Sedang Membaca
Tadarus Rumi Bareng Haidar Bagir
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Tadarus Rumi Bareng Haidar Bagir

M. Fahruddin Al Mustofa

Ramadan kali ini banyak kejadian yang menjadi fokus dari media sosial. Kebanyakan berisi kabar duka, mulai serangan teror bom, kebiadaban teroris, wafatnya seorang tokoh, hingga tindakan persekusi terhadap warga Ahmadiyah di Lombok yang menciderai keberagaman kita.

Untuk menanggulangi arus berita yang hanya berisikan kabar duka, tindak intoleran, dan konten-konten penyebar kebencian, golongan santri millenial mulai ikut terjun ke dalam arus ini sebagai penyeimbang dan stakeholder dari Islam ramah ala nusantara.

Dengan adanya pengajian online para kiai, masyayikh dan intelektual muda moderat yang disiarkan di kanal Facebook ikut membendung arus radikalisme yang makin lama, makin nyata kebengisannya.

Ada beberapa konten yang saya suka, mulai dari channel Gus Mus yang pada posonan kali ini mengaji kitab Tajul Arusy karangan Ibnu Athaillah As-Sakandary. Juga ada Gus Ulil yang mengaji banyak kitab, mulai dari Ihya’, tafsir Al-Ibriz, juga risalah Himayatul Kanais Fil Islam yang beliau hadiahkan untuk para Banser yang sregep menjaga gereja.

Ada lagi Gus Yusuf yang mengkaji risalah Burdah. Dan masih banyak lagi akun resmi dari pondok pesantren ikut andil menyiarkan secara online ngaji Pasaran atau kilatan dari pondok bersama para kyai.

Tapi yang akan menjadi fokus tulisan ini adalah Tadarus Rumi yang diampuh oleh Haidar Bagir. Kanal ini disiarkan langsung oleh fanspage Mizan Wacana. Berisi video pendek yang membahas seluk beluk puisi-puisi Rumi yang terkumpul dalam buku Belajar Hidup dari Rumi dan Mereguk Cinta Rumi anggitan beliau.

Baca juga:  Beramadan di Iran, Yuk!

Metode yang digunankan sangat sederhana tapi kaya akan makna. Beliau mulai dengan membacakan satu puisi secara utuh, kemudian mensyarahkan kalimat-kalimat yang muskil dan mengurai metafora yang tersimpan dibalik kata demi kata. Barulah dijabarkan bagaimana sudut pandang tasawuf yang digunakan oleh Rumi dalam menyusun syair-syair cintanya.

Seperti yang disebutkan pada pembukaan Tadarus Rumi ini, bahwa Maulana Jalaluddin Rumi adalah seorang penyair yang luar biasa. Membahas banyak hal, mulai dari puisi, syair mahabbah, alam, dunia fisik, dunia rohani. Juga menulis tentang manusia, Tuhan dan hubungan antara manusia dengan Tuhannya. Dan hebatnya, walaupun Rumi bukan seorang penulis tasawuf Irfani seperti halnya Ibnu Arobi, tapi dalam puisi-puisinya terkandung inti ajaran Wahdatul Wujud. Atau lebih dikenal dengan istilah tauhid wujudi atau tauhid eksistensial.

Untuk lebih jelasnya mari kita simak puisi Rumi berjudul Sirnalah Dalam Seruan yang disarikan dari kitab Masnawi.

“Paduka” kata Daud. “Karena kau tak butuh kami,
mengapa kau cipta dua dunia ini?”

Sang hakikat menjawab, “wahai tawanan waktu

Dulu aku perbendaharaan rahasia
kebaikan dan kedermawanan

Kurindu perbendaharaan ini dikenali
maka kucipta cermin;..

Paragraf awal ini berisi tentang dialog antara Nabi Daud dan Allah Swt. yang bertanya untuk apa diciptakannya dunia ini, baik dunia fisik maupun dunia rohani. Sang Hakikat disini bermakna Allah. Juga kata “tawanan waktu” yang memiliki arti manusia yang walaupun hakikatnya memiliki sifat ketuhanan, tapi ia masih terikat dengan waktu. Waktu disini sebagai bagian dari urusan duniawi yang menjerat manusia dalam kelalaian.

Baca juga:  Ramadan dalam Kenangan: Tarawih dan Para Penghafal Alquran

Ada sebuah hadis qudsi yang menjadi landasan pemikiran ketuhanan yang dibangun oleh para sufi. Hadis itu berbunyi;

كنت كنزا مخفيا. فاحببت ان اعرف. فخلقت الخلق لكي اعرف.

Hadis inilah yang mengilhami rumi menyusun empat baris akhir puisi diatas. Rumi menggunakan metafor cermin sebagai ganti dari seluruh makhluk. Tuhan menciptakan seluruh makhluk atas dasar cinta. Jadi bisa dibilang, seluruh alam dan makhluk ini adalah manifestasi Tuhan.

Mukanya yang cemerlang, hati
punggungnya yang gelap, dunia
punggungnya kan memesonamu
jika tak pernah kau lihat mukanya

Baca Juga
Sabilus Salikin (26): Akhlak Mulia (Husnul Khuluq) 2

Paragraf ini menjelaskan bahwa cermin yang diciptakan Tuhan mempunyai dua sisi. Sisi pertama yaitu muka yang digambarkan cemerlang, bening, murni adalah hati manusia. Sedangkan sisi yang lain adalah gelap, yang bermakna dunia dan segala tipu dayanya. Kebanyakan dari manusia berhenti pada punggung yang gelap, disebabkan oleh nafsu rendah kita yang lebih memilih gemerlapnya dunia daripada kemurnian hati yang di dalamnya dapat kau temukan Tuhanmu.

“Sesungguhnya hakikat pencerahan dari kebahagian kita berada pada hati kita. Sungguh salah satu hal yang menyebabkan hati kita terhijab dari hakikat keilahian adalah larut dalam tipu daya dunia.” Jelas Haidar Bagir.

Baca juga:  Raghib Abu Hamdan dan Seni Kaligrafi Baru

Pernahkah ada yang membuat cermin
dari lumpur dan jerami?
Maka sapulah lumpur dan jerami itu,
maka sebilah cermin kan tersingkap

Ingatlah tuhan sebanyak-banyaknya
hingga kau terlupakan
biarlah penyeru dan Yang Diseru
sirna dalam seruan

Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa dosa atau maksiat ibarat titik hitam yang berada pada putihnya hati. Semakin banyak manusia melakukan maksiat, semakin banyak titik hitam dan semakin gelap hati manusia. Maka disinilah peran tasawuf sebagai penyucian jiwa. Atau lebih dikenal dengan tazkiyatun nafs.

Dua baris indah yang didendangkan Rumi adalah “Ingatlah Tuhanmu sebanyak-banyaknya, hingga kau terlupakan.” Adalah sebuah inti betapa indahnya kedekatan antara manusia dan Tuhannya.

Sirna yang dimaksud disini adalah sebuah proses akhir dari hilangnya ego, keakuan, kebesaran, kesombongan diri kita di hadapan Tuhan yang maha kasih. Ketika segala sifat kemanusiaan itu sirna, maka yang ada hanya Tuhan dalam hatimu. Inilah intisari pemikiran Rumi yang bermuara pada fana’ billah atau ittihad. Jadi yang menyatu bukan manusia kepada Tuhan, tapi sifat lemah dan kehambaan manusialah yang terserap dalam kemahabesaran Allah itu sendiri.

Sekian catatan kecil ini merangkum apa yang disampaikan oleh Haidar Bagir. Semoga pemikiran-pemikiran cemerlang beliau dapat memberi kemanfaatan untuk khlayak.

Tabik, Casablanca, 27 Mei 2018

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top