Sedang Membaca
Beberapa Fakta Tentang Syaikh Tamim Banten: Saudara Kandung Syaikh Nawawi Banten yang Terlupakan

Dosen di UNU Jakarta. Selain itu, menulis buku dan menerjemah

Beberapa Fakta Tentang Syaikh Tamim Banten: Saudara Kandung Syaikh Nawawi Banten yang Terlupakan

Di antara koleksi manuskrip koleksi Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda, adalah “kitab” berjudul “Tarâjim ‘Ulamâ Jâwah” yang ditulis oleh Raden Aboe Bakar Djajadiningrat (w. 1914).

Kitab tersebut ditulis dalam bahasa Arab dan tergabung dalam bundel manuskrip nomor kode Cod. Or. 7717.

Djajadingingrat adalah salah satu informan terpenting sekaligus sahabat dekat dari Snouck Hurgronje (w. 1936), orientalis Belanda yang sangat terkenal itu. Djajadiningrat berasal dari keluarga bangsawan Sunda-Pandeglang (Banten) yang bekerja di kantor konsulat Belanda di Jeddah (sekitar 1884-1812).

“Tarâjim ‘Ulamâ Jâwah” dikirim oleh Djajadiningrat kepada Snouck Hurgronje di Leiden, di mana berkas manuskrip tersebut sampai ke meja kerja Snouck pada 17 Desember 1887. Manuskrip tersebut pun menjadi salah satu bahan rujukan dan kutipan utama yang digunakan Snouck ketika ia menuliskan beberapa ulama Nusantara yang berkarir di Mekkah pada perempat terakhir abad ke-19 M dalam bukunya yang berjudul “Mekka” (terbit tahun 1888).

Di antara salah satu tokoh ulama Nusantara yang berkarir di Mekkah yang disebutkan dalam “Tarâjim”-nya Djajadiningrat yang kemudian dikutip oleh Snouck dalam “Makka”-nya adalah seorang ulama dari Banten yang bernama Syaikh Tamim Banten. Dalam “Tarâjim” dan “Makka”, nama Syaikh Tamim Banten disebut sebagai adik dari Syaikh Nawawi Banten (w. 1897). 

Jika masyarakat muslim Nusantara banyak mengenang dan mengenal sosok Syaikh Nawawi Banten sebagai seorang ulama besar Mekkah, penghulu ulama Hijaz, penulis puluhan karya dalam bahasa Arab, dan juga mahaguru para ulama Nusantara pada zamannya, maka tidak demikian halnya dengan sosok adik Syaikh Nawawi Banten, yaitu Syaikh Tamim Banten.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Melalui “Tarâjim” dan “Makka”, kita bisa menelusuri beberapa informasi terkait Syaikh Tamim Banten ini. Berikut beberapa di antaranya:

Pertama: berbeda dengan Syaikh Nawawi yang lebih memilih profesi sebagai seorang pengajar di Mekkah dan pengarang beberapa kitab, Syaikh Tamim lebih memilih profesi sebagai pengusaha.

Bidang usaha yang digeluti oleh Syaikh Tamim Banten adalah biro travel perjalanan haji. Salah satu wilayah operasi Syaikh Tamim Banten dalam bidang usahanya ini bukan di kampung halamannya, yaitu Banten, tetapi di Singapura. 

Snouck menuturkan: 

قد سبق له العمل في سنفافورة بصفته وكيلا قدوم الحجيج الى مكة قبل استخدام القوارب البخارية

“Tamim telah bekerja di Singapura sebagai wakil [biro] penyelenggara perjalanan haji ke Mekkah. [profesi ini digelutinya] sejak sebelum digunakannya kapal uap”.

Kedua, Syaikh Tamim Banten juga berprofesi sebagai “muthawwif”, semacam pembimbing (guide) dan agen yang mengurusi segala keperluan ibadah haji para jama’ah di Mekkah. Profesi “muthawwif” ini juga sekaligus menjalankan peran badal haji.

Snouk menulis: 

ولقد كان فيما مضى يمتهن أعمال الطوافة

“dulu Tamim berprofesi sebagai seorang muthawwif”.

Antara usaha pertama sebagai penyedia biro perjalanan haji di Singapura, dengan profesi keduanya sebagai “muthawwif” di Mekkah, tampaknya dua hal ini saling berkaitan satu sama lain, karena sama-sama berurusan dengan pelayanan ibadah haji bagi para jemaah.

Ketiga, meski demikian, ternyata Syaikh Tamim Banten disebut memiliki kemampuan bahasa Arab yang sangat bagus dan fasih. Snouck mengatakan bahwa: 

ان تميم الأخ الثاني للشيخ النووي لم ينل شهرة واسعة في العلم كأخيه. غير أنه كان ذا اسلوب عربي جميل ويتكلم اللغىة العربية بطلاقة تامة

“meskipun Tamim tidak sepopuler kakaknya, yaitu Syaikh Nawawi sebagai seorang yang alim, tetapi Tamim memiliki kemampuan bahasa Arab yang sangat bagus. Ia dapat berbicara dalam bahasa Arab dengan sangat fasih.”

Keempat, Syaikh Tamim Banten adalah seorang yang kaya raya yang kemudian bermukim di Penang, Malaya (sekarang Malaysia).

Snouck menyebut jika Syaikh Tamim Banten menjadi orang kaya dari hasil pekerjaannya di atas. Meski demikian, omset kekayaannya kemudian mengalami penurunan. Hal ini mungkin pasca dibukanya rute kapal uap dari Batavia ke Jeddah oleh perusahaan Belanda. Sejak saat itu, Syaikh Tamim pun kemudian menetap di Penang, Malaya.

Dipilihnya Penang sebagai tempat bermukimnya Syaikh Tamim di kawasan Nusantara, dan bukannya Banten, menurut Snouck dikarenakan pihak pemerintah kolonial Belanda banyak melakukan tekanan kepada Syaikh Tamim, juga ulama-ulama Banten lainnya yang pernah lama mukim di Mekkah pada masa itu. Hal ini menjadi logis mengingat pada masa-masa itu bersamaan dengan meletusnya puncak peristiwa “Geger Cilegon” pada tahun 1888. 

Baca juga:  Kenapa Santri Tidak Menguasai Sains, padahal di Kitab Kuning Melimpah?
Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
1
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top