Sedang Membaca
Catatan Fahruddin Faiz untuk Manusia Modern: Menjadi Manusia, Menjadi Hamba
Penulis Kolom

Mahasantri Ma'had Aly Nurul Jadid. Bisa disapa via Ig: alfinhaidarali179.

Catatan Fahruddin Faiz untuk Manusia Modern: Menjadi Manusia, Menjadi Hamba

Es4 K7yu0aag11y

Beberapa hari yang lalu, saya merampungkan sebuah buku karya dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, yakni Fahruddin Faiz. Buku tersebut adalah Menjadi Manusia, Menjadi Hamba.

Di tengah padatnya kegiatan di Ma’had Aly Nurul Jadid, mengkhatamkan sebuah buku berbahasa Indonesia merupakan kepuasan tersendiri. Karena setiap hari di sini kami selalu berjibaku dengan kitab kuning dan teks-teks bahasa arab.

Yang menarik bagi saya untuk membaca buku ini di antaranya adalah dari tampilan buku, pilihan warna hingga penulisnya yang tak asing lagi di telinga mahasiswa milenial.

Buku yang diterbitkan oleh naurabooks ini berisi tentang kajian islam populer yang dibawakan melalui kaca mata filsafat. Dengan membaca buku ini, kita akan belajar agama dengan rasa ‘filsafat renyah’. Karena selain membahas tema agama dipadukan dengan bahasa filsafat, buku ini tetap layak dibaca semua kalangan.

Sang penulis, Fahruddin Faiz, tampaknya menangkap fenomena manusia pada zaman modern.Yang mana gaya hidup mereka seringkali menampakkan non-kemanusiaannya. Modernisasi yang menawarkan kenikmatan dan kemudahan hidup, disadari atau tidak, acapkali membuat manusia kehilangan fitrahnya -khususnya dimensi spiritual.

Mengatasi fenomena ini, banyak jalan yang ditempuh bahkan melalui ‘jalur ekstrem’ sekalipun. Di antaranya dengan cara menutup diri dari kehidupan duniawi dan tak lagi peduli dengan situasi sekitar. Hal ini tentu mengakibatkan tugas manusia sebagai khalifah pun terabaikan.

Selain sebagai manusia, kita juga berada pada posisi sebagai hamba. Manusia dan hamba, memiliki tugas dan wilayah masing-masing. Tapi keduanya tidak bertentangan. Malah seharusnya saling bersinergi, mengisi dan terintegrasi.

Baca juga:  Beragama: Menjadi Umat Pembaca

Buku ini membahas dua kata kunci tersebut. Fitrah kemanusiaan dan tanggung jawab kehambaan. Bagaimana kita merespon hiruk pikuk kehidupan ini tanpa melupakan diri kita: manusia sekaligus hamba.

Buku ini secara garis besar memiliki tiga bagian. Bagian pertama menerangkan tentang manusia. Pada mulanya penulis mengajak kita untuk mengenal lebih dalam tentang fitrah manusia. Pertanyaan seperti, sebenarnya manusia itu apa? bagaimana dan seharusnya? dibahas tuntas pada bab ini.

Selain itu, Fahruddin Faiz juga mengajak kita untuk mengenal nama-nama filosof untuk menerangkan suatu pembahasan pada bab demi babnya. Di antaranya adalah Peter Berger, Albert Camus, Plato, Jean-Paul Sartre, Agustinus, dan lain sebagainya.

Pada bab ini pula, kita juga diajak untuk berkenalan dengan pembahasan humor, pernikahanan dan doa. Tema-tema tersebut merupakan hal yang biasa kita kerjakan setiap hari, tapi bagi sebagian kalangan itu belum tentu. Sebagian dari kita justru melupakan sisi kemanusiaan.

Sebelum lanjut ke bagian kedua, penulis menyisipkan kisah yang unik dan menarik. Kisah ini bercerita tentang Darwis yang sedang memberi pelajaran kepada muridnya, yakni Jalaluddin Rumi tentang nama baik.

Jalaluddin Rumi yang dikenal wali dan memiliki reputasi nama baik di tengah masyarakat, mendapat perintah dari gurunya, yakni Darwis untuk membeli minuman keras.

Baca juga:  Sabilus Salikin (34): Sebaik-baik Ulama

Karena takut diketahui banyak orang, Rumi pun menutupi tubuhnya dengan sebuah jubah. Ia diam-diam membeli sebuah bir. Ternyata penyamarannya diketahui oleh seseorang di sana. Akhirnya ia berteriak, bahwa Rumi yang dikenal wali dan selalu dibangga-banggakan itu ternyata membeli minuman keras.

Akhirnya penyamaran Rumi terungkap. Ia malu dan mengerti bahwa semua reputasi, nama baik dan hal-hal abstrak-duniawai ini sifatnya sementara. Tak lama setelah itu, gurunya, Darwis pun datang.

Ia kemudian berkata kepada orang-orang bahwa yang dibawa muridnya itu bukanlah minuman keras tapi air biasa. Setelah dibuktikan, ternyata air yang ada di dalam botol itu bukanlah minuman keras. Tapi hanya sekedar air biasa.

Kisah seperti ini mendapat ‘perlakuan halaman’ yang berbeda. Kisah ini halamannya berwarna biru. Berbeda dengan halaman-halaman lainnya yang kertasnya berwarna putih.

Bagian ke dua adalah tentang waktu. Di bagian ini, penulis mengajak kita menyelami misteri waktu. Oh ya, penulis tak hanya sering mengutip pendapat para filosof dalam buku ini.

Ia juga menukil keterangan yang bersumber dari kitab kuning, al-qur’an dan hadits. Tapi untuk keterangan seperti ini, penulis tidak mencantumkan teks bahasa arab. Bagi saya, memang sebaiknya seperti ini.

Penulis tidak mencantumkan ibaroh atau keterangan asli teks bahasa arab dari kitab kuning, al-qur’an dan hadits. Karena buku ini, dalam pandangan saya, bukan sebagai referensi utama dalam penulisan karya ilmiah atau buku akademisi yang selalu mengutamakan kejelasan sumber daftar pustaka.

Baca juga:  At-Turjuman minal Lughah: Leksikografi Arab-Melayu-Jawa Karangan Syaikh Abu Bakar Tuban (1885)

Bagian ke tiga adalah bagian terakhir, yakni Penghambaan. Bagian terakhir ini, kita akan jalan-jalan dengan dimensi spiritual ibadah yang diajarkan dalam agama. Karena hal ini lebih ke persoalan ibadah, baik secara dzahir maupun batin, penulis beberapa kali mengutip cerita dari Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani.

Uniknya lagi, bagian ini dipungkasi dengan kisah filsafat yang datang dari filosof bernama Diagones Si Anjing. Kisah yang menarik, penuh hikmah dan sangat reflektif. Saya tidak akan menceritakan kisah ini. Saya biarkan para pembaca membaca buku ini hingga sampai ke bagian paling akhir.

Akhiran, buku ini sangat layak dan patut di baca umat manusia. Karena, sebagaimana kalimat yang ada di cover belakang buku ini,

“buku ini membahas sekaligus fitrah kemanusiaan dan tanggung jawab kehambaan. Dengan pembahasan yang populer dan bahasa yang ringan, penulis mengajak pembaca mengenali mandat manusia di muka bumi ini: menjadi manusia, sekaligus menjadi hamba”. Sekian. Terima kasih. Semoga bermanfaat.

 

Judul                : Menjadi Manusia Menjadi Hamba

Penulis             : Fahruddin Faiz

Cetakan           : ke-2, Maret 2021

ISBN                 : 978-623-242-154-7

Jumlah halaman : 312 halaman

Penerbit          : Noura Books (PT. Mizan Publika, Jakarta Selatan)

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top