Sedang Membaca
Magrib di Surau Kecil Ajibarang
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Magrib di Surau Kecil Ajibarang

Ulil Abshar Abdalla

Dalam perjalanan dari Sidareja (Cilacap) menuju Purwokerto, saya dibawa oleh supir yang mengantar saya dan Mbak Admin Ienas Tsuroiya melintasi jalan pintas yang amat mengasyikkan, melewati tengah hutan, dengan jalanan yang sempit, naik-turun melewati tanjakan yang kadang amat terjal, tetapi beraspal dan cukup baik.

Sayang, hari sudah senja, dan mulai gelap. Andai melewati jalanan ini di pagi atau siang hari, sudah pasti saya akan tergoda untuk berhenti di banyak titik untuk jeprat-jepret dan menikmati keindahan alam. Hampir seluruh pemandangan alam sepanjang jalan yang saya lewati ini “instagrammable”.

Saat maghrib tiba, saya mampir di langgar (surau) kecil di pinggir jalan di daerah Ajibarang. Saya tak tahu apa nama desa tempat langgar itu.

Tak ada yang istimewa pada musala ini. Tetapi usai salat jamaah, saya menyaksikan pemandangan yang mengesankan sekali. Jamaah langgar yang sebagian besar orang-orang sepuh dengan sarung dan baju yang sederhana, melantunkan wirid dan pujian yang khas Banyumasan.

Saya jarang sekali mendengar lantunan pujian dan wirid usai salat (tentu saja dalam bahasa Arab) yang dilagukan dengan lagu yang khas pedesaan Jawa di kawasan Banyumas. Mendengar lagu ini, yang terpikir oleh saya adalah suatu pertemuan antara “universalitas Islam” dan “lokalitas Islam” yang teramat khas. Perpaduan ini melahirkan corak Islam yang unik.

Menyesal sekali saya tak sempat merekam pujian dan wirid di langgar itu. Setelah meninggalkan surau itu, supir yang mengantar saya berkomentar, “Sudah jarang wirid seperti itu di desa saya di Sidareja. Sekarang desa saya diserbu Islam gaya kota.”

Saya tanya, “Islam gaya kota itu yang seperti apa, Mas?”

“Ya itu, yang abis salat diam-diam saja, ndak pakai wirid. Kalau wirid, sudah ndak pakai lagu seperti orang-orang tua di kampung dulu.”

Baca Juga
Gubernur NTB: Kenapa Masjid Ini dinamakan Hubbul Wathan?

Usai salat saya menyalami seorang jamaah yang sudah sepuh. Saya bertanya nama desa itu. Dia menjawab dengan pelan, dengan logat Banyumasan. Saya kurang menangkap dengan jelas kalimat yang disampaikan bapak itu.

Bagi saya, nama desa itu tak penting. Tapi lantunan wirid dan pujian di surau itu lebih kumanthil (lengket) di benak saya. Di surau kecil itu, saya berjumpa dengan corak Islam yang “=nresep (masuk meresap) dalam jiwa saya. Ada kesederhanaan di sana, ada praktek ibadah yang dilakukan dengan tanpa “pretensi” yang macam-macam; Islam yang jauh dari gemuruh toa “politik identitas” saat ini.

Saya hanya sempat memotret surau kecil itu sebagai kenangan.

Lihat Komentar (0)

Komentari