Sedang Membaca
Interupsi (Belajar) Itu Bernama Pandemi
Ari Ambarwati
Penulis Kolom

Pengajar Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Islam Malang. S1: Sastra Inggris Universitas Negeri Jember, S2 dan S3: Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Malang. Pernah menjadi wartawan olahraga di Tabloid GO. Tim Penyusun Buku panduan praktik baik pendidikan karakter SMK 2018-2019, Direktorat Pembinaan SMK-Kemdikbud. Penulis Buku Nusantara dalam Piringku, penerbit Gramedia Pustaka Utama, Juni 2019. Tim Supervisi Bahasa dan Konten iklan layanan masyarakat kampanye Antistunting Kementerian Kominfo (2017-2018). Saat ini juga bergiat di literasi pangan dan sastra untuk pendidikan toleransi.

Interupsi (Belajar) Itu Bernama Pandemi

Whatsapp Image 2020 04 04 At 9.07.17 Am

Pembelajaran jarak jauh di era pandemi adalah “ruang kelas”, sementara kewaspadaan, literasi kesehatan, dan pemahaman mitigasi pandemi adalah “capaian belajar”.

Akhir 2019 dan awal 2020, dunia masih disandera pandemi corona virus disease-19. Pada 11 Maret 2020, Direktur Jenderal World Health Organization (WHO), Dr.Tedros Adanom Ghebreyesus, mendeklarasikan bahwa Covid-19 adalah pandemi.

Deklarasi Covid-19 sebagai pandemi didasari pada fakta bahwa virus ini telah menginfeksi 110 negara. Virus Covid-19 ini bukan melulu krisis kesehatan publik, tapi krisis multifaset. Krisis kesehatan publk ini faktanya menyeret krisis di bidang lain, seperti sosial, ekonomi, hukum, tak terkecuali pendidikan.

Akhir semester kedua 2019 hingga memasuki semester pertama 2020, dunia pendidikan nasional tengah menerjemahkan dan menjalani kebijakan merdeka belajar, baik di institusi pendidikan dasar menengah (Dikdasmen), maupun di pendidikan tinggi.

Orientasi tujuan belajar, fleksibilitas kegiatan belajar dan kebermanfaatan belajar adalah tiga frasa kunci kebijakan merdeka belajar, yang digulirkan Menteri Nadiem. Ketiganya sedang dijalankan dengan mempertimbangkan kondisi tiap sekolah dan wilayah yang berbeda. Siswa, guru, dan sekolah ibaratnya sedang asyik belajar mempraktikkan kemerdekaan belajar, sampai kemudian interupsi bernama pandemi Covid-19 hadir menyapa.

Interupsi pandemi Covid-19 sepanjang milenium ketiga di Abad 21 ini membuat sektor pendidikan nasional mengakselerasi praktik belajar dengan “kemerdekaan” yang kontekstual, eksperimental, sekaligus multidimensional. Betapa tidak, Ujian Nasional (yang sedianya ditiadakan pada 2021) terpaksa lebih cepat ditiadakan, dengan alasan bahwa keamanan dan kesehatan siswa, guru, dan tenaga pendidik lainnya, adalah prioritas utama.

Untuk menentukan kelulusan, sekolah dapat melaksanakan Ujian Sekolah (US) tanpa tatap muka atau menggunakan ujian dalam jaringan (daring/online) atau jika tidak bisa menggelar ujian daring karena keterbatasan jaringan internet, sekolah bisa menggunakan basis nilai kumulatif rapor selama lima semester plus semester akhir dan atau ditambah dengan portofolio siswa.

Lebih dari delapan juta siswa SD-SMA yang sedianya akan melaksanakan Ujian Nasional (UN) pada Maret-April 2020, saat ini melaksanakan kegiatan belajar jarak jauh, melalui pembelajaran daring dan nondaring. Sekolah-sekolah yang terkoneksi internet dengan siswanya dapat menjalankan pembelajaran daring.

Sedangkan, sekolah-sekolah yang terkendala jaringan internet, termasuk siswa yang tidak memiliki gawai pintar maupun komputer atau laptop di rumahnya, dapat menyelenggarakan pendidikan sesuai dengan kondisi siswa dan lingkungan  masing-masing. 

Sesederhana itu pembelajaran daring dan pembelajaran alternatif dilangsungkan? Tentu tidak. Karena pandemi Covid-19 ini membuat guru dan siswa di satu sisi harus kreatif mencari model belajar yang customized, model belajar nirtatap muka, yang efektif dan sesuai dengan akses keterjangkauan informasi siswa dan guru.

Tetapi di sisi lain, siswa dan guru harus terampil mengelola kecemasan karena pandemi Covid-19 ini penyebarannya begitu masif. Berita-berita di media massa maupun media sosial memaksa siswa dan guru mahir menerjemahkan kecemasan itu menjadi kendaraan untuk tetap produktif belajar dan bekerja dari rumah.

Ada kegamangan bagi guru dan juga dosen, bagaimana kalau kompetensi inti/kompetensi dasar atau capaian pembelajaran tidak tuntas dan tidak selesai? Apakah pembelajaran di tengah  pandemi ini menjadi tidak berguna dan tidak sesuai tujuan pembelajaran?

Sementara pembelajaran daring yang dikeluhkan siswa dan mahasiswa sejauh ini adalah kuota internet yang terbatas dan jaringan internet yang tidak maksimal. Bagi sekolah yang tidak menerapkan pembelajaran daring untuk siswanya, kekhawatiran yang sama, juga mengemuka. Lantas, apakah interupsi pandemi Covid-19 ini tak memampukan siswa dan guru melaksanakan aktivitas belajarnya?

Penyesuaian Pola Belajar

Baca juga:  Gus Baha' dan Persiapan Bulan Puasa di Tengah Virus Corona

Secara total, ada 1.4 milyar siswa di 136 negara di seluruh dunia yang melaksanakan aktivitas pembelajaran jarak jauh. Interupsi kolosal pandemi tak dihadapi Indonesia sendirian. Interupsi kolosal yang diantarkan Covid-19 dalam rupa pandemi, membuat semua institusi pendidikan menghadapi kondisi dan situasi merdeka belajar yang sesugguhnya.

Sekolah dan Pendidikan Tinggi harus berjuang menemukan pola pembelajaran daring dan nondaring terbaiknya, meski ini juga menuntut sederet prasyarat lainnya: ketersediaan jaringan internet yang memadai; aksesibilitas jaringan internet bagi mahasiswa, menawarkan subsidi kuota internet bagi siswa dan mahasiswa yang membutuhkan; menyesuaikan kembali beban belajar; meninjau bobot penilaian; membuat penilaian alternatif; memberikan dukungan komunikasi belajar yang lebih sesuai untuk pembelajaran jarak jauh bagi siswa, mahasiswa, guru, dosen, dan orang tua.

Mendikbud Nadiem memang mendorong agar pembelajaran di rumah tak seratus persen dilakukan secara daring, agar tidak menimbulkan kecemasan baru bagi siswa dan mahasiswa, karena keterbatasan akses internet dan persoalan dukungan gawai yang memadai. Mendikbud juga mendorong agar ide-ide kreatif sekolah-sekolah, yang melakukan pembelajaran jarak jauh nondaring, dapat diakomodasi oleh Kemdikbud. 

Guru atau sekolah yang sudah melakukan praktik baik pembelajaran daring maupun nondaring, seyogyanya juga difasilitasi untuk dapat mengunggah praktik baiknya di kanal media sosial dan dapat disebarluaskan dengan bantuan kanal pembelajaran Kemdikbud, agar dapat diakses dan dipraktikkan oleh sekolah lainnya.

Bahkan siswa dapat mengikuti pembelajaran di sekolah lain untuk matapelajaran dengan kompetensi inti yang sama secara mandiri, seperti yang sudah dilakukan oleh Dikti dengan memberi keleluasaan pada Perguruan Tinggi untuk membuka akses kuliah daring matakuliah terpilih, yang dapat diakses oleh mahasiswa di Perguruan Tinggi lainnya.

Dalam jangka pendek, pembelajaran jauh nondaring di waktu interupsi pandemi seperti ini, memang masih bergantung pada media kertas, mengingat infrastruktur tidak dan belum memadai, khususnya di wilayah pelosok Indonesia.

Pembelajaran jarak jauh nondaring juga dapat mengandalkan dukungan komunitas-komunitas adat dengan bantuan perangkat desa setempat. Misalnya, dengan memanfaatkan sarana komunikasi dan dana desa yang pengelolaannya dapat dipertanggung jawabkan. Ini juga momentum  bagi desa untuk ikut berperan aktif dan mampu memproyeksikan kebutuhan belajar warganya. 

Dalam jangka panjang, interupsi kolosal pandemi Covid-19 ini seharusnya menjadi momentum untuk memetakan kebutuhan pembelajaran jarak jauh daring di wilayah-wilayah tertentu. Seberapa banyak bandwith yang diperlukan, bagaimana dukungan listrik, politik penganggaran pendidikan baik di daerah maupun pusat.

Kemdikbud tentu tak bisa bekerja sendiri untuk mewujudkan akses pendidikan yang setara, sebab dukungan sistem pendidikan juga diperlukan dari kementerian lain seperti Kominfo, Kemdagri, Kemendes, dan Kementerian Perhubungan. 

Pembelajaran Bermakna Kala Pandemi

Baca juga:  Jaringan Lintas Iman Tanggap Covid-19 Salurkan 100.000 Masker untuk Tenaga Medis

Kecemasan, ketakutan, serta kekhawatiran guru dan dosen bahwa pembelajaran jarak jauh menumpulkan pisau capaian belajar secara akademik, saya pikir menjadi tidak relevan lagi. Sebab pembelajaran bermakna di kala pandemi sudah diperoleh siswa dan mahasiswa setiap saat, dengan spektrum yang sangat luas dan beragam.

Hari-hari ini, tutorial Do It Yourself (DIY) membuat masker nonmedis, pelindung muka (face shield), penyanitasi tangan (hand sanitizer), disinfektan berbahan herbal, bahkan bagaimana menciptakan suasana belajar yang menyenangkan di rumah, dapat dengan mudah didapatkan dan dibaca siswa. Siswa mendapatkan pengetahuan baru terkait bagaimana melindungi diri dan lingkungan dari penyebaran wabah Covid-19 dengan melakukan physical and social distancing.

Segenap istilah medis yang berkait dengan Covid-19 juga silih berganti muncul dan diekspos terus menerus di media sosial, TV, radio, koran, pesan terusan di grup-grup media sosial. Istilah teknis karantina wilayah atau lockdown, isolasi mandiri, dan seterusnya menjadi frasa yang diakrabi siswa. Cara menjaga kesehatan tubuh berikut meningkatkan imunitas tubuh melalui asupan makanan yang bergizi, berikut tips-tips dari psikolog bagaimana mengelola stress di saat belajar dari rumah juga gampang diakses untuk dipahami.

Pengetahuan serta informasi yang didapat siswa dari sumber belajar manapun, selama belajar di rumah karena pandemi Covid-19, menjadi materi penting yang harus dipahami siswa, Agar mereka dapat menjaga diri dan lingkungannya demi tidak tertular Covid-19. Pengetahuan itu tentu sangat mendukung materi belajar yang diberikan oleh guru.

Bukankah pembelajaran yang dilakukan siswa di rumah saat ini, dengan bimbingan guru, merupakan pembelajaran yang bermakna? Karena mereka mengalami langsung dan merekam kejadian di sekitarnya tentang bagaimana pandemi Covid-19 membuat mereka harus memahami virus bermahkota tersebut.

Mereka (dan kita) harus paham di mana virus tersebut pertama kali menyebar, bagaimana pola penyebaran virus tersebut. Mereka harus paham pula mengapa pemerintah meminta aktivitas belajar di rumah saja. Mereka melihat bagaimana sekelompok orang kehilangan penghasilan karena tak bisa bekerja di luar rumah seperti biasanya.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Cara berpikir dan bernalar yang sudah didapatkan di sekolah maupun bangku kuliah, ditajamkan melalui peristiwa dan tragedi kemanusiaan, yang menghubungkan banyak negara dan meminta solidaritas semua orang untuk peduli dan berempati.

Yang perlu diproyeksikan guru dan dosen saat ini adalah bagaimana memformulasikan praktik baik belajar, yang memampukan siswa dan mahasiswa menjadi pembelajar yang bermental penyintas.

Empat formula tersebut adalah (1) tanggap, kritis, sekaligus tangguh menghadapi interupsi kolosal, yang bisa jadi akan terulang kembali di masa mendatang. (2) Literat terhadap informasi dan pengetahuan kesehatan untuk meningkatkan kualitas kehidupan mereka.

(3) Kemahiran bermitigasi baik untuk krisis kesehatan publik maupun bencana alam, merupakan kompetensi yang tak bisa ditawar. (4) Terakhir, sebaiknya kita mulai berpikir, bagaimana seharusnya interupsi kolosal bertajuk pandemi ini dapat mengaktifkan imajinasi siswa dan mahasiswa, agar mampu bertahan belajar dan produktif dari rumah. (SI)

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top