Sedang Membaca
Menyimak Puisi Islam Awal Abad 20
Bandung Mawardi
Penulis Kolom

Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah

Menyimak Puisi Islam Awal Abad 20

Puisi itu dakwah. Catatan sejarah sastra di Indonesia belum lengkap jika cuma memulai puisi di masa 1920-an. Sekian nama minta diingat dalam pelajaran di sekolah: M Yamin dan Roestam Effendi. Mereka mengawali puisi bercorak modern dengan peniruan dan pembenahan agar gubahan puisi bercerai dari paham lama.

Puisi-puisi sebelum masa 1920-an sering ditinggalkan dalam pelajaran atau kuliah. Puisi-puisi wagu tapi revolusioner dari Marco Kartodikromo belum diresmikan ada di jalan sejarah resmi sastra di Indonesia. Tokoh tenar dengan Doenia Bergerak dan Studend Hidjo itu sering pamer puisi di surat kabar dan buku tapi “lupa” diumumkan sebagai pujangga.

Nama-nama sebelum Marco Kartodikromo tentu semakin ada di deretan “lupa”, kesengajaan berdalih estetika dan politik. Kita ingin menjenguk puisi-puisi awal abad XX gubahan para pujangga bernama tapi “mustahil” ada di materi pengajaran sastra menuruti sekian kurikulum. Tiga puisi dimuat di Soeling Hindia edisi 1 Januari 1910. Dua puisi berdakwah Islam. Puisi terpilih ketimbang khotbah prosaik.

Puisi berjudul “Aneka Warna” gubahan Tjahja Pelita sudah mengabarkan si pujangga bernama pena itu tekun belajar Islam. Ia membaca kitab-kitab Al Ghazali. Nama kitab tak dicantumkan di puisi tapi mengingatkan kita pada kitab moncer Ihya Ulumuddin.

Dulu, orang-orang membaca mungkin masih beraksara Arab. Kitab didatangkan dari Mesir atau India. Belajar agama dengan buku-buku hasil mesin cetak tentu agak mengubah pengertian dakwah di abad modern. Tjahja Pelita menulis:

Baca juga:  Sadio Mane Membuktikan Bahwa Dakwah Bukan Hanya Jadi Imam Masjid

Bahasa dengki sebesar kedjahatan/ Ditengahkan soeara tak boleh kelihatan/ Karena haram jang berlipatan/ Doenia acherat tiada kesempatan// Demikian kata Imam Gazali/ Jang perloe kita pedoeli/ Akan soepaja djangan boeta toeli/ Hal agama haroes dibetoeli.

Puisi sudah mengutip bacaan klasik sudah mulai menjadi buku cetak di Hindia Belanda. Puisi itu mirip kesan pembaca kitab Al Ghazali untuk disampaikan ke para pembaca dengan umat Islam.

Puisi itu berdakwah saat pers memberi pikat keaksaraan bagi para pembaca di tanah jajahan. Seruan Islam turut ada di halaman-halaman surat kabar, memberi jalan dakwah puitis. Pada puisi berjudul “Islam” gubahan pujangga berinisial BK di Soeling Hindia, 1 Januari 1910, tampak gamblang berpenjelasan urut. Puisi mengantarkan rukun Islam tanpa rimbun metafora atau permainan ibarat. BK menulis:

Roekoennja Islam lima perkara/ Sjahadat, salat, djakat of pitera/ Poewasa dan pergi berdjara/ Ke Mekkah kota jang bersedjahtera. Pembaca beragama Islam langsung mengangguk: mufakat membenarkan tanpa bantahan. Rukun Islam ditata dalam larik ingin diakui puisi. Islam pun dijelaskan sebait bagi pembaca: Artinja perkatahan Islam/ Menoeroet pendapetan orang sealam/ Ialah selamat tiada tenggelam/ Mendjoendjoeng prentah siang dan malaem.

Puisi berjudul “Islam” dimuat di surat kabar tentu menginginkan tatapan pembaca, tak bergantung pada pendengaran saat dijelaskan dalam khotbah lisan dalam pengajian-pengajian.

Baca juga:  Meneroka Lokalisasi Melalui Kehidupan Lalat Buah

Puisi ketiga tampil di Soeling Hindia berjudul “Choebbiljahi” digubah pujangga tak mau menulis nama terang. Redaksi menjadikan si penulis itu anonim. Puisi beramanat terang, memberi nasihat ke pembaca mengacu ke Islam. Dua bait mencukupi sebagai dakwah puitis:

Artinja choebbiljahi itu/ Ialah orang nan seneng kamegahan/ Itoepoen ditengahkan tentoe/ Oleh Toehan adjang pegang peprentahan// Demikian firman Allah/ Harep imankan djanganlah salah/ Agar soepaja tiada katoelah/ Terkoetoek hidoepnja seolah-olah.

Pakem puisi lama itu menuntut “irama” dan kesamaan akhiran. Pembaca masa lalu tak terlalu repot membaca ada pemaksaan salah tempat urutan kata. Si pujangga memang memilih ketepatan di belakang meski menggeser kelaziman berbahasa. Pembaca berjarak ratusan tahun jangan berlagak memberi kritik. Tiga puisi itu tersaji ke pembaca di tanah jajahan saat kaum melek aksara masih sedikit. Puisi sengaja berdakwah Islam.

Kita terpisah jauh dari keinginan sekian orang menggunakan surat kabar untuk dakwah. Sastra dipujikan tapi berbeda cara dan haluan dari pengetahuan orang-orang pada sastra Melayu dan Jawa klasik. Penggubahan puisi di halaman surat kabar berbarengan berita, iklan, informasi lelang, can artikel mungkin menginginkan ada puitisasi dalam mengerti laju dakwah awal abad XX.

Pembaca sastra abad XX mungkin enggan menaruh tiga puisi itu di permulaan gejala penulisan sastra bercap Islam dalam sejarah kesusastraan modern di Indonesia. Kemeriahan sastra bermisi atau bermuatan ajaran Islam cenderung ke masa 1950-an sampai sekarang. Masa lalu sudah dibiarkan tanpa permintaan mengingat nama-nama pendakwah melalui puisi.

Baca juga:  Tembang Macapat dalam Catatan Santri

Dulu, puisi dakwah itu mungkin kurang mendapatkan jumlah pembaca. Ingatan sedikit orang memudahkan “lupa” hinggap dan menetap, dari masa ke masa. Begitu.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
1
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top