Muslimah Prancis, Pujen, dan Shalawat Asyghil

Afrizal Qosim Sholeh

Melalui direct message Instagram, Samia Katel salah satu temanku mahasiswi Universite de Lyon, Prancis, sangat berharap bisa memiliki (would you send to me the video on whatssap?) dan mendengarkan setiap hari video “Shalawat Asyghil” yang saya posting di akun Instagram pribadiku.

Permintaan ini mengagetkanku. Karena dia muslimah Prancis yang baru kukenal ketika ia mengisi seminar “Islam Prancis” di Yogyakarta, Januari 2018 silam, ternyata begitu menyukai pujen (masha Allah your last anasheed on instagram is so beautiful!). Lebih bahagia lagi ketika ia sangat berniat memiliki video itu untuk didengarkan setiap hari. “Would love to listen to it every morning’’, pintanya di pesan singkat Instagram.

Saya kemudian mengirimkan video itu dan berharap ia bisa menikmati dengan baik. Respon yang dia berikan tidak mengecewakan bahkan ia meminta teks shalawat asyghil, barangkali untuk memudahkannya dalam menghafal. Bisa dibayangkan jika di Prancis, hal-ihwal seperti itu sulit ditemukan. Dengar saja tidak apalagi sanggup menghafalnya. Sama halnya ketika di produksi video kedua, ia sengaja saya kirimi. Dan muslimah Prancis itu masih menyukainya.

Belakangan ada kesenjangan antara jamaah masjid. Mayoritas yang nguri-nguri terdiri dari orang tua dan anak-anak, sedang kaum muda sudah jarang terlihat ikut mendayagunakan masjid baik secara fungsional maupun substansional.

Baca juga:  Antara Nagham, Qiro'ah dan Tajwid

Sewaktu kecil, menjelang Salat Magrib pujen paling sering didaras. Saya dan teman-teman sangat bersemangat pergi ke langgar dan melantunkan pujian.

Di waktu-waktu peralihan itu, pujen membuat orang berpikir, merenung dan tergerak menuju masjid. Entah untuk menunaikan panggilan salat atau sekedar menanyakan “seng pujen mau sopo rek? Cek enak e”. Tapi sekali lagi eskalasi dimensi pujen tidak hanya sebatas itu.

Nas dan Keutamaan
Dalih diperbolehkannya pujen juga ditulis oleh Imam Abi Zakariya dalam kitabnya berjudul al-Adzkaru an-Nawawi Hadis No.102. Nas-nas lain lebih berkisar pada anjuran membaca shalawat kepada Nabi. Sementara itu, beberapa kalangan Islam masih menganggapnya sebagai bid’ah.

Sejauh yang saya ketahui, pujen bukan hanya lagu-lagu yang dibaca sebelum salat belaka, ia kerapkali menjadi wirid yang diyakini sangat berpengaruh dalam pranata kehidupan masyarakat, seperti pertanian, tumbuh-kembang padi, tambak, ladang tembakau, dan lain-lain.

Maka dari itu, tidak sedikit komunitas masyarakat Islam tradisional yang mempunyai tradisi pujen tertentu untuk kemakmuran desa/wilayah huniannya.

Baca Juga

Seperti di Sampurnan, Kec. Bungah, Gresik, shalawat “likhomsatun” dijadikan wirid bakda salat maktubah yang dilagukan secara “barungan”, yakni santri bersama-sama mengikuti pelafalan kiai. Amalan ini mengikat erat dengan santri sampurnan, tepatnya Pondok Pesantren Qomaruddin.

Baca juga:  Menelisik Makam di Balik Kuburan Wali (2)

Sedangkan di Mengare, Kec. Bungah, (beberapa keluarga masih kerabat dengan Pondok Sampurnan) shalawat “likhomsatun” menjadi tembang wajib ketika “lebon” (menaruh benih ikan di tambak). Tradisi ini diyakini warga setempat bisa memberikan untung lebih saat panen nanti. Dengan harapan berkah dan limpahan rahmat senantiasa tercurah pada ikan-ikan yang kelak jadi tulang punggung ekonomi keluarga.

Prosedur ritual yang mereka pakai dengan cara mengelilingi setiap teritorial tambak, sembari menggemakan lantunan shalawat tersebut secara berjamaah. Tentu masih banyak tradisi-tradisi seperti itu yang dilakukan di berbagai daerah.

Dari kedua hal tersebut, kami berinisiatif memproduksi pujian/pujen/singiran untuk tidak hanya digaungkan oleh anak-anak ataupun orang tua di pedesaan. Akan tetapi bisa dinikmati secara massal dengan memanfaatkan media daring.—sementara ini baru ada dua video cover “shalawat asyghil” dan pujian “saben malam jum’at” Kiai Kanjeng.

Lihat Komentar (0)

Komentari