Sedang Membaca
Abdullah ibn Ummi Maktum: Sahabat Tunanetra yang Dibela al-Qur’an

Nahdliyin, menamatkan pendidikan fikih-usul fikih di Ma'had Aly Situbondo. Sekarang mengajar di Ma'had Aly Nurul Jadid, Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo. Menulis Sekadarnya, semampunya.

Abdullah ibn Ummi Maktum: Sahabat Tunanetra yang Dibela al-Qur’an

Husein fahasbu

Namanya Abdullah ibn Ummi Maktum, pekerjaan sehari-harinya adalah menjadi tukang azan Rasulullah. Secara nasab, ia masih memiliki kekerabatan dengan nabi. Dari jalur ayah ia adalah putra dari Qais ibn Zaid sementara dari jalur ibu ia adalah putra Atikah ibn Abdullah. Dengan nabi beliau memiliki kerabatan melalui Siti Khadijah, istri pertama nabi. Ia adalah putra kemenakan Khadijah. Nama aslinya Abdullah sementara panggilan Ummi Maktum adalah karena beliau terlahir sebagai tunanetra.

Semenjak cahaya Islam dibentangkan, ia merasakan keindahannya. Maka tak perlu lama ia kemudian terbuka hatinya dan menerima ajakan nabi untuk masuk Islam. Maka tak heran, ia termasuk sahabat yang disebut sebagai, al-Sabiquna al-Awwalun, yaitu sahabat-sahabat yang pertama kali masuk Islam. Masuk Islam di era itu maka siap harus menerima konsekuensi, yaitu dicaci hingga diintimidasi. Namun demikian, ia justru makin berpegang kepada agama Allah Swt., dengan al-Qur’an dan makin membersamai Rasulullah.

Ibnu Ummi Maktum termasuk sahabat yang sangat antusias dengan nabi, penuh semangat untuk menghafal al-Qur’an hingga tidak ada waktu yang terlewatkan dari nabi kecuali Ummi Maktum menjalaninya dengan penuh semangat. Saking semangatnya itu, ia kadang mengambil bagian waktu nabi yang sebenarnya diperuntukkan orang lain.

Di masa ketika Islam baru tersebar, Rasulullah sangat sibuk melakukan pertemuan, kesepakatan, mendakwahkan dan mengajak kaum Quraish masuk Islam. Suatu hari beliau sedang melakukan pertemuan dengan Utbah ibn Rabiah, Syaibah ibn Rabiaah, Amr ibn Hisyam atau yang lebih dikenal dengan Abu Jahal, Umayyah ibn Khalaf dan al-Walid ibn Mughirah. Bersama mereka Rasulullah sedang melakukan politik tingkat tinggi agar para pemeluk Islam tidak terus-terusan diintimidasi atau bahkan yang lebih bahagia, agar mereka, para pembesar Quraish juga masuk Islam.

Baca juga:  Kisah dari Yaman: Ihwal Ibadah

Ketika perbincangan sedang begitu serius, Ummi Maktum datang dengan penuh antusias seperti biasanya. Ia meminta diajari al-Quran dari nabi. Ia berkata,

“Wahai nabi! Ajari aku al-Qur’an seperti apa yang Allah Swt. ajarkan kepadamu”.

Mendengar itu, Rasulullah mengabaikan Ummi Maktum. Beliau berpaling dan tetap mengarahkan fokus pada pembicaraan dengan pembesar-pembesar Quraish. Tujuannya jelas: dari pembicaraan itu, diharapkan siksaan pada kaum muslimin berkurang atau syukur-syukur mereka bisa ikut bergabung dalam agama Islam.

Melihat sikap nabi, rasa kecewa Ummi Maktum tak bisa ditutupi. Kemudian turun firman Allah Swt.

عَبَسَ وَتَوَلَّى (1) أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَى (2) وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّى (3) أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى (4) أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَى (5) فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّى (6) وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّى (7) وَأَمَّا مَنْ جَاءَكَ يَسْعَى (8) وَهُوَ يَخْشَى (9) فَأَنْتَ عَنْهُ تَلَهَّى (10) كَلَّا إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ (11) فَمَنْ شَاءَ ذَكَرَهُ (12) فِي صُحُفٍ مُكَرَّمَةٍ (13) مَرْفُوعَةٍ مُطَهَّرَةٍ (14) بِأَيْدِي سَفَرَةٍ (15) كِرَامٍ بَرَرَةٍ (16)}

Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, tepatnya ketika seorang buta mendatanignya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat), yang mulia lagi berbakti.” (Qs. Abasa [1-16]: 80)

Baca juga:  Hatim al-Tha'i, Penyair Kristen Simbol Kedermawanan

Sejak turun ayat ini, Rasulullah kembali memprioritaskan Ummi Maktum. Memuliakannya ketika bertamu, bertanya tentang keadaannya dan memenuhi segala hajatnya.

Di Madinah, ada dua muazin Rasulullah yang amat kesohor. Pertama, Bilal ibn Rabah, seorang budak yang dimerdekakan oleh Abu Bakar, dan yang kedua adalah Abdullah ibn Ummi Maktum, sahabat yang kita bahas dalam tulisan ini. Keduanya mempunyai tugas yang sama, yaitu mengumandangkan azan. Dengan pembagian jadwal yang adil. Jika Bilal yang mengumandangkan azan, maka Ummi maktum membaca iqamah dan begitu sebaliknya. Bedanya, ketika bulan Ramadan, Bilal mengumandangkan azan (di waktu sahur-red) untuk membangunkan umat Islam sementara Ummi Maktum azan untuk salat Subuh. []

 

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top