Sedang Membaca
Kearifan Lokal Warga Dusun Pandanderek Ponorogo: Dari Slametan hingga Cara Merawat Keberagaman
Penulis Kolom

Penulis sedang menempuh jenjang S1 di IAIN Ponorogo, jurusan Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir.

Kearifan Lokal Warga Dusun Pandanderek Ponorogo: Dari Slametan hingga Cara Merawat Keberagaman

2

Dalam Atlas Wali Songo, almarhum Kiai Agus Sunyoto mengatakan bahwa agama Islam mengalami perkembangan pesat di Nusantara khususnya di Jawa dalam waktu 50 tahun. Padahal sebelumnya selama 800 tahun agama Islam tak bisa berkembang. Berdasarkan penelusurannya, Kiai Agus memberikan kesimpulan bahwa perkembangan pesat Islamisasi di Jawa ialah dari cara metode dakwah yang dibawa oleh Wali Songo.

Bagi masyarakat jawa, khususnya penganut kejawen mereka sangat mengenal Sunan Kalijaga. Bahkan jika dirunut dalam berbagai cerita yang dituturkan nama Sunan Kalijaga tak terkesampingkan. Sunan Kalijaga membawa Islam dengan “laku”, artinya, nilai-nilai Islam dituangkan ke dalam setiap perilaku termasuk dalam kesehariannya sebagai orang jawa.

Dalam merefleksikan hal ini penulis melakukan penelusuran di Dusun Pandanderek berada di Desa Winong Kecamatan Jetis Kabupaten Ponorogo. Permulaan Babad dusun ini dimulai pada masa Simbah Arif yang makamnya ada di Dukuh Majasem Desa Madusari. Dalam perkembangan sepuluh tahun terakhir banyak perubahan  di lingkungan Dusun Pandanderek. Roda zaman terus berputar, globalisasi kian menjadi, eksistensi pun terancam terganti. Dalam perkembangan budaya dan tradisi akhir-akhir ini sangat nampak terjadinya pembaharuan secara sadar maupun tidak.

Penulis merefleksikan tradisi slametan yang masih eksis di lingkungan dusun Pandanderek. Meskipun demikian banyak sekali terjadi perubahan dalam kurun waktu satu dekade terakhir. Perubahan itu kini nampak dalam “berkat” yakni makanan yang disuguhkan untuk para tamu yang hadir untuk dibawa pulang. Dahulu berkat itu disuguhkan dalam makanan yang sudah siap santap sedangkan sekarang kebanyakan acara slametan sudah jarang menyuguhkan hidangan siap santap. Sebagai ganti dari hidangan siap santap tersebut diganti isinya menjadi sembako.

Baca juga:  Menjaga Wariga Sasak, Menjaga Harmoni

Demikian pula dalam tata cara penyelenggaraan slametan yang ada. Dahulu slametan prosesnya demikian rumit yang paling nampak adalah adanya sesi ngajatne. Ngajatne ialah suatu prosesi yang berisi untaian sastra jawa berisi harapan-harapan yang kini disebut doa. Proses ngajatne dipimpin oleh sesepuh. Akan dimulai dengan menyiapkan uborampe berupa macam-macam jenis makanan yang disajikan dengan tata cara tertentu. Kemudian dilanjutkan dengan menyebutkan istilah istilah lebih tepatnya sanepan dari uborampe yang disiapkan. Sanepan adalah penyampaian suatu pesan dalam simbol-simbol. Misalnya yang kini masih eksis adalah apem, iwel-iwel dan ingkung. Kini proses ngajatne sudah sangat jarang ditemui kecuali pada acara-acara besar. Padahal secara filosofis pesan-pesannya sangat mendalam. Kemudian menjadi seremonial belaka lalu kini diambang kepunahan.

Begitupun pada tradisi puji-pujian yang dilaksanakan diantara adzan dan iqomat. Puji-pujian yang dilantunkan sangat beragam baik yang berbahasa arab maupun berbahasa jawa. Dalam pengamatan sepuluh tahun kebelakang puji-pujian mengalami perkembangan yang dinamis. Dahulu mulanya lebih condong dalam bahasa jawa. Hal tersebut dikarenakan agar nasihat-nasihat bisa diterima dengan mudah oleh masyarakat.

Kini puji-pujian masih eksis salah satunya di Masjid Al-Iman. Disana masih ditemui puji-pujian baik dilantunkan oleh golongan tua maupun muda. Tentunya ragamnya kini tak sebanyak dulu. Ragam puji-pujian itu diantaranya yang melegenda adalah syair Eling-Eling, yang kini sudah tak ada yang melantunkannya.

Baca juga:  Merajut Kebersamaan dan Menghidupkan Toleransi Melalui Tradisi Bakar Batu

Penulis juga mengamati tata letak masjid di dusun Pandanderek. Dalam tata letak masjid kuno lokasi masjid sangat diperhatikan. Misalnya letak masjid-masjid agung diberbagai kota besar di Indonesia seperti Yogyakarta, Solo dan Demak. Masjid agung terletak satu komplek dengan area pemerintahan, pasar, dan alun-alun. Masjid mempunyai dwi fungsi bagi masyarakat sekitar terkait ibadah dan muamalah.

Di dusun Pandanderek terdapat dua masjid yakni Masjid Al-Huda dan Masjid Al-Iman. Masjid Al-Huda letaknya tepat ditengah Dusun Pandanderek. Dalam komplek masjid itu terdapat perempatan pusat, cakruk (poskamling), madrasah, warung dan rumah sesepuh. Berikut adalah gambar saat renovasi cakruk (poskamling) didepan masjid Al-Huda:

Sedangkan masjid Al-Iman berada di Jalan Nasional 3 (Ponorogo Trenggalek) berpapasan dengan jalan utama menuju Desa Ngabar Kecamatan Siman. Dalam komplek masjid Al-Iman terdapat rumah sesepuh, warung, cakruk (poskamling). Letak dari dua masjid ini menjadi sentral atas kegiatan masyarakat terutama terkait ibadah, sosial serta pusat informasi. Hal senada dengan masjid-masjid agung dikota-kota besar terutama masjid kuno di wilayah permulaan penyebaran agama islam.

Dengan menelusuri kembali sejarah terdekat dengan kita serta mengambil pola-pola kearifan para pendahulu maka kemungkinan terjadinya konflik dalam menyampaikan dakwah bisa diredupkan. Dengan begitu tidak akan mudah menyalahkan orang lain dan lebih mengutamakan penyelesaian secara seksama dengan mengindahkan nilai-nilai kemanusiaan sehingga peran manusia sebagai khalifah kongkrit menjadi rahmat bagi semesta raya.

Baca juga:  Nilai Pendidikan Tradisi Nyadran Tidak Sekadar Birrul Walidain

Sebagai penutup penulis mengutip dua ayat yakni Tafsir Surat An-Nahl ayat 125 dan Surat Ibrahim ayat 4 dari karya KH Bisri Mustofa dalam kitab Tafsir Al-Ibriz

Siro Muhammad ngajak-ngajako marang agamane Pengeran iro kelawan hikmah lan pitutur kang bagus. Lan ladenono bantahe wong-wong kang podo bantah sarana coro kang bagus. Saktemene Pengeran iro iku pirso marang wong-wong kang sasar sangking dalan-dalane Allah. Lan pirso marang wong-wong kang oleh pituduh

Ingsun Allah ora ngutus utusan kejobo kelawan nganggo bahasane bongsone supoyo utusan mau biso ngertekake marang bongsone. (Bejo-bejone kang oleh pituduh, cilakane kang sasar). Allah ta’ala kuoso gawe sasar marang sopo bae kang dikersakake. Lan kuoso nuduhake marang sopo bae kang dikersakake. Allah ta’ala iku dzat kang menang tur wicaksono

Sekiranya tak bisa diwariskan secara eksistensi, setidaknya literasi cukup untuk menjadi saksi agar generasi kedepan tak terombang-ambing karena gengsi menyoal identitas tanpa mengetahui jati diri.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top