Sedang Membaca
Mengubah Persepsi

Mengubah Persepsi

Sam Edy Yuswanto
  • Dalam kehidupan ini, kadang kita hanya melihat hal-hal yang tampak di depan mata saja. Padahal apa yang tampak oleh mata itu sering menipu.

“Orang itu dari dulu begitu-begitu saja, tak ada kemajuan.” Apakah kalimat ini pernah tebersit di benak kita atau bahkan sampai terucapkan saat bertemu dengan seseorang yang dari dulu hingga saat ini (bila dilihat secara kasat mata) tak ada kemajuan dalam hidupnya? Cuma begitu-begitu saja?

Misalnya, saat posisi kita sekarang sudah menjadi kepala sekolah, dosen, PNS (Pegawai Negeri Sipil), atau pebisnis sukses. Sementara ada tetangga atau teman kita yang dari dulu hanya begitu-begitu saja kehidupan perekonomiannya, misalnya menjadi pedagang makanan keliling atau sejenisnya?

Mungkin kita menganggap bahwa orang tersebut tidak mau diajak hidup maju, tidak mau melakukan perubahan, tidak mau bekerja lebih keras lagi, atau beralih profesi lain saja yang lebih menguntungkan.

Bila dalam benak kita pernah terlintas pikiran-pikiran semacam ini, mulai sekarang berhentilah. Berhentilah menyimpan prasangka buruk terhadap orang lain.

Karena sejatinya setiap apa yang tampak di hadapan kita itu kadang menipu. Yang jelas, apa pun alasannya, kita tidak boleh menghakimi orang lain, apalagi sampai menganggap diri kita lebih baik dan sukses dari orang lain.

Bisa jadi, secara ekonomi mungkin kita lebih mapan daripada orang lain yang kita pandang “sebelah mata” tersebut. Namun, siapa yang bisa menjamin kalau dugaan kita itu benar-benar terbukti?

Profesi apa pun di dunia ini, selama itu halal, tentu harus disyukuri dan hargai. Seorang lelaki yang berdagang makanan halal yang setiap hari berkeliling dengan motor, misalnya. Bisa jadi kehidupan lelaki itu lebih menyenangkan daripada kita yang, misalnya, setiap pagi hingga sore bekerja di kantoran.

Setiap waktu shalat tiba, si pedagang makanan tersebut bisa dengan sekehendak hati mampir di masjid terdekat untuk menunaikan shalat berjamaah.

Lalu, saat sore hari ia sudah tiba di rumah, berkumpul dan bercanda bersama keluarganya. Bagi lelaki itu, aktivitas kesehariannya tersebut adalah menyenangkan dan membahagiakan. Satu hal lagi, lelaki itu tetap bersyukur meski secara ekonomi bisa dibilang pas-pasan.

Baca juga:  Mengingat Lagi Visi Persatuan Islam dalam Risalah Amman

Sekarang mari kita lihat kondisi kita sekarang. Saat kita bekerja di kantoran misalnya, apakah kita bisa berhenti atau rehat sewaktu-waktu dan bisa pergi ke masjid untuk menunaikan shalat berjamaah?

Apakah saat senja telah menua dan waktu Magrib sudah hampir datang kita sudah tiba di rumah dan berkumpul bersama keluarga? Apakah selama ini kita sudah bersyukur? Apakah kita sudah merasa bahagia dengan pekerjaan dan limpahan materi yang kita dapatkan?

Oke, secara ekonomi, mungkin kita lebih mapan dari lelaki pedagang makanan keliling tersebut. Namun secara spritualitas, adakah yang bisa menjamin kalau kita lebih baik darinya?

Mengapa selama ini, kita begitu mudah menganggap diri lebih baik dengan hanya ukuran duniawi semata?

Mari mulai saat ini, sudut pandang kita. Ubah persepsi kita tentang orang lain atau siapa saja yang kita temui di jalan. Jangan pernah kita meremehkan dan merendahkan profesi orang lain, apa pun bentuknya.

Ya, apa pun bentuknya. Karena kita tak pernah tahu, siapa sebenarnya orang yang lebih bahagia dan beruntung menurut pandangan Allah.

 

Buruknya Prasangka

Menurut saya, salah satu kunci bahagia dalam menjalani kehidupan ini adalah bila kita selalu berusaha menanamkan pikiran positif dalam berbagai situasi dan kondisi. Pikiran positif juga mengandung arti yang kurang lebih sama dengan prasangka yang baik.

Artinya, berusahalah untuk selalu berprasangka baik kepada sesama manusia, lebih-lebih prasangka baik terhadap Sang Maha Pemberi Rezeki; Allah Swt.

Prasangka yang baik terhadap sesama memang harus selalu diupayakan dari hari ke hari, agar kehidupan kita tak mudah diwarnai pergesekan dan perpecahan. Ulil Abshar Abdalla (Alif.id, 14/06/2018) menguraikan; sikap yang sehat terhadap hidup adalah berbaik sangka pada kehidupan kita, kepada orang-orang di sekitar kita, pada lingkungan kita, dan terlebih lagi berbaik sangka pada sumber kehidupan itu sendiri; yaitu Tuhan.

Baca juga:  Perbedaan Khalaqa, Fathara dan Ja'ala

Dalam masa-masa sulit, kadang kita berprasangka buruk kepada kehidupan kita sendiri, kepada Tuhan. Prasangka buruk tak akan mengubah situasi sulit yang tengah kita hadapi, tapi prasangka baik sekurang-kurangnya memberikan tenaga psikologis yang positif pada diri kita.

Prasangka positif membuat kita terus berjalan, terus mencoba, tanpa patah semangat. Dalam sebuah hadis qudsi, Tuhan berfirman, “Aku (Tuhan) mengikuti prasangka hamba-Ku terhadap-Ku.”

 

Dampak Prasangka Buruk

Orang yang sering berprasangka buruk, biasanya hidupnya akan jauh dari ketenangan. Setiap hari, bahkan setiap saat, yang dipikirkan adalah tentang keburukan-keburukan terhadap sesama.

Inilah mengapa saya katakan di awal, bahwa salah satu kunci bahagia dalam hidup ini adalah bila kita selalu berusaha menanamkan pikiran positif dalam berbagai situasi dan kondisi.

Ada sebuah kisah menarik dan sarat renungan yang pernah dialami langsung Fahd Pahdepie dalam bukunya, Muda, Berdaya, Karya Raya! (2019). Dulu, ia pernah meremehkan tukang bubur ayam yang mangkal tak jauh dari rumahnya. Pasalnya, tukang bubur itu sudah berjualan di sana sejak ia SD, sementara ia saat itu sudah menjadi sarjana muda.

Ia sempat menganggap tukang bubur ayam itu tidak maju-maju kehidupannya. Hingga pada suatu hari, saat ia membeli bubur, ia pun bertanya sambil bercanda, “Dari saya SD, Bapak masih aja jualan bubur. Nggak bosen, Pak?”

Tak dinyana, jawaban si bapak membuat Fahd Pahdepie tersentak. Bapak itu bercerita, diam di tempat bukan berarti tidak maju.

Orang mungkin mengira dia hanya jualan bubur di sana setiap hari, tapi yang namanya rezeki sudah diatur oleh Allah jika kita terus berusaha. Bapak penjual bubur itu juga menceritakan bahwa saat ini ia sudah memiliki dua rumah, bahkan rumah yang satunya dikontrakkan.

Baca juga:  Menyelisik Alquran Litografi Pertama di Dunia Asal Palembang

Dia juga dikaruniai dua anak yang sudah kuliah dengan biaya sendiri. Tak hanya itu, saat ini ternyata bapak penjual bubur ayam sedang menabung untuk mewujudkan impiannya pergi haji.

Kisah Fahd Pahdepie dalam buku tersebut dapat kita jadikan renungan yang begitu dalam, bahwa berburuk sangka dan menghakimi orang lain itu tidak baik.

Dalam kehidupan ini, kadang kita hanya melihat hal-hal yang tampak di depan mata saja. Padahal apa yang tampak oleh mata itu sering menipu.

Benar apa kata Fahd Pahdepie, bahwa kadang-kadang persepsi adalah sebuah perangkap, dan tafsir kita terhadap sesuatu sering keliru. (atk)

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top