Sedang Membaca
Apa Jawaban Gus Mus Saat Ditanya Umar Kayam tentang Salat?
Stick Banner Nucare
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Achmad Munjid
Penulis Kolom

Menyelesaikan pendidikan doktoral di Temple University, Amerika Serikat. Sekarang mengajar di UGM. Selain menekuni bidang kajian agama, juga menulis sastra.

Apa Jawaban Gus Mus Saat Ditanya Umar Kayam tentang Salat?

1 A Gus Mus

Profesor Umar Kayam, guru besar Fakultas Sastra (atau FIB sekarang) Universitas Gadjah Mada sekaligus sang penulis novel Para Priyayi, adalah seorang abangan yang bangga dengan identitasnya, a proud abangan. Melalui A. A. Navis, pada tahun 1994 ia dan istrinya secara tak terduga mendapat undangan untuk naik haji dari Departemen Agama RI.

Mula-mula ia tertawa saja, “Wong jelas-jelas aku ini abangan, kata orang-orang salat saja enggak, kok disuruh naik haji? Kalau langsung menjalankan rukun kelima, berarti Islamku langsung katam ya?,” tertawanya membahana.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Tapi atas berbagai pertimbangan, tawaran untuk menjadi haji “abidin” (atas biaya dinas) itu akhirnya dia terima. Setelah beberapa bulan lewat dan waktu naik haji mendekat timbul masalah.

Bu Kayam yang sebetulnya memang sudah cukup lama menyimpan “keprihatinan” mengenai religiusitas suaminya, akhirnya memanfaatkan masa penantian berangkat haji itu sebagai kesempatan yang tak boleh disia-siakan.

“Pak, njenengan kan sudah mau berangkat haji. Mbok mari, segera nglakoni (menjalankan salat). Masak nanti sudah haji tetap nggak salat, kan ya lucu, aneh…,” ujar istri Umar Kayam itu pada suatu sore yang cerah di teras rumahnya di Bulaksumur.

“Apa maksudmu?” jawab Umar Kayam tenang sambil memandang langit timur setengah terayun-ayun di kursi goyang singgasananya.

Baca juga:  Menjadi Wasit Pertarungan Ideologi

“Lah ya nglakoni salat lima waktu seperti orang-orang Islam pada umumnya,” istrinya menegaskan.

“Rumangsamu selama ini aku nggak salat?” Umar Kayam kini duduk dengan posisi tegak. Kursi goyangnya berhenti berayun-ayun.

“Lah, buktinya?”

“Sebentar, sebentar, bagimu salat itu apa?”

“Salat ya salat. Bapak nggak usah memperumit masalah sederhana. Waktunya Magrib ya Magrib, waktunya Isya ya salat Isya, Subuh ya Subuh. Salat ya salat,” tangan Bu Kayam mulai sibuk memperagakan gerak orang sembahyang.

Umar Kayam hanya tersenyum.

“Kamu tahu nggak, secara etimologis, salat itu artinya “hubungan”, “komunikasi”, “kontak”. Jangan hanya karena aku tidak melakukan gestur seperti yang kamu lakukan, lalu aku dianggap tidak menjalin hubungan dengan Gusti Allah. Mungkin kamu nggak tahu, tapi aku ini sebetulnya sering salat. Ketika aku duduk thenguk-thenguk di teras begini, aku sering shalat. Ketika aku menulis makalah untuk seminar, aku sering sambil shalat. Ketika mengajar para mahasiswa, aku juga salat. Hubunganku dengan Gusti Allah itu bersifat langsung, ces pleng, tidak perlu diberita-beritakan, tidak perlu dipamer-pamerkan pada orang lain. Kamu saja yang nggak paham,” Umar Kayam menjawab secara telak.

“Oalah, Pak, Pak. Wong diingatkan kok malah terus kasih kuliah panjang lebar,” Bu Kayam akhirnya meninggalkan teras dan masuk ke dalam.

Baca juga:  Miryam dan Cara Santri Menulis Puisi

Justru karena istrinya mengalah, setelah perdebatan kecil itu rupanya pikiran Umar Kayam jadi terganggu. Suatu hari berkunjunglah mereka ke Rembang, menemui Kiai Mustofa Bisri alias Gus Mus.

Setelah bicara ngalor-ngidul, akhirnya Umar Kayam mengajukan pertanyaan yang mengganggu pikirannya, tentu setelah terlebih dahulu memberikan konteks perdebatan kecil dia dengan istrinya.

“Jadi menurut panjenengan, mana yang lebih benar, apakah salat versi istri saya yang secara lahirian tampak jengkang-jengking tiap lima waktu itu tapi pikirannya sering nggak karu-karuan kemana-mana, belanja, arisan dan seterusnya; atau salat versi saya, yang tidak kelihatan di mata orang-orang tapi sebetulnya secara batin justru terhubung langsung dan berkomunikasi akrab dengan Sang Khaliq?”

Semua terdiam menunggu. Ruang tamu Gus Mus tiba-tiba hening beberapa waktu.

“Karena panjenengan adalah Profesor, saya akan memberikan jawaban terbuka. Silakan nanti dipikirkan sendiri kesimpulannya. Untuk memahami soal salat ini, saya akan pakai metafor sederhana saja: buah! Setahu saya, yang namanya buah—buah apa saja: pisang, mangga, jeruk, apel dan lain-lain—tidak ada yang cuma terdiri dari kulit saja, atau hanya isinya saja. Pisang itu pasti selalu ada kulit dan isinya sekaligus. Pisang adalah pisang karena dia ada kulitnya dan juga ada isinya. Salat itu, menurut saya, kira-kira begitu,” kata Gus Mus.

Baca juga:  Siti Munjiyah, Ulama Perempuan Muhammadiyah

Sampai beberapa waktu semua masih terdiam mencerna penjelasan itu.

Fb Img 1579249227140.jpg
Gus Mus dan almarhum Umar Kayam (Dok. Nasih Lutfi)

“Sampean memang benar-benar kiai, Gus,” kata Umar Kayam kemudian dan semua pun tertawa.

Ketika mereka kembali ke Yogya, istri Umar Kayam merasa telah mendapat amunisi sebanyak-banyaknya. Sepanjang jalan pulang tak henti-hentinya ia bicara “Makanya….” “Aku sudah bilang apa?….”

Umar Kayam hanya diam saja. Pikirannya kini kian terganggu.

“Pisang adalah pisang karena dia ada kulitnya dan juga ada isinya” metafor Gus Mus tentang salat itu kembali terngiang-ngiang di telinga Umar Kayam. Itu berlangsung sampai beberapa hari, bahkan beberapa minggu.

Suatu saat, dengan pikiran yang masih terganggu, ia jalan-jalan di Malioboro. Tanpa sengaja dilihatnya seseorang yang menjual ukiran kayu sederhana bertulis “Sopo durung solat?” (Siapa belum salat?). Tanpa pikir panjang, dibelinya ukiran itu dan begitu sampai rumah segera dipajangnya ukiran itu di dinding ruang tengah.

Sejak itu, tiap kali ia lewat ruang tengah dan melihat ukiran tadi, Umar Kayam berjalan sambil tunjuk jari, “kulo!” (saya)

*Kisah itu saya ceritakan kembali ketika mendampingi Gus Mus dalam acara Saresehan di Fakulas Kedokteran UGM 13 Januari 2020

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
2
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
8
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top