Sedang Membaca
Sejarah Kemajuan Universitas di Tiongkok: Apa yang Bisa Ditiru?

Sejarah Kemajuan Universitas di Tiongkok: Apa yang Bisa Ditiru?

Amrullah Hakim

Di era 1900an, Tiongkok adalah wilayah dari rakyat yang frustasi karena kekalahan beruntun dari negara-negara asing, frustrasi karena kemiskinan yang akut, frustrasi karena bahan makanan yang terbatas, dan frustasi karena pemerintahan dikuasai oleh koruptor yang bengis. Saking frustasinya masyarakat Tiongkok waktu itu, seperti tidak bisa membedakan mana malam yang gelap dan mana malam yang berbulan purnama lengkap dengan bintang-gemintang.

Waktu itu, yang menguasai Tiongkok adalah Dinasti Qing dan orang-orang asing. Setelah Tiongkok kalah oleh Jepang, Inggris menguasai Weihaiwei, Jerman menguasai Jiaozhou, Rusia menguasai Liaodong, dan seterusnya, munculnya pergerakan yang diilhami oleh Kungfu sebagai seni beladiri kebanggaan rakyat Tiongkok. Pergerakan ini semula bertemakan “Kungfu untuk Kebugaran”, namun terus berkembang menjadi “Kungfu untuk membasmi orang asing” dan “Kungfu untuk memurnikan budaya Tiongkok”.

Pergerakan kungfu ini akhirnya memiliki pengikut yang terus bertambah banyak, terutama di daerah perkotaan, yang dipenuhi orang-orang urban yang miskin. Gerakan ini makin kuat setelah beberapa pejabat Qing bergabung dengan mereka. Aksi pergerakan ini terus terjadi di mana-mana dengan slogan “anti-asing” dan “pemurnian budaya Tiongkok”. Mereka ini dinamai “Boxer” oleh orang Eropa.

Akhirnya pada 9 Oktober 1899, para Boxer ini memulai pemberontakan di daerah Pingyuan. Mereka mengkambinghitamkan orang-orang Kristen atas kegagalan panen di daerah itu.

Pemberontakan pun menyebar dengan cepat. Kota-kota di Tiongkok mulai dikuasai oleh Boxer. Berkembanglah pergerakan ini sampai pada 14 Juni 1900, para Boxer mulai menyerang Beijing. Tentara Qing ternyata membantu para “Boxer” ini memukuli orang-orang Barat dan Jepang.

Dinasti Qing, pada 19 Juni 1900 memberikan ultimatum, semua warga asing harus meninggalkan Beijing. Pada 20 Juni 1900, ketika ultimatum tersebut tidak dituruti terjadilah pengepungan pemukiman asing oleh Boxer dan tentara Qing. Menghadapi pengepungan ini, Rusia, Jerman, Jepang, Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Italia, dan Austria-Hongaria memutuskan untuk mengirim pasukan gabungan ke kota pelabuhan Tianjin untuk menolong warga mereka yang terjebak di Beijing.

Baca juga:  Wakaf Sebagai Jalan Reforma Agraria (1/3)

14 Agustus 1900, akhirnya pasukan gabungan dari Eropa dan Jepang berhasil memasuki ibukota Beijing. Tentara gabungan dari 8 negara ini memaksa Dinasti Qing membayar ganti rugi.

Ganti rugi yang disepakati berjumlah 30 juta dollar Amerika. Namun kemudian, Tiongkok diwakili oleh Liang Cheng bernegosiasi dengan Amerika Serikat untuk mengurangi ganti rugi Dinasti Qing ini.

Akhirnya pada 1909, Presiden Theodore Roosevelt mengurangi pembayaran ganti rugi Dinasti Qing sebesar 10,8 juta dollar Amerika, dengan syarat bahwa dana tersebut akan digunakan sebagai beasiswa bagi mahasiswa Tiongkok untuk belajar ke Amerika Serikat.

Dengan menggunakan dana ini, Universitas Tsinghua didirikan di Beijing, pada 29 April 1911 yang terletak di sebuah bekas taman kerajaan, yang berfungsi sebagai sekolah persiapan bagi mahasiswa yang akan dikirim oleh pemerintah untuk belajar di Amerika Serikat.

Sekarang Universitas Tsinghua adalah kunci kesuksesan pesatnya pembangunan di Tiongkok, lulusannya juara di banyak penelitian di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika.

Tak luput, pemimpin Tiongkok saat ini, Xi Jinping dan pendahulunya Hu Jintao adalah lulusan Tsinghua. Seperti yang diberitakan oleh The Economist, edisi 17 November lalu, pesatnya perkembangan Perguruan Tinggi di Tiongkok ini dimulai sejak 1995, ketika Pemerintah Pusat menggelontorkan dana milyaran dollar Amerika untuk men-transformasi universitas-universitas terbaik China menjadi universitas kelas dunia.

Sistem pendanaan yang sangat besar ini berhasil memotivasi universitas-universitas di Tiongkok untuk menghasilkan penelitian kelas dunia. Saat ini insentif yang diberikan untuk makalah yang berhasil masuk ke elite internasional sekitar Rp 2,5 milyar. Apa hasilnya?

Baca juga:  Alquran, Pemindahan Ibu Kota Baru, dan Mitos Sial

Hasilnya adalah kontribusi Tiongkok di Scopus, katalog abstrak dan kutipan terbesar di dunia, naik dari 4% pada 2000 menjadi 19% pada 2016. Jumlah ini melebihi kontribusi Amerika. Peneliti terbaik Tiongkok datang dari Universitas Tsinghua. Pada 2017, universitas Tsinghua menghasilkan 1385 doktor, lebih banyak 2x lipat daripada yang dihasilkan oleh MIT, perguruan tinggi terkemuka di Amerika Serikat.

Jika dirunut ke belakang, momen paling penting dalam pengembangan universitas Tsinghua terjadi pada 1978, ketika Deng Xiaoping bertekad akan mengirimkan puluhan ribu siswa untuk belajar ke luar negeri. 40 tahun kemudian, Tsinghua dan universitas top lainnya di Tiongkok menuai hasilnya.

Saat ini terjadi arus balik orang-orang hebat ke dalam negeri Tiongkok. Pemerintah menyediakan lapangan kerja dengan gaji yang sangat menggiurkan untuk menarik kembali lulusan-lulusan dari universitas top dunia.

Baca Juga

Reformasi manajemen staf universitas juga memberikan pengaruh yang sangat penting terhadap kemajuan universitas-universitas di Tiongkok. Qian Yingyi lulusan Columbia, Yale, Harvard, Stanford, Berkeley yang kemudian menjadi dekan sekolah ekonomi dan manajemen universitas Tsinghua dan Shi Yigong, lulusan John Hopkins dan Princeton, dekan sekolah ilmu pengetahuan universitas Tsinghua, adalah tokoh sentral reformasi dunia pendidikan di Tiongkok yang berhasil mengubah iklim pendidikan dan menaikkan standard mutu. Hasilnya?

Hasilnya, jika di 2006-2009, universitas Tsinghua berada di peringkat ke-66 dalam matematika dan berhitung, tahun ini universitas Tsinghua berada di peringkat pertama, sementara Stanford University dan MIT berada di peringkat ke-2 dan ke-3.

Namun demikian, pesatnya kemampuan lulusan-lulusan universitas di Tiongkok masih belum mampu mengantarkan warga Tiongkok untuk berjaya di perolehan hadiah Nobel. Tiongkok hanya pernah meraih hadiah Noble dalam sains, yakni Tu Youyou karena menemukan obat anti-malaria pada 1970-an. Sementara Jepang telah meraih 23 hadiah Nobel dan Amerika meraih 282. Ditengarai, sifat pengikut / “follower” masih sangat kental di mahasiswa-mahasiswa Tiongkok. Sifat kewirausahaan dan kepemimpinan masih belum tumbuh berkembang dengan baik. PR yang sama terjadi di bidang ilmu-ilmu sosial.

Baca juga:  Indonesia Tanpa Islam

Kendala utamanya adalah bahasa. Semua jurnal terkemuka di dunia diterbitkan dalam bahasa Inggris. Ilmu sosial menggunakan lebih banyak kata-kata, tidak seperti ilmu teknis atau berhitung yang lebih banyak menggunakan simbol dan angka. Hal ini membuat ilmuwan sosial Tiongkok kesulitan mengutarakan ide-idenya untuk bisa bersaing secara internasional. Belum lagi kendala dalam kebebasan berpendapat, menjadikan ilmu-ilmu sosial di Tiongkok tidak berkembang baik.

Indonesia harus banyak belajar terkait hal ini: kebebasan berpendapat yang sudah ada hendaknya disalurkan ke penelitian-penelitian ilmu sosial berkelas internasional yang memiliki dampak langsung ke kemajuan rakyat Indonesia dan mahasiswa lebih menguasai matematika dan teknologi daripada hanya sekedar berdemo mengekor politisi. Saatnya juga universitas di Indonesia bersaing dalam menerbitkan makalah-makalah internasional, bukan menjadi wadah ekstremisme agama semata.

Rasanya, saran saya untuk belajar ke Tingkok atau China bernada “minder”. Tapi tidak, ini bukan nada minder, melainkan kesdaran bahwa tidak ada kesuksesan peradaban dengan menutup pintu rapat peradaban sendiri rapat-rapat: tidak mau melangkah keluar dan tidak menerima yang masuk. Keterbukaan, kesalingan, pertukaran, mengakui keunggulan yang lain, adalah daya hidup atau rumus alam.

Dan Nabi Muhammad pun membuka pintu peradaban dengan Hijrah ke Habasyah (Etiofia), lalu ke Yatsrib (Madinah) saat terpepet secara fisik. Kemudian, saat kehidupan fisik (dan politik) normal, beliau membuka pintu lebih luas lagi: “Carilah ilmu walau ke negeri China!”

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top