Sedang Membaca
Renungan Surah An-Nasr: dari Urasan Politik hingga Jelang Ajal
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Renungan Surah An-Nasr: dari Urasan Politik hingga Jelang Ajal

Achmad Munjid

An-Nasr, surah yang ke-110 dalam mushaf Utsmani, adalah surah utuh yang terakhir diturunkan, seperti riwayat yang disampaikan Imam Muslim, Imam Nasa’i, dan Imam Tabrani. Ia diturunkan pada hari Tashriq, ketika Haji wada’, di Mina, pada tahun ke-10 H.

Setelah menerima wahyu tersebut, Rasulullah saw naik Qashwa, unta kesayangannya yang kian tua. Di atas Qashwa, beliau menyampaikan khutbah perpisahan yang sangat terkenal itu.

An-Nasr hanya tiga ayat. Tapi kandungan maknanya amat mendalam. Tiap kali dibaca dengan sepenuh hati dan sejernih pikiran, kita akan terpesona pada makna-makna baru yang terpancar melimpah dari sana. Ayat pertama bercerita tentang pertolongan Allah dan keberhasilan kaum Muslimin:

“Ketika telah datang pertolongan Allah dan kemenangan (futuh Makkah)”.

Penegasan ‘telah datang’ mengisyaratkan adanya waktu ketika pertolongan itu ‘belum datang’. Itulah masa-masa amat sulit, masa perjuangan yang tidak cuma sebentar. Masa-masa percobaan yang penuh fitnah dan kegetiran, jalan yang terjal dan mendaki. Pertolongan Allah dan keberhasilan Rasulullah dalam menegakkan prinsip-prinsip kebenaran, bukanlah barang  gratisan.

Memang, setiap pribadi dan kelompok orang beriman harus melampaui ujian sebelum pertolongan Allah turun dan ‘sukses’ diraih (QS 2:214). Yang gratis sudah banyak. Udara, angin, air, sinar matahari, terang rembulan dan bintang-bintang, hujan, daya indera, kemampuan pikiran, segenap karunia hidup ini adalah “gratis”.

Tapi dalam soal “bagaimana kita harus menjalani hidup”, membangun prinsip dan menegakkannya, merumuskan kebenaran dan mempraktikkannya dengan konsisten, pertolongan Allah dan kemenangan harus dicapai dengan perjuangan yang tidak mudah. Tidak ada hal yang bisa disebut keberhasilan jika ia tidak diperoleh dengan kerja keras. Tidak ada sukses yang jatuh dari langit. Semakin sulit suatu keberhasilan diraih, semakin mendalam pula makna keberhasilan itu bagi peraihnya bukan?

Cobalah tengok sekitar kita, di manapun, di balik setiap sukses selalu terletak berlapis-lapis tumpukan cerita tentang kerja keras, perjuangan yang berliku, semangat yang pantang menyerah. Allah mengubah situasi kita melalui “tangan” kita masing-masing (QS 13:11).

Bukan melalui “tangan-tangan” orang lain. Keberhasilan atau kegagalan adalah kenyataan kita sebagai manusia, sebagai konsekuensi atas karunia akal, kesadaran,  kemampuan “memilih” dan bertindak. Lihatlah apa yang dilakukan para ilmuwan, seniman, ruhaniawan, olahragawan, niagawan dan sebagainya (akhiran wan di sini tidak merujuk kepada perbedaan gender).

Di atas segalanya, contoh keberhasilan itu indah dan kuat sekali terlukis sepanjang sejarah hidup Rasulullah. Mari baca kembali kisah persekusi kaum kafir Quraish, penganiayaan di Ta’if, Hijrah ke Abesinia, Hijrah ke Madina, pengkhianatan kaum Yahudi Madinah dan lain-lain adalah bagian dari perjalanan panjang yang berat, sebelum futuh Makkah sebagai ‘puncak’ turunnya pertolongan Allah.

Satu hal patut dicatat di sini. Meski sejarah hidup Nabi Muhammad banyak diwarnai kisah perang, karena konteks masa dan kulturnya, perhatian kita sekarang tidak perlu terlalu terpaku pada perang sebagai konflik fisik, sebab inti pesannya tidak berada di sana. Betapapun, perang, sebagaimana dalam cerita Bharatayuda atau bahkan film-film Hollywood, merupakan “konteks” yang memungkinkan karakter dan kecenderungan-kecenderungan dasara manusia muncul lebih jelas, lebih nyata untuk dibaca.

Dibanding apa yang dialami Nabi dan para Sahabat awal, seberapa derajatkah kesulitan, penderitaan dan perjuangan kita dalam menaklukkan kenyataan? Kapan kita mengeluh, kapan kita bersyukur? Silakan tengok ‘prestasi’ yang pernah kita raih dalam hidup ini? Juga kegagalan-kegagalan yang kerap membuat kita berkecil hati. Apa makna keberhasilan dan kegagalan yang pernah kita alami itu?

Ayat kedua dari surah an-Nasr: “Dan engkau melihat manusia masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong”.

Secara spiritual, ini berarti bahwa, ketika wajah kebenaran telah ditampilkan nyata, orang segera menerimanya dengan segera, beramai-ramai, bergelombang-gelombang, berbondong-bondong.

Secara politis, agaknya begitulah juga watak manusia. Mereka cenderung mendekat kepada siapa yang tampak sedang memiliki kekuatan. Cari selamat, berkoalisi, biar bisa ikut menjadi bagian dari ‘yang kuat’ dan menikmati privilege kekuasaan.

Coba perhatikan, misalnya, perkembangan keagamaan di kalangan umat Islam Indonesia sejak 1990. Sampai pertengahan 1980-an, masih banyak kelompok, termasuk di kalangan penguasa yang terang-terangan memusuhi, atau minimal tak mau bersahabat, dengan Islam. Tapi, ketika arus umat Islam tak terbendung, orang “berbondong-bondong” mengidentikkan diri dan menampilkan diri sebagai bagian dari “yang islami”.

Kini, seperti dibenarkan oleh riset Ricklefs dalam Islamisation and Its Opponents in Java (2012), tidak ada lagi kelompok yang berkekuatan signifikan yang menentang arus islamisasi di Jawa. Bahkan orang-orang dari kelompok yang pada tahun 1970-an gigih menantang Islam, kini turut kencang menjadi penyokong Islam.

Dalam konteks Mekkah pada zaman Nabi pun, terlepas dari niatnya (yang merupakan urusan dia dan Allah saja), bahkan Abu Sufyan yang semula gigih memusuhi Islam akhirnya juga bergabung. Ketika arus telah deras mengalir, siapa saja, dengan motif apa saja, bisa ikut “berbondong-bondong” menyokong apa yang kemudian diterima sebagai kebenaran. Bukankah hal yang sama juga terjadi di sini pada masa “Reformasi”?

Yang kita perlu teliti, ketika apa yang diklaim sebagai kebenaran, seperti iman Islam itu, sudah disandang oleh siapa saja, kita perlu bertanya, mana yang sekadar bentuk dan mana yang isi, mana yang formal mana yang substansi. Tapi ini terutama untuk kepentingan meneliti diri sendiri, bukan untuk mengevaluasi orang lain sambil menggunakan diri sendiri sebagai kriteria yang harus diakui.

Terlepas dari itu semua, kisah “ramai-ramai masuk Islam” ini sekaligus juga mengingatkan kita semua bahwa arus kehidupan sosial banyak ditentukan oleh niat yang kukuh dan ikhtiar yang gigih dari sekelompok kecil orang yang mau istikamah memegang prinsip, komitmen pada keyakinan dan visi yang tak hendak goyah oleh macam-macam godaan sesaat. Terkait dengan ini, silakan perhatikan juga bagaimana nalar iklan, dunia mode, cara petani bercocok tanam di kampung-kampung hingga perkembangan pasar modal, juga teladan orang-orang ‘besar’.

Baca Juga
Harapan itu Bernama Iman 1

Fenomena “berbondong-bondong” itu mengingatkan kita semua tentang pentingnya istiqamah, juga kecenderungan watak manusia yang suka “ikut musim”, sebelum datangnya pertolongan Allah. Karena itu, ayat ketiga surah an-Nasr:

“Maka bertasbihlah, dengan memuji kebesaran Tuhanmu dan mintalah ampunan kepadaNya. Sungguh Ia maha menerima taubat”.

Futuh Makkah dan ayat ini, lebih dari semata catatan tentang kemenangan umat Islam, tapi adalah wujud pertolongan Allah. Silakan baca tulisan saya tentang Raja Abraha yang perkasa tapi akhirnya tak berdaya.

Ingatlah tentang kisah Menara Babel dalam tradisi Yahudi, atau kisah keangkuhan Fir’aun. Juga pesan moral dalam kisah Titanic. Seberapapun dahsyat capaian manusia, ia tetap kecil di tengah gelaran keagungan semesta. Lebih-lebih di depan penciptanya. Kita perlu memandang dan menempatkan setiap keberhasilan menurut hakikatnya.

Di balik setiap keberhasilan, untuk setiap keberhasilan, kita pun mengucap “Alhamdulillah”.Tapi, di dalam setiap keberhasilan itu juga selalu ada ‘sisi kegagalan’, ada bagian dari kelemahan kemanusiaan kita yang bermain off limits.

Di balik semua keberhasilan, ada suka-duka, ada jatuh-bangun, ada bermacam-macam situasi sulit yang kerap membuat kita ‘terlempar jalur’, bahkan mungkin ‘luka-luka’. Itu semua perlu dikoreksi, ditata-ulang, dibenahi, dibersihkan, supaya makna keberhasilan kembali murni di depan sang Ilahi. Istighfar, memohon ampun, bertaubat dari segala luput dan nafsu kita adalah sarana koreksi, pembenahan dan pembersihan.

Dengan begitu, kita bisa benar-benar menghayati apa makna keberhasilan dan untuk apa keberhasilan. Bukan untuk diburu setengah mati, diperebutkan dengan segala muslihat, lalu untuk dibanggakan ketika teraih, atau dikutuk ketika lepas, apalagi disalahgunakan ketika sudah tergenggam di tangan demi menuruti macam-macam nafsu hewani.

Surah an-Nasr dan kisah futuh Makkah sekaligus juga adalah isyarat telah paripurnanya tugas kenabian Rasulullah. “Akhir” hidup Rasulullah telah dekat menghampiri. Banyak para ahabat yang bersorak gembira ketika surat ini dan ‘ayat-ayat penutup’ lainnya turun, tapi sebagian yang lain segera diliputi rasa sedih yang tak terlukiskan: Apakah Rasulullah akan segera dijemput untuk menghadap kembali ke hadirat Sang Khaliq yang amat mencintainya?

Itulah kesedihan ‘Abbas ibnu Abu-Talib, yang dibenarkan oleh Rasulullah. Itulah sebabnya, menurut kisah Aisha r.a. (HR Bukhari) di akhir-akhir hayat beliau, terutama setalah turunnya ayat ini, Rasulullah banyak sekali membaca tasbih, tahmid dan istighfar. Baik ketika sendiri maupun di depan umum. Baik di dalam maupun di luar rumah, baik ketika duduk maupun berdiri, baik siang maupun malam. Ajal sudah mendekat. Kematian begitu akrab. Langit dan bumi saling berpeluk erat.

Di tengah gelegak kesibukan hidup yang hangar-bingar, apa arti kematian buat kita sekarang? Bertasbihkah kita untuk sejumlah keberhasilan yang kita raih selama ini? Atau keberhasilan itu justru membuat kita kufur dan takabur? Istighfarkah kita untuk kekhilafan yang sering kita lakukan? Dan  yang sungguh lebih penting, bertaubatkah kita menyambut ajal yang bisa menjemput setiap saat, entah ketika kita dalam keadaan siap atau cuma bisa terperanjat?Wallahu a’lam bi al-sawab!

Lihat Komentar (1)

Komentari

Scroll To Top