Sedang Membaca
Hidangan dan Pemandangan
Penulis Kolom

Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah

Hidangan dan Pemandangan

Masgung, Femina, 21 Mei 1987

Hidangan di meja makan menanti tangan dan mulut untuk santapan buka puasa. Orang-orang berdatangan mengambil sesuai pilihan. Si tuan rumah mengatakan: “Saya paling suka tahu dan tempe, tapi saya bukan bangsa tempe.” Ia mengagumi Soekarno. Puluhan tahun lalu, ia pun bersekutu dengan Soekarno dalam perkara besar: revolusi dan buku. Si tuan rumah adalah Haji Masagung. Kita lekas mengingat toko buku dan penerbit buku mencipta sejarah keaksaraan di Indonesia. Sejarah di jalan partikelir, berbeda peran dari Balai Pustaka. Tahu dan tempe tak menandakan ia bangkrut atau jatuh miskin. Di atas meja, kolak juga ada.

Kita sedang membaca peristiwa buka bersama di rumah Haji Masagung, ditulis di majalah Femina, 21 Mei 1987. Masagung, nama pemberian Soekarno untuk saudagar buku keturunan Tionghoa. Semula, ia bernama Tjio Wie Tay. Pada masa berbeda, ia adalah Haji Masagung, telah naik haji tiga kali: 1981, 1983, dan 1986. Biografi tokoh perbukuan itu semula tak berkaitan agama. Ia memilih mencari rezeki dengan mendirikan Toko Buku Gunung Agung beralamat di Kwitang 13, Jakarta. Toko bersejarah bagi Indonesia dengan mengadakan sekian pameran buku di masa 1950-an dan 1960-an. Para tokoh bangsa pun berkaitan toko buku dalam misi mengadakan kerja-kerja keaksaraan.

Baca juga:  Makna Kebahagiaan Menurut Filsafat

Gunung Agung tak cuma toko buku. Pada masa revolusi menderu, Gunung Agung adalah penerbit buku. Dua buku terpenting: Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia (C Adams) dan Anak Desa: Biografi Presiden Soeharto (OG Roeder). Gunung Agung menerbitkan buku-buku sastra dan beragam tema. Toko buku memiliki perpustakaan. Koleksi buku dagangan berasal dari pelbagai penerbit. Pada masa lalu, Gunung Agung dan Masagung itu cerita penting bertema buku, bersangkutan politik dan dokumentasi sejarah. Di buku berjudul Apa dan Siapa: Sejumlah Orang Indonesia 1981-1982 susunan Tempo, Masagung mengakui hal terpokok membesarkan Gunung Agung: “Saya orang bodoh, hanya akal saya punya. Majunya usaha kami karena banyaknya tantangan dan tantangan.”

Masagung memang tokoh buku tapi ia tak tega menghidangkan buku-buku di atas meja untuk buka bersama. Makanan dan minuman wajib ada. Buku nanti dulu saja. Tamu di acara buka bersama di rumah Haji Masagung beragam. Pada usia tua, Haji Masagung berdakwah, tak lagi melulu di jalan buku. Laporan di Femina tentang menu buka puasa: “Hidangan yang ada di meja makan ternyata didominasi oleh makanan khas Jawa. Meskipun selain sambal goreng krecek dan sayur asem, masih dilengkapi dengan rendang paru.” Sederhana. Pada masa 1980-an, acara buka puasa bersama sudah biasa diselenggarakan oleh tokoh atau komunitas.

Baca juga:  Ego dan Keberkahan Ramadan

Di rumah Haji Masagung, para tamu memiliki pengalaman melihat segala benda. Janganlah berharap benda paling menguasai adalah buku! Puluhan tahun, Haji Masagung berurusan buku. Ia berhak berpikiran memiliki dan memaknai benda-benda berbeda. Menit-menit menunggu saat buka puasa, para tamu dan wartawan melihat lukisan-lukisan kaligrafi. Ada pula tatanan tombak. Di ruang tamu, orang jangan kaget melihat ada payung kuno berwarna merah. Ia sedang mengoleksi benda-benda pusaka, misi memiliki argumentasi sejarah. Haji Masagung fasih bercerita sekian benda ke para tamu. Bercerita itu kebahagiaan sambil menunggu waktu sah untuk makan dan minum. Benda mengejutkan adalah kursi. Haji Masgung selama berbagi cerita duduk di kursi berukir dengan jok berwarna merah. Dulu, kursi itu tempat duduk Paku Buwono X. Pemandangan di rumah itu mengesankan, memicu ingatan masa lalu sebelum orang-orang mendatangi meja makan. Begitu.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top