Sedang Membaca
Keraton Agung Sejagat dan Ciri Berpikir Jawa
Yulianto
Penulis Kolom

Lulusan Antropologi di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada (UGM) 2009. Saat ini bekerja sebagai Jurnalis lokal Kota Semarang.

Keraton Agung Sejagat dan Ciri Berpikir Jawa

Pemimpin Keraton Agung Sejagat Saat Jumpa Pers.

Beberapa hari terakhir, timeline media sosial ramai dengan kemunculan Keraton Agung Sejagat (KAS) di Desa Pogung Jurutengah, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Kegaduhan ini lantas menjalar ke media massa dan di-blow up besar-besaran.

Adalah Totok Santosa Hadiningrat mengaku sebagai raja di Keraton Agung Sejagat dengan 400- an pengikut. Penasihat KAS, Resi Joyoningrat menegaskan KAS bukan aliran sesat seperti yang dikhawatirkan masyarakat. Dia mengklaim KAS merupakan kerajaan atau kekaisaran dunia yang muncul karena telah berakhir perjanjian 500 tahun yang lalu, terhitung sejak hilangnya Kemaharajaan Nusantara, yaitu Imperium Majapahit pada 1518 sampai tahun 2018. Perjanjian 500 tahun tersebut dilakukan oleh Dyah Rana Wijaya sebagai penguasa Imperium Majapahit dengan Portugis sebagai wakil orang Barat atau bekas koloni Kekaisaran Romawi di Malaka pada 1518. Menurutnya, kekuasaan tertinggi harus dikembalikan ke pemiliknya, yaitu Keraton Agung Sejagat sebagai penerus Medang Majapahit yang merupakan Dinasti Sanjaya dan Syailendra.

Mari merunut sejarah. Di Indonesia, pada masa lalu yaitu era Kerajaan Hindhu-Budha sekitar Abad 8-10 Masehi masih dipimpin oleh raja. Dalam bukunya, H.A. Kholiq Arif dan Otto Sukatno CR berjudul “Mata Air Peradaban Dua Milenium Wonosobo”  menyebut pada masa Kerajaan Sriwijaya, imperium ini disebut sebagai Kerajaan Nusantara I dan Majapahit sebagai Kerajaan Nusantara II semasa Tri Buwana Tunggadewi, lewat sumpah Palapa-nya Mahapatih Gajah Mada, sedemikian hegemonik menguasai Kepulauan Nusantara, bahkan juga Asia Tenggara. Sebelum abad ke-20, Filipina masih disebut-sebut sebagai Indonesia Selatan. Selain itu, banyak fakta dan jejak historis pengaruh Majapahit juga di Birma, Vietnam, dan Malaysia, serta Singapura.

Baca juga:  Pesantren dan Ilmu Mantiq (Bagian 1)

Jika dikaitkan dengan besarnya kekuasaan kerajaan Majapahit (Kerajaan Nusantara II) di masa lalu, maka fenomena KAS ini  Sunuhun Totok yang ingin mengambil keuntungan pribadi dengan mengaku sebagai raja merupakan keturunan dari imperium tersebut.

Dilihat dari aspek budaya, hal yang menggerakkan seseorang menyebut dirinya sebagai raja adalah fantasi atau angan-angan akan kehidupan yang ideal seperti masa kejayaan imperium seperti di masa lalu.

Berdasarkan cara berpikir orang Jawa, fantasi ini tidak sesuai realita yang ada. Dimana menyimpang dari cara berpikir yang positif orang Jawa. Dalam bukunya Suwardi Endraswara berjudul Ilmu Jiwa Jawa. Estetika dan Citarasa Jiwa Jawa, disebutkan hakikat hidup Jawa yakni didasarkan pada konsep Sebutuhe, Saperlune, Sacukupe, Sakepenake, Samesthine, lan Sebenere. Maksudnya, hidup tak harus nggaya dan atau nggrangsang.

Hidup sebaiknya apa adanya. Sehingga realita hidup justru lebih menyenangkan dibanding banyak fantasi yang penuh fatamorgana. Hidup tak perlu mengada-adakan yang tak mungkin. Hidup yang hakiki adalah penting dan lebih menenangkan jiwa. Hidup yang terlalu banyak tuntutan, hanya akan menjadi beban psikologis dan selamanya tak akan pernah merasa tenteram.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Dalam budaya Jawa, raja memiliki tempat khusus dan disimbolkan sebagai titisan Dewa dalam agama Hindhu. Sedangkan dalam Islam, raja adalah khalifatullah, wakil Tuhan sehingga rakyat harus menundukkan diri sebagai kawula. Selain itu, dalam bertindak, masyarakat Jawa mengenal konsep kosmologi, yaitu tentang jagad cilik (mikrokosmos) dan jagad gedhe (makrokosmos), dimana manusia termasuk di jagad cilik dan alam semesta merupakan jagad gedhe.

Masyarakat Jawa masih percaya kekuatan alam semesta yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia di dunia, sehingga tidak lepas dengan ritual atau slametan saat pada waktu tertentu, maupun mengalami peristiwa penting. Seperti yang berhubungan dengan upacara siklus hidup, kelahiran, pernikahan dan kematian serta usai musim panen maupun sedekah laut dengan tujuan sama yaitu untuk tanda syukur pada Tuhan atas rejeki yang diberikan.

Baca juga:  Noam Chomsky dan Gerakan Islam Progresif
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top