Aminudin TH Siregar
Penulis Kolom

Pengajar di Institut Teknologi Bandung. Saat ini sedang menempuh S3 dengan studi sejarah seni, di Universitas Leiden Belanda, sambil menjadi Ketua Lesbumi PCI NU Belanda.

Virus Mematikan Datang; Seniman (bisa) Melakukan Apa?

1 A Isa 1

Pada 11 Maret 2020, WHO mengumumkan Covid-19 sebagai pandemi. Sejak itu, dunia yang ramai mendadak senyap. Keterpurukan di berbagai aspek kini menghantui medan seni global. Hampir di seluruh negara, museum-museum terpaksa ditutup. Ribuan galeri, puluhan artfair internasional, seminar, konferensi, dan balai lelang harus menangguhkan jadwal.

Di Amerika, dampak terburuk diperkirakan akan menimpa ribuan organisasi seni-budaya yang melibatkan lebih dari 725.000 tenaga kerja. Di New York, Museum Metropolitan aktif menebar kampanye penyelamatan kebudayaan. Kampanye itu antara lain mengajak partisipasi masyarakat untuk mendesak Kongres segera mengetuk palu paket stimulus 2 triliun USD yang saat ini sedang diperdebatkan. Paket ini krusial untuk mengatasi keuangan organisasi-organisasi seni-budaya yang mulai merosot. Dalam kampanye itu juga orang-orang diingatkan bahwa lanskap kebudayaan Amerika diambang krisis dan langkah-langkah penyelamatan harus dilakukan.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Di Inggris, Arts Council England (ACE) mengumumkan paket tanggap darurat sebesar 188 juta USD untuk kaum seniman, pekerja lepas, dan organisasi seni selama krisis kesehatan ini berlangsung. Mengingat banyaknya keterlibatan dan ketergantungan orang di medan kesenian, Pemerintah Belanda lebih kurang mengarah ke kebijakan yang sama (saya belum menemukan sumber perihal ini dalam konteks Indonesia). Sementara itu korban jiwa akibat pandemi ini berjatuhan. Beberapa hari lalu, Maurice Berger, seorang sejarawan dan kurator (dia pernah menulis sebuah esai tajam pada 1990 berjudul Are Art Museums Racist?), diberitakan wafat. 

Bagaimana nanti sejarah mengisahkan ekspresi-ekspresi budaya yang merekam horor global ini? Apakah pandemi ini secara fundamental akan mengubah cara pandang kita menilai seni, medan dan juga sejarahnya? Dan bagaimana itu akan terjadi? Meski sejumlah prediksi mulai bermunculan, saya belum menemukan resep terjitu dari sejumlah tulisan yang berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Bagaimanapun juga, memang inilah masa-masa penting untuk memaknai kembali seni dan bagaimana dia meraih perannya.

Di tengah situasi yang tidak menentu, suatu pengamatan dan pencatatan mengenai seni tidak bisa dikesampingkan. Kita memerlukan bahan-bahan itu di kemudian hari. Dengan alasan itu, saya kira fokus bisa lebih diarahkan kepada aktivitas seniman-seniman kontemporer. Ada beberapa pertanyaan yang bisa kita alamatkan ke mereka. Misalnya, bagaimana pandemik ini disikapi dengan penciptaan seni? Karya apa yang (bisa) mereka hasilkan? 

Seniman tentu saja bukan dokter dan perawat yang saat ini menjadi garda terdepan penanggulangan Covid-19 di masyarakat. Akan tetapi, tidak berarti bahwa seniman “tidak bisa menyembuhkan”. Di masa krisis, ciptaan-ciptaan kaum kreatif ini tidak harus berhenti. Di lain pihak, seorang seniman akan selalu menemukan cara untuk berkarya dalam situasi apapun: dalam kondisi sekarat; di tengah ancaman bahaya; di bawah tekanan rezim otoriter; atau bahkan ketika revolusi berkobar. Banyak contoh karya seni yang bisa diberikan di sini – dan sekarang kita menyesal karena catatan detailnya tidak banyak.

Di zaman Revolusi Kemerdekaan, S. Sudjojono (W. 1986) menenteng pistol dan bergerilya. Tapi, ia tetap saja menghasilkan Kawan-kawan Revolusi – sebuah lukisan yang merepresentasikan gagasan bahwa kebangsaan dibangun oleh loyalitas dan integritas semua kalangan. Di masa-masa itu pula, Harijadi Sumodjidjojo melukis Biografi di Malioboro-nya yang merekam kemurungan, absurditas, dan kemunafikan masyarakat.

Dengan lukisan Pengantin Revolusi, Hendra Gunawan (W. 1983) merentangkan kanvas besar sebagai satir yang menusuk bahwa revolusi juga memarjinalkan kaum lemah. Perhatikan saja gembel-gembel di perbukitan gersang di latar lukisan itu. Humor Hendra memang getir, gelap, dan terselubung. Yang menarik, seniman-seniman kita tidak saja mengalami kecamuk revolusi, tetapi juga menanggapinya dengan ragam sudut pandang. Mereka bisa melakukannya karena mampu membangun jarak dari revolusi itu sendiri agar tetap otentik. Maka tidak heran jika lukisan-lukisan di masa itu berhasil keluar dari perangkap propaganda murahan. 

Meski bukan diciptakan untuk menggelorakan heroisme, sekira seratus tahun lalu, situasi pandemik seperti saat ini juga menghasilkan karya seni. Di musim gugur 1918, pelukis Egon Schiele dan istrinya, Edith, terpapar flu Spanyol yang ganas dan mematikan. Kondisi fisik Edith – dengan kandungan berusia enam bulan – kepayahan.  Ia pun meninggal dunia. Tiga hari kemudian Schiele, di usia yang masih amat muda, menyusul. Selama tiga hari itu, ia sempat membuat beberapa sketsa paras istrinya yang pucat dan sayu. Kisah Schiele ini semakin menyedihkan. Jauh sebelumnya, ia terlihat sedang menyelesaikan lukisan “keluarga kecilnya”. Lukisan yang kemudian tidak pernah selesai itu menampilkan dirinya, Edith, dan seorang bayi mungil – yang tak pernah dilahirkan. Sorot mata mereka di kanvas itu terbagi-bagi. Hanya Schiele yang menatap kosong ke arah pemirsa seakan minta pamit.

Kisah lainnya yang menimpa seniman ketika teror flu terjadi adalah si nihilis yang murung: Edward Munch. Namun, dibandingkan Schiele, Munch lebih beruntung. Ia berhasil melewati maut dan menghasilkan dua lukisan potret dirinya dengan judul yang lumayan sinting, tapi terkesan tabah: Potret diri dengan Flu Spanyol dan Potret Diri setelah Flu Spanyol. Ekspresionis berkebangsaan Norwegia ini meninggal di Oslo, 1944.

Belakangan ini, saya mengamati sejumlah aktivitas seniman. Dari berbagai sumber, beberapa seniman kontemporer lainnya tetap mengerjakan proyek-proyek seni secara online. Tidak sedikit yang menampilkannya melalui aplikasi Instagram atau sekedar berbagi foto di grup WhatsApp.

Di tengah wabah Covid-19 ini, pelukis David Hockney mengucilkan diri di Normandy, Prancis. Legenda hidup berusia 82 tahun ini tetap bergairah menyambut museum semi dengan menggambar bunga-bunga bakung. Di usianya yang sepuh dan rentan, Hockey menebar optimisme dan percaya “badai pasti akan berlalu”.

Berbeda dengan si lidah pahit Ai Wei Wei. Seniman dan juga aktivis yang dikenal kritis melawan otoritarianisme, hanya bisa berucap: “stay home and stay together.” Saya merasa kreativitasnya membeku. Ia seakan-akan tidak berkutik dan “menjadi awam” begitu saja. Belum lama ini, Ai Wei Wei bahkan dikecam karena postingan konyolnya dan juga tidak sensitif. Dia menulis, “Corona virus is like pasta. The Chinese invented it, but the Italians will spread it all over the world.” 

Dari Indonesia, melalui foto-foto yang berseliweran grup WhatsApp, saya juga mengamati proses pengerjaan etsa Tisna Sanjaya yang sudah dua minggu menanggapi wabah ini dengan berkarya di rumahnya, di Bandung. Ia terlihat menoreh-noreh plat tembaga berukuran 70 x 85cm yang sudah tertutup aspaltum (bagi yang mengerti teknik grafis ini, tentu tidak sulit membayangkan apa yang Tisna Sanjaya sedang lakukan).

1 A Atisna
“Tisna Sanjaya sedang menoreh plat tembaga” (Foto: istimewa)

Samar-samar saya melihat bentuk-bentuk aneh seperti kerumunan makhluk-makhluk ganjil; ada juga pohon besar bercabang-cabang. Menggambar di atas permukaan aspaltum perlu kepekaan inderawi. Pisau toreh akan mengelupas aspal. Dalam proses selanjutnya, bagian-bagian yang terkelupas ini akan “digigit” asam –  biasanya menggunakan ferric chlorid (FeCl3). Di sini, saya ingin menegaskan bahwa berkarya seni dengan teknik warisan abad ke-15 ini bukanlah sebuah proses yang sederhana. Tahapan-tahapannya yang njelimet akan mempercepat mental seniman medioker patah arang. Seni grafis adalah seninya “kaum kutu buku” – hanya untuk mereka yang suka permenungan dan spiritualitas tinggi (saya rasa Tisna Sanjaya tidak bergurau ketika mengatakan itu suatu kali).

Tentu saja, ketika mengerjakan seni grafis, pikiran dan emosi harus dikelola. Tidak sembarangan keluar menyembur-nyembur seperti pelukis terhadap kanvasnya. Saya perhatikan, Tisna Sanjaya akan berkarya dengan teknik ini setiap kali ia memerlukan penghayatan atau dengan metafor yang sering ia ungkap di banyak karyanya: “do’a” dan “kesembuhan”. 

1 A Karya Tisna
Plat tembaga yang memperlihatkan proses pengerjaan etsa Tisna Sanjaya (Foto: istimewa)

Jika Tisna Sanjaya saat ini memilih untuk mencandra kedalaman batin, belakangan ini saya juga mengamati kegiatan Isa Perkasa yang menempuh jalan berbeda. Ia mempertemukan karyanya dengan orang-orang di sekitarnya. Tentu saja, aktivitas seperti itu bukanlah pendekatan yang asing bagi seorang Isa Perkasa. 

Sejak 1990-an, meskipun belakangan menekuni drawing, Isa Perkasa juga dikenal aktif melakukan seni performan dan instalasi. Menurut saya, di antara seni-seni protes dari para seniman sejak zaman Orde Baru ke Reformasi, orientasi kesenian Isa Perkasa cukup berbeda. Keseniannya tidak dihasratkan untuk “membela masyarakat”, melainkan menunjukkan titik-titik penindasan, kekerasan, ketimpangan, korupsi, dan banyak penyakit sosial lain yang masih berlangsung di sekitar kita. Beberapa tahun lalu, salah satu proyek seni terakhirnya yang cukup memikat adalah Ingatan yang Diseragamkan. Ketika itu, alih-alih melukis di atas kanvas, dia justru menggambar di atas lembaran kain seragam dari berbagai instansi pemerintahan. 

1 A Isa Perkasa
Isa Perkasa memberikan sendiri masker ke pedagang keliling (Foto: istimewa)

Beberapa hari yang lalu, dari foto yang ia kirim di grup WhatsApp maupun tampilan di akun instagramnya, tampak Isa Perkasa sedang menjahit puluhan masker berwarna merah-putih. Ia melakukannya sendiri di rumahnya, di belakang terminal Ledeng, Bandung. Meski tidak bisa memproduksi dalam jumlah banyak, masker-masker itu ia bagikan ke orang-orang yang melewati depan rumahnya: pedagang keliling, mahasiswa, pengurus mesjid, sopir angkot, anggota keluarga, dan beberapa lainnya.

Saya sangat tertarik memerhatikan bagaimana masker berwarna merah-putih itu menutup hampir separuh wajah orang. Merah-putih itu tampil demikian mencolok dan kontekstual. Lagipula, karena masker itu sengaja dijahit oleh seorang seniman, tentunya dengan perhitungan dan kesadaran konseptual, maka masker merah-putih itu mestinya bukan lagi sebuah masker biasa. Karya “seni performans” Isa Perkasa yang melibatkan khalayak ini menyembulkan banyak makna – di luar fungsi masker itu sendiri. Selain kesan yang menghubungkan kita pada “kedaruratan”, dwi-warna itu seakan-akan “membungkam mulut dan hidung”, sekaligus “melindungi” mereka yang mau mengenakannya. 

1 A Isa Masker
Masker dengan bahan kain seragam instansi pemerintah (Foto: istimewa)

Saya berharap Isa Perkasa meneruskan karya ini meskipun ia mengaku kehabisan bahan kain karena banyak toko yang tutup. Dia masih tidak mau menyerah dan bersikeras untuk terus menghasilkan masker untuk dibagikan. Sebagai gantinya, Isa Perkasa memanfaatkan ragam kain seragam dari instansi-instansi pemerintah. Tidak heran, dari foto-foto yang saya lihat, masker-masker itu kini berwarna abu-abu, coklat, biru, hingga loreng. Pergantian “warna dan makna” ini tetap menarik diamati. Saya ingin meneruskan catatan-catatan ini di lain waktu sembari terus mengamati aktivitas seniman. Sekalipun kehidupan sedang dikarantina, mestinya tidak ada alasan untuk tidak mencipta seni.

Di tangan mereka yang kreatif, seni akan terus memiliki kapabiltas menebalkan adab manusia. Mungkin dia tidak memberi banyak, tapi kelak, sejarah akan mencatat inspirasinya. 

 

Baca juga:  Musik Ellya Khadam “Merangsang” Renungan

Leiden, 27 Maret 2020

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Scroll To Top