sanskerta. Kata berarti “rangkaian bunyi terkecil yang ada artinya dan merupakan unsur kalimat.”

Masalah kata cenderung memikat ketimbang kita memikirkan milenal. Harimurti Kridalaksana dalam Kamus Sinonim Bahasa Indonesia (1988) menulis sinonim kata adalah “bicara, cakap, ujar, tutur, firman, sabda, titah.” Kita perlu membuka Tesaurus Bahasa Indonesia (2006) susunan Eko Endarmoko untuk menuruti penasaran untuk mengerti kata, belum ingin mengerti milenal. Kata itu “bicara, logat, madah, perkataan, tutur, istilah, nama, sebutan, terma.” Kita digoda memikirkan kata dengan pelbagai pengertian diberikan oleh para pembuat kamus, dari masa ke masa.

Baca juga:  Lima Panduan Berhijrah

Kita berharap Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa membuat penelitian dan penerbitan buku bertema kata. Kegiatan itu bermutu ketimbang cuma membuat pengumuman untuk penetapan Kata Tahun Ini. Seruan untuk menggunakan kamus edisi cetak pun perlu disampaikan ke publik. Kita menghormati orang-orang gampang mencari kata dan makna dengan cara mencari di edisi daring. Peristiwa itu memang gampang dan cepat tapi memberi pengaruh kamus-kamus edisi cetak semakin dianggap kuno dan merepotkan. Pihak pemerintah boleh membuat kebijakan agar kamus dijual dengan harga murah. Ribuan orang rajin membaca kamus edisi cetak tentu sulit menjadi data bagi Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menentukan kata di pencarian tertinggi seperti dalam edisi daring. Begitu.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top