Sedang Membaca
Iklan Ramadan: Waraslah!
Penulis Kolom

Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah

Iklan Ramadan: Waraslah!

Promag, Pertiwi, 17 30 April 1989

Sekian hari lalu, Kartono Mohamad berpamitan dari dunia saat kita mengalami Ramadan dan masih berikhtiar menanggulangi wabah. Ia mewariskan ratusan artikel di pelbagai majalah dan koran. Di majalah-majalah wanita, ia menulis artikel dan menjawab soal-soal kesehatan agar keluarga-keluarga di Indonesia waras dan sanggup mengatasi situasi bila sedang sakit. Di majalah Tempo, ia rajin menulis kolom. Tulisan memang tak sepuitis esai garapan si adik, Goenawan Mohamad. Sekian esai di Tempo memiliki kekhasan dalam mengundang sekian hal untuk mengurusi kesehatan.

Penghormatan kita berikan dengan mengutip kolom Kartono Mohamad di Tempo, 9 November 1991. Ia menulis: “Obat adalah sesuatu yang diperlukan ketika manusia sakit, tetapi sekaligus bahan yang dapat membahayakan bagi kesehatan manusia.” Pengertian wajib diperhatikan bagi kita sering sakit di tatanan hidup mutakhir. Kartono Mohamad melanjutkan: “Seseorang yang sakit, beberapa organ tubuhnya mengalami gangguan fungsi. Fungsi-fungsi selnya, yang semula normal, berubah menjadi tidak normal.”

Selama hidup, kita sulit menghitung obat apa saja pernah masuk ke tubuh, dari flu sampai sakit berat. Kita ingin waras tapi sulit mengelak dari sakit. Situasi itu memunculkan seruan terpenting dari iklan-iklan obat: “Belilah di toko obat atau apotek terdekat!” Iklan tak pernah mengumumkan agar kita membeli di tempat terjauh. Kalimat itu benar dengan bukti di kampung dan kota, toko obat sering ada. Kita malah mbingungi melihat jumlah apotek semakin bertambah.

Baca juga:  Ramadan Panik

Pada bulan Ramadan, toko obat atau apotek tetap buka. Kita berdoa waras saja. Sekian apotek memasang pengumuman: 24 jam. Apotek dan toko obat mengingatkan pesan Kartono Mohamad: “Oleh karena itu, obat yang efektif akan selalu mempunyai potensi untuk menimbulkan efek samping.” Pengalaman orang minum obat gara-gara mengidap flu sering berefek samping mengantuk. Tidurlah! Kini, kita mungkin bingung mendapatkan iklan-iklan menjanjikan obat tak bakalan menimbulkan kantuk. Ah, kita merindukan tokoh-tokoh rajin menulis esai-esai mengenai kesehatan.

Sejak remaja sampai berjenggot panjang dan berkumis gondrong, penulis mengingat obat turut dalam biografi mengalami Ramadhan. Obat itu bernama Promag. Sekian tahun lalu, spanduk-spanduk Promag terpasang di jalan. Di kampung-kampung pinggiran Solo, spanduk Promag mengucapkan “selamat menunaikan ibadah puasa” malah dipasang di pagar depan masjid. Penulis pernah mengikuti buka bersama dengan kehadiran orang-orang menawarkan Promag sambil membagikan bingkisan. Ramadan memiliki bab ingatan tentang (iklan) obat.

Promag masih setia bersama kita setiap Ramadan. Spanduk-spanduk tak lagi terlihat di jalan atau depan masjid. Lihatlah di televisi! Kita pastikan ada iklan Promag bertema Ramadan. Pesan terpenting disampaikan di masa lalu: “Bila gangguan maag, hanya Promag obatnya.” Kita membuka majalah Pertiwi edisi 17-30 April 1989, menemukan iklan legendaris: Promag. Iklan menampilkan dua orang dalam dandanan rapi: berpeci dan berjilbab. Pembuka iklan: “Selamat berpuasa”. Keseringan ada iklan membuat Ramadan terasa “hampa” tanpa iklan obat memberi kalimat mudah teringat. Kita tak ingin sakit tapi iklan obat setia selama puluhan tahun. Pesan terbaca: “… obat maag paling lengkap isinya dan paling dipercaya di Indonesia.” Iklan selalu muncul setiap Ramadan meski para penceramah di mimbar rajin mengingatkan: berpuasa itu membuat kita sehat. Sekian cerita dan dalil disampaikan ke umat. Ceramah-ceramah tak mampu meniadakan iklan Promag dalam biografi kita mengalami Ramadan, dari masa ke masa. Deddy Mizwar saja pernah di iklan Promag. Iklan bakal abadi? Ingat, kita ingin waras dan beribadah. Begitu.

Baca juga:  Santri, Pengusaha, dan Kemajuan Ekonomi
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
1
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top