Abdus Salam
Penulis Kolom

Mahasiswa STAI Sunan Pandanaran Jurusan Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Memahami Islam Moderat Melalui Humor

Gus Dur Menyoal Ekstrimisme dalam Islam

Humor dalam Islam telah lama adanya. Dalam sejarah kita mengenal tokoh humoris seperti Abu Nawas. Di Indonesia kita mengenal Gus Dur, Kiai Hasyim Muzadi, dan kiai-kiai lainnya. Entah kapan tepatnya humor itu ada, tak dapat diverifikasi. Yang jelas sejak Nabi hidup humor telah ada. Kita tentu mafhum dan sudah tidak asing lagi humor Nabi dengan seorang nenek.

Suatu ketika ada nenek berkata kepada Nabi, “Wahai Nabi, berdo’alah kepada Allah agar memasukkanku ke surga”, “Wahai nenek, di surga itu tidak ada orang tua renta” jawab Nabi. Lalu nenek tersebut pun menangis dan berpaling dari Nabi. Kemudian Nabi berkata “Sampaikanlah kepada nenek tersebut sesungguhnya ia tidak akan masuk surga dalam keadaan tua renta”.

Cerita tersebut sering dikutip para ulama sebagai dalil bahwa Nabi juga humoris. Lantas apa kaitannya humor dengan pemahaman Islam moderat? Setidaknya ada beberapa alasan; pertama, orang yang pandai berhumor menunjukkan bahwa ia cerdas dan berwawasan luas. Masih belum percaya?

Saya kasih contoh, suatu ketika Gus Dur ditanya tentang akad nikah yang dilakukan melalui internet. “Apa bisa, Gus, akad nikah melalui video dengan jarak jauh?”. Karena tidak begitu akrab dengan teknologi, Gus Dur cukup kebingungan mendapatkan pertanyaan tersebut. Setelah berfikir agak lama, dengan santainya Gus Dur menjawab, “Bisa saja akad nikah dilakukan melalui internet, asal kawin (jimaknya) juga melalui internet juga”. Sontak jawaban Gus Dur membuat para pendengar disekelilingnya tertawa terpingkal-pingkal.

Baca juga:  Humor Gus Dur: Sampul Majalah Tempo

Kedua, memandang sesuatu tidak kaku (woles). Sudah barang tentu, orang yang mampu berhumor akan memahami sesuatu dengan santai dan tidak kaku. Termasuk dalam hal beragama. Kita tahu bersama dengan Gus Baha’, ulama asal Rembang yang ahli fikih dan tafsir dengan mudahnya membawakan materi-materi keislaman tanpa merasa kaku sedikitpun. Dan tidak hanya Gus Baha’, begitu juga dengan kiai-kiai lainnya seperti Gus Mus, Gus Muwafiq, Gus Miftah, Kiai Said serta ulama terdahulu.

Saya kasih contoh Gus Baha’ misalnya, suatu ketika dalam sebuah pengajian Gus Baha’ bercerita tentang Rasulullah dan seorang perempuan tua. “Ya Nabi, saya izin tidak bisa mengikuti majelis sampai malam dan harus pulang sore” seloroh perempuan tua kepada Nabi. Nabi tidak memberikan izin seta menangguhkan permohonannya dan berkata, “Nanti saja pulangnya pas malam. Saya kasih kamu anak unta”.

Perempuan tersebut kaget bukan main dan berkata, “Masa anak unta ya Nabi? Kan tidak bakal kuat?” perempuan itu menyangsikan. Setelah malam tiba, ketika majelis telah usai dan perempuan tua tersebut hendak pulang, ditariklah anak unta yang besar dan tua untuk mengantarkannya. Lantas perempuan tua tersebut protes, “Ya Nabi, katanya anak unta? Ini kok sudah tua?” dengan santai Nabi menjawab “Biarpun sudah tua, dia juga anak unta. Punya induk unta juga”.

Baca juga:  Lagi, Abu Nawas Mengkritik Orang Kikir

Ketiga, humor menjadi media dakwah. Betapa tidak, ulama-ulama kita terdahulu telah menjadikan humor sebagai senjata agar para jamaah tidak spaneng. Gus Dur misal, menjadikan humor tidak hanya sebagai sarana dakwah tetapi dibuat bahan diplomasi terhadap pemimpin dunia.

Akhir-akhir ini Islam seperti tercerabut dari akarnya yakni tawasuth (moderat). Oleh karenanya humor penting tidak hanya sebagai joke-joke saja, lebih dari itu humor hadir sebagai kontra-narasi terhadap para pendakwah yang merasa paling benar sendiri. Terakhir dari penulis, mari kita lestarikan Islam berwajah ceria bukan suram, moderat bukan asal berkata sesat, berwarna-warni tidak hanya hitam-putih sesuai kemauan sendiri. Wallahu’alam bish-showab.

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top