Mukhammad Lutfi
Penulis Kolom

Alumnus Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Sa’ad bin Syadad al-Kufi, Ahli Nahwu yang Sangat Lucu

Alkisah seorang linguis Arab, Sa’ad bin Syadad al-Kufi al-Nahwi, dikenal sebagai sosok yang humoris dan gemar bercanda. Sa’ad bin Syadad menimba ilmu nahwu kapada Abu al-Aswad al-Duali. Sematan al-Kufi pada namanya dinisbatkan akan afiliasi Sa’ad bin Syadad pada nahwu mazhab Kufah.

Kisah jenaka Sa’ad bin Syadad ada dalam catatan kitab Bughyat al-Wu’at fi Tabaqaati al-Lughowiyyin wa al-Nuhat yang disusun oleh Syekh Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakar al-Suyuti. Kisahnya begini;

Buku Kiai Said

Suatu ketika terjadi perselisihan antara Bani Rasib dan Bani Tufawah. Kedua kabilah ini berdebat ihwal status bayi yang baru saja dilahirkan, apakah bayi itu termasuk dalam kabilah Bani Rasib atau Bani Tufawah. Dalam kisah ini tidak disebutkan, apakah bayi itu bayi temuan atau bayi yang lahir dari orang tua yang berasal dari kedua kabilah tersebut. Yang jelas kedua kabilah ini berdebat genting ihwal status bayi itu.

Singkat cerita kedua kabilah ini sepakat untuk mengadukan permasalahan ini kepada Ziyad bin Abihi yang kala itu menjabat sebagai menteri pada masa dinasti Umayah. Kala itu dinasti Umayah dipimpin khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan.

Sampailah kedua kabilah ini di hadapan Ziyad bin Abihi, kebetulan saat itu Sa’ad bin Syadad juga sedang hadir di majlis Ziyad bin Abihi. Akhirnya diadukanlah perkara bayi ini kepada Ziyad bin Abihi. Masing-masing perwakilan kabilah diberi kesempatan untuk berbicara.

Sa’ad bin Syadad yang sedari tadi menyimak perdebatan kedua kabilah itu lalu nyeletuk,

“Wahai Amir Ziyad bin Abihi! Bayi itu tercipta dari air, maka sudah sepantasnyalah kita mengembalikan kepada air. Ceburkan saja bayi itu ke dalam air, jika ia tenggelam (Arab: rasaba-yarsubu [رسب-يرسب]) maka ia berasal dari kabilah Bani Rasib, akan tetapi kalau bayi itu mengapung (Arab: tafaayatfuu [طفا-يطفو]), berarti ia berasal dari kabilah Bani Tufawah,” celetuk Sa’ad bin Syadad.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Tentunya Sa’ad bin Syadad yang jenaka itu bermaksud bercanda dan menghubung-hubungkan saja kasus bayi ini dengan pemahaman kebahasaan yang ia kuasai.

Mendengar kelakar Sa’ad bin Syadad, Amir Ziyad bin Abihi pun tertawa sekencang-kencangnya. Dan lalu menegur Sa’ad bin Syadad, “Bisakah kau tak berkelakar di majlis yang seserius ini,” tegur Amir Ziyad bin Abihi sambil terus tertawa.

Baca juga:  Gus Mus, Sutardji, dan Minuman yang Memabukkan
Buku Tasawuf

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
1
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top