Sedang Membaca
Seminar Ilmu Sosial, Gus Dur Malah Tidur
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pendaftaran Workshop Menulis

Seminar Ilmu Sosial, Gus Dur Malah Tidur

Redaksi

Dalam sebuah seminar nasional yang diadakan oleh Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (HIPIIS) pada tahun 1990 di Jogjakarta, Gus Dur malah tidur.

Ceritanya, ia tampil dalam sesi tentang budaya, sementara sesi-sesi lain digelar bersamaan di ruang-ruang lain. Ruang sesi budaya cukup kecil, sehingga antara peserta dan pembicara hanya berjarak beberapa meter saja.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Begitulah, di ujung kanan ada Emha Ainun Najib, dan di ujung kiri duduk Gus Dur dengan batik biru lengan pendek (kapan pula Gus Dur memakai kemeja lengan panjang?). Di antara mereka ada Eros Djarot, Leila Ch Budiman, moderator Aswab Mahasin (alamarhum) dan Romo Dr. Sastrapatedja.

Leila Budiman yang paling duluan bicara. Pakar psikologi itu bicara tentang kenakalan remaja, dan sikap orangtua yang kurang bijaksana dalam menangani kenakalan mereka. Lima belas menit kemudia Eros Djarot bunyi.

Sementrara itu Gus Dur mulai terkantuk-kantuk (semua peserta dapat melihatnya dengan jelas). Seminar itu digelar lewat tengah hari, dan peserta pun, seperti biasa, memang banyak juga yang terkantuk.

Suasana agak sedikit segar setelah Emha Ainun Najib buka suara.

“Selamat siang, Saudara-saudara sekalian,” kata Emha membuka pembicaraannya. “Saya sengaja tidak ber-assalamualaikum, karena kuatir menyinggung Gus Dur.”

Semua peserta tertawa, karena langsung teringat akan gagasan Gus Dur yang waktu itu masih jadi pembicaraan ramai, yaitu ungkapan salam cara Islam itu sebenarnya boleh diganti dengan selamat pagi, siang, atau selamat malam.

Baca juga:  Humor Gus Dur: Agama Khong Guan

Lalu Emha menguraikan pengamatannya atas perkembangan kebudayaan Indonesia. Tak lupa dia, seperti biasa, mengemukakan alasan mengapa sampai saat itu dia belum juga kawin (lagi).

“Habis, saya cuma bisa pakai sandal, sih,” kata Emha. “Padahal, para calon mertua sekarang ingin menantu yang pakai sepatu..” Suatu ungkapan khas Emha dalam menyindir pergeseran nilai-nilai dalam masyarakat, yang dalam padangannya makin materialistis saja.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Ketika Romo Sastrapratedja menguraikan pandangan-pandangannya tentang kebudayaan dengan tinjauan filsafat (dan waktu itu ia Rektor Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara), rasa kantuk Gus Dur rupanya sudah tak terbendung lagi. Kepalanya terkulai, kacamatanya miring, dan seluruh hadirin bisa mendengar dengkur halusnya (mungkin pada tidur dalam kesempatan lain dengkurannya lebih nyaring).

Namun, apa yang terjadi saat gilirannya bicara Gus Dur tiba? Dengan tenang ia memulai komentarnya, tanpa catatan sedikit pun. Satu per satu uraian para pembicara sebelumnya ia bahas dengan baik, lengkap pula dengan guyonannya.

Terhadap uraian Sastrapratedja, misalnya, dia berkomentar: “Nah, oleh romo Sastro ini, masalah-masalah tadi ditarik-tariknya sampai ke akar filsafatnya. Dia ini memang suka mengusut-usut persoalan. Maklum saja, dia enggak punya pacar.”

Tapi yang paling telak adalah balasannya terhadap sindiran Emha. Semua peserta mengira Gus Dur akan keok kena sindirian cerdik Emha itu, tapi dugaan itu meleset.

Baca juga:  Menelisik Hubungan Sunan Ampel dengan Wali-Wali Lain di Jawa

“Sekarang ini nilai-nilai memang banyak bergeser, seperti kata Emha tadi,” katanya. “Dulu, menikah itu cukup dengan ijab-kabul. Sekarang musti ditambah syarat lain: Mempelai lelakinya harus pakai sepatu…”

Tawa peserta seminar lebih nyaring ketimbang saat mereka mendengar sindiran Emha. (SumberGer-geran Bersama Gus Dur, penyunting Hamid Basyaib dan Fajar W. Hermawan, Alvabet, 2010)

Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top