Sedang Membaca
Hamka Bercerita: Majikan dan Kaum Buruh Beriman
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Hamka Bercerita: Majikan dan Kaum Buruh Beriman

Bandung Mawardi

Pada masa 1930-an, Hindia Belanda dilanda krisis ekonomi mengakibatkan kelaparan dan kemiskinan. Soekarno menulis esai-esai mengenai nasib apes kaum bumiputra. Miskin tak berkesudahan tapi terus mendapat siksa dan hinaan dari pemerintah kolonial.

Hatta dan Sjahrir melalui artikel-artikel di terbitan Daulat Rakjat memberi seruan tentang pekerjaan dan pengangguran untuk mengambil peran dalam situasi tak keruan. Soetomo pun menginginkan ada kerja dan kemuliaan bagi bumiputra, bukan sengsara atau ratapan semakin melemahkan misi membentuk Indonesia.

Hamka tampil dengan cerita bersambung di Pedoman Masjarakat (1939). Cerita bersambung itu diterbitkan lagi menjadi buku mungil berjudul Tuan Direktur pada 2017. Pilihan berbeda makna ketimbang artikel, pidato, dan petisi.

Hamkan memilih bercerita di jalan imajinasi tentu tak mengabaikan realita-realita masa 1930-an. Cerita mengena dalam kritik dan refleksi nasib buruh di tanah jajahan. Musuh utama tak cuma penguasa kolonial dan majikan-majikan Eropa. Majikan bumiputra pun pembuat situasi sosial-ekonomi memamerkan kuasa kapitalisme.

Pemberian judul Tuan Direktur mengartikan jabatan dan keberlimpahan uang. Kehormatan diperoleh dengan muslihat dan ulah semena-mena menimbulkan sengsara sesama bumiputra.

Bermula dari miskin dan merantau ke Jawa, ke kota politik bernama Surabaya, Jazuli mengubah julukan diri. Kemiskinan dan kemauan mencari duit mengubah peran sampai ke saudagar dan direktur. Ia pemilik toko emas dan hotel. Uang berkelimpahan dan nama tenar. Tumpukan duit diinginkan selalu bertambah dengan menekan para buruh dan memainkan lakon oportunis. Si bumiputra itu malah mengesahkan kapitalisme berakibat derita orang-orang berkemauan hidup melalui kerja keras, jujur, dan berpatokan iman.

Serakah atau tamak sulit dihentikan. Jazuli alias Tuan Direktur bermimpi menguasai tanah-tanah di kota dan mengembangkan usaha demi raihan duit tak terkira. Curang dan manipulasi diperlukan agar mimpi tercapai. Sengketa dengan para sahabat dan pemecatan buruh tanpa argumentasi dan pesangon jadi kelaziman. Ia memang kapitalis saat tanah jajahan masih merana dan bimbang.

Baca Juga:  Sejarah Singkat Makanan Muslim

Hamka seperti tegas menampilkan permusuhan antara majikan dan buruh. Permusuhan itu disisipi seruan-seruan nasionalisme, agama, kemanusiaan, dan pendidikan aksara berdalih kemajuan.

Baca Juga
Presiden RI, Joko Widodo membuka perhelatan Muktamar JATMAN XII di Pekalongan. Habib Lutfi sebagai tuan rumah.

Pada suatu pertemuan atau rapat umum besar, Tuan Direktur sesumbar mengenai lakon kesuksesan. Mulut itu mengeluarkan kalimat-kalimat bijak tapi bergelimang kebohongan. Tuan Direktur menganggap diri manusia ampuh. Tepuk tangan dan pujian pun diberikan pada Tuan Direktur. Sandiwara itu perlahan membuka aib demi aib. Di hadapan Tuan Direktur, Yasin dan Fauzi adalah pemberi protes, kritik, sindiran, dan nasihat. Yasin tak mau menjual tanah pada Tuan Direktur. Fauzi girang setelah dipecat secara sepihak oleh Tuan Direktur. Permusuhan melibatkan aparat polisi kolonial. Mereka semua ada di persidangan untuk terbukti salah atau benar berkaitan tuduhan politik dan arogansi Tuan Direktur selaku majikan. Para buruh jadi saksi untuk melihat para tokoh beradu pendapat dan argumentasi.

Kita mungkin perlu membuka buku Buruh, Serikat, dan Politik: Indonesia pada 1920an–1930an (2015) oleh John Ingleson. Hubungan majikan dan buruh merumit akibat keterlibatan penguasa, kaum pergerakan politik kebangsaan, dan ulama. Kehendak berserikat dan memberi ruh nasionalisme pada gerakan buruh sering dihadapi dengan kekerasan sampai ke pemenjaraan. Pelarangan partai politik, pemenjaraan-pembuangan tokoh, dan teror berlaku di tanah jajahan. Buruh itu seperti musuh atau momok. Di novel Tuan Direktur, majikan berharap selalu di posisi benar dan berhak menjalankan perintah-perintah memicu nestapa dan lara. Hamka bercerita tanpa pamer tumpukan data tapi mengingatkan pembaca pada alur gerakan buruh seperti di ulasan-ulasan John Ingleson dan tulisan para tokoh pergerakan: Soekarno, Hatta, Sjahrir, dan Soetomo.

Baca Juga:  Denys Lombard ke Makam Kiai Telingsing: Ziarah dalam Sepi (3, Bagian Akhir)

Perbedaan paling menguat adalah khotbah. Cerita itu pernah dimuat di majalah keagamaan. Hamka pantas menaruh khotbah-khotbah berkaitan buruh, keimanan, dan nasionalisme. Tokoh Yasin, pemilik tanah dihuni kaum buruh dan mengadakan pengajian keagamaan, berperan dalam seruan-seruan agama. Tuan Direktur adalah sasaran dari sebutan manusia diperbudak uang. Tamak mengeraskan hati dan menumpulkan akal untuk berbuat kebaikan pada sesama. Khotbah paling panjang diberikan pada Fauzi, tokoh muda. Khotbah berupa penguatan iman dalam kerja mencari rezeki halal dan saran agar mengajarkan baca-tulis pada kaum buruh. Fauzi pun tampil sebagai manusia merdeka, tak diperbudak uang dan menebar kebaikan bagi kaum buruh untuk mengalami zaman kemajuan. Kita membaca cerita dan sisipan khotbah ibarat mengerti tanggapan Hamka pada situasi zaman dan memberi suara atas keinsafan berpijak agama dan nasionalisme. Begitu.

Lihat Komentar (0)

Komentari