Sedang Membaca
Ngaji Rumi di Hari Nan Fitri: Menjadi Umat Penuh Rahmat
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Ngaji Rumi di Hari Nan Fitri: Menjadi Umat Penuh Rahmat

Afifah Ahmad
  • Dalam catatan Rumi, untuk bisa menjadi umat yang penuh rahmat, ternyata kita perlu menjaga hubungan baik dengan sesama, yaitu bersikap tawaduk, saling membantu tanpa membedakan suku bangsa dan agama,  juga belajar memaafkan.

Alkisah, Nabi Ibrahim as memiliki kebiasaan menjamu para tamu. Namun hari itu, tak seorang pun musafir datang ke rumahnya. Nabi Ibrahim pergi ke luar rumah untuk menjemput musafir di perjalanan. Bertemulah ia dengan seorang kakek tua.

Awalnya, Nabi Ibrahim ingin mengundangnya ke rumah. Tapi, ia mengurungkan niatnya saat mengetahui lelaki tua itu seorang penyembah berhala. Tidak lama, malaikat Jibril datang membawa pesan Tuhan:

“Wahai Ibrahim, meski Tuhan mengetahui lelaki tua itu penyembah berhala, tapi Ia tetap memberikan kepadanya nikmat hidup dan mencukupi rejekinya. Maka mengapa kamu menolak berbuat baik kepadanya?”

Nabi Ibrahim tercengang mendengar penjelasan tersebut. Dengan gegas ia mencari lelaki tua tadi. Setelah berhasil menemukannya, Nabi Ibrahim mengajaknya ke rumah, menjamu dengan makanan lezat, serta menyiapkan tempat bermalam.

Cerita tersebut dimuat dalam kitab Jawami al-Hikayat karya Muhammad Aufi. Dalam kisah ini, melalui Nabi Ibrahim Tuhan ingin kita belajar menjadi umat yang penuh rahmat dan penyayang, bahkan kepada mereka yang berbeda keyakinan sekalipun. Tradisi ini terus disuarakan oleh para nabi dari berbagai kaum, baik nabi Musa as, nabi Isa as, sampai nabi Muhammad saw, sebagai penutup para nabi.

Visi besar “Rahmat bagi Semesta Alam” yang menjadi sejarah panjang perjuangan para nabi ini, selain memberikan rasa aman dan perlindungan, juga membentangkan rasa optimisme kepada seluruh umat manusia.

Dari kisah di atas, kita juga mendapat pelajaran, tugas seorang nabi sebelum mengajak umatnya kepada jalan Tuhan, dalam dirinya harus tertanam terlebih dahulu sifat rahmat kepada seluruh manusia dan alam. Begitu juga dalam konteks kekinian, syarat utama seorang ulama atau ustad adalah mereka yang memberikan kesejukan dan rasa aman bagi seluruh umat. Bukan menebarkan kebencian kepada mereka yang berebda. Rumi bersenandung dalam puisinya:

Ketika seseorang belum mampu menyerap kasih sayang Tuhan

Bagaimana mungkin ia akan hantarkan umat pada kebenaran

(Matsnawi, jilid 3, bait 1811)

Rahmat Tuhan Mendahului MurkaNya

Baca juga:  Politik Iqbal & Puisi Kematiannya

Dalam salah satu hadis Qudsi, Tuhan memperkenalkan diri sebagai dzat yang rahmatNya mendahului murkaNya. Rumi dalam banyak redaksi puisi, mengutip kembali makna hadis Qudsi tersebut:

Rahmat Tuhan mendahului murkaNya

Agar seluruh makhluk merasakan kasih sayangNya

(Matsnawi, jilid 3, bait 4167)

Rahmat Tuhan mendahului murkaNya

Dengan rahmat inilah Tuhan uji manusia

(Matsnawi, jilid 3, bait 4166)

Karim Zamani, pensyarah terbaik kitab Matsnawi, memberikan catatan menarik pada puisi kedua. Menurutnya, seseorang yang terkena musibah atau bencana, bukan berarti sedang mendapat murka Allah. Tetapi, melalui ujian itu, Tuhan ingin menunjukkan kasih sayangnya dalam bentuk yang lain. Dengan harapan, ujian itu akan semakin mendekatkan seorang hamba kepada Tuhannya. Pandangan ini mengajak kita untuk selalu berbaik sangka. Maka, alangkah tidak bijaknya, ketika terjadi bencana di suatu tempat, kita tergesa menghukuminya karena kemarahan Tuhan.

Rahmat Juzi dan Kulli

Rumi membagi Rahmat Tuhan ke dalam dua bagian. Rahmat juz’i, yaitu sebagian rahmat Tuhan yang diberikan kepada seluruh manusia serta alam semesta.

Dalam cerita di atas, Tuhan sedang mendemostrasikan rahmatnya yang berlaku untuk semua manusia, baik yang taat maupun yang ingkar kepadaNya.

Di dalam Alquran, kita akan banyak menjumpai rincian rahmat juz’i Tuhan. Surat Arrahman dengan sangat indah dan deskriptif menjelaskan berbagai nikmat Tuhan tersebut.

Sedangkan rahmat kulli, merupakan manifestasi kesempurnaan rahmat Tuhan atau sering juga disebut sebagai rahmat yang khusus. Rahmat ini hanya diberikan kepada orang-orang yang memang dikehendakiNya. Lalu bagaimana agar kita mendapat rahmat Tuhan yang spesial itu?

Menjadi Umat yang Rahmat

Baca juga:  Ngaji Rumi: Beragama dengan Gembira

Rumi di dalam banyak puisinya, terutama di kitab Matsnawi memberikan beberapa tips agar memperoleh rahmat kulli atau rahmat sempurna Tuhan.

Pertama, Salah satu sebab dibukanya pintu rahmat Allah, sifat tawaduk dan tidak menyombongkan diri. Rumi dalam banyak puisi memberikan ilustrasi menarik. Sifat sombong seringkali disimbolkan sebagai batu di padang sahara yang tak bisa tumbuh apapun darinya.

Sebaliknya, sifat tawadhu disimbolkan sebagai tanah subur yang tumbuh darinya keberkahan dan rahmat.

Musim semi tak kan mampu suburkan bebatuan

Jadilah tanah agar tumbuh darinya bunga-bunga nan berwarna

(Matsnawi, jili 1, bait 1911)

Dalam puisi lainnya, Rumi mengajak kita untuk tidak merasa lebih baik dari yang lain. Rumi menganjurkan kita untuk tetap menebar kasih sayang, bahkan kepada mereka yang belum berbuat baik sekalipun.

Tetaplah penyayang pada mereka yang belum berbuat baik

Jangan congkak dan tinggi hati atas amal yang kau perbuat

(Matsnawi, jilid 1, bait 3416)

Kedua, ihsan atau berbuat baik kepada sesama juga merupakan perantara terbukanya rahmat Tuhan. Dalam hadis Qudsi, dengan berbagai redaksi Tuhan memuji hambanya yang berbuat ihsan.

ارحم من فی الارض یرحمک من فی السماء

Sayangilah  apa yang ada di bumi, maka yang dilangit akan mengaishimu

لا یرحم الله من لا یرحم الناس

Baca Juga

Tuhan tidak menyayangi seseorang yang tidak sayang kepada sesamanya

Terispirasi dari firman Tuhan, Rumi juga berkeyakinan, berbuat ihsan kepada sesama menjadi syarat terbukanya rahmat dan kasih sayang Tuhan.

Bantulah sesama agar Tuhan ridha padamu

dan telaga ketenangan kan sertai jiwamu

Semua orang kan berharga bagimu

dan segala dengki kan sirna di benakmu

(Rumi, Masnawi, buku 4 bait 1979-1980)

Jika ada yang perlu kau tangisi, menangsilah untuk kaum papa

Karena empati dan kasih sayang akan melembutkan jiwa

(Matsnawi, jilid 1, bait 822)

Ketiga, pintu pembuka rahmat lainnya, yaitu dengan cara memaafkan sesama. Rumi dalam syairnya menjelaskan, memaafkan sesama menjadi sebab Tuhan memaafkan kita. Dan tentu saja, ketika Tuhan telah memaafkan dan meridhai seseorang, maka akan terbuka pintu-pintu kebaikan yang lain bagi hambaNya.  Karena Tuhan adalah sumber segala kebaikan.

Maafkanlah, maka bagimu akan terbuka pintu maaf Tuhan

Sebab Tuhan menghitung balasan amat cermat

(Matsnawi, jilid 5, 3552)

Segala pemberian maaf yang diucapkan makhluk,

Hanyalah sebulir dari maafmu, duhai Tuhan sumber segala kebaikan

(Matsnawi, jilid 5, 4110)

Dalam catatan Rumi, untuk bisa menjadi umat yang penuh rahmat, ternyata kita perlu menjaga hubungan baik dengan sesama, yaitu bersikap tawaduk, saling membantu tanpa membedakan suku bangsa dan agama,  juga belajar memaafkan.

Pada hari lebaran seperti ini, banyak momentum yang bisa dijadikan jalan untuk memperbaiki kembali hubungan kita dengan keluarga, teman, maupun seluruh umat beragama. Instrumen perpaduan unsur budaya dan agama seperti: mudik, halal bihalal, dan zakat fitrah, menjadi sarana terbaik agar Ramadan kita tak hanya meningkatkan keshalihan individu, tetapi juga menjadi keberkahan bagi sesama.

Lihat Komentar (0)

Komentari