Zaimatus Sa’diyah
Penulis Kolom

Dosen IAIN Kudus, sedang menyelesaikan studi doktoral di Radboud University, Belanda dan aktif di PCI NU Belanda.

Di Nijmegen Saya Belajar Mencintai Buku (Lagi)

Img 20200520 Wa0001

Suhu udara di Nijmegen sudah merangkak naik di pertengahan musim semi ini. Namun masih dalam batas normal bahkan bisa dikatakan cukup dingin untuk ukuran orang Indonesia yang beriklim tropis dan cenderung panas. Keadaan ini berlangsung dari awal hingga menjelang berakhirnya puasa sehingga durasi berpuasa yang cukup panjang yaitu antara 17 – 18 jam tidak terasa berat untuk dijalani. 

 

Suhu udara yang cenderung dingin di sepanjang tahun kecuali musim panas (antara Juli – September) membuat penduduk di sini mengekspresikan kebahagiaan bertemu sinar matahari dengan berjemur. Ada yang menghabiskan waktu siang dengan duduk-duduk di balkon rumah, di taman-taman yang tersedia hampir di setiap sudut komplek hunian atau berjemur di pinggiran dam-dam atau sungai buatan yang memang ditata sedemikian rupa menyerupai pantai. Yang menarik perhatian saya adalah mayoritas mereka melakukan aktivitas ini sambil membaca. 

 

Kesadaran mereka akan pentingnya literasi memang sangat tinggi, apalagi didukung oleh fasilitas perpustakaan yang mudah diakses dan menyediakan ribuan sumber bacaan yang memanjakan siapapun yang mengunjunginya. Sekilas ulasan tentang perpustakaan di Nijmegen bisa dibaca di tulisan saya sebelumnya.

Di perpustakaan, satu pengunjung boleh meminjam lima belas buku untuk durasi peminjaman selama sebulan. Jadi asumsinya satu buku bisa dibaca dalam waktu dua hari. Jika asumsi ini benar dan rata-rata pengunjung meminjam dengan jumlah batasan maksimal, maka tidak mengherankan jika kemanapun mereka pergi tidak akan pernah lupa membawa buku. 

 

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Dulu saya sempat merasa malu pada diri sendiri, di awal-awal hijrah ke negeri penghasil keju terbesar kelima di dunia ini saya seringkali lupa membawa buku saat melakukan perjalanan ke luar kota yang kadangkala memakan waktu dua hingga tiga jam menggunakan moda transportasi kereta. Tiba-tiba saya merasa gagap ketika penumpang lain mengeluarkan bekal buku dari tasnya dan mulai memecah kejenuhan dengan membaca. Ya, membaca seakan sudah menjadi budaya keseharian mereka. Apalagi di kereta di sediakan gerbong khusus yang mengharuskan orang berdiam saat berada di dalamnya. Di gerbong ini dengan jelas bertulis kata silent (diam) atau stilte dalam bahasa Belanda di setiap kaca jendelanya. Fasilitas khusus ini tentu sangat memanjakan penumpang yang ingin membaca dalam suasana yang tanang dan kondusif. Jika memilih duduk di gerbong ini jangan sekali-kali berbicara atau akan ditegur oleh penumpang lain yang tentunya akan membuat kita merasa tersindir atau tidak nyaman. Belajar dari apa yang saya lihat sehari-hari baik di lingkungan sekitar maupun di kereta, kini saya mulai belajar dan menyesuaikan diri dan berupaya untuk selalu membawa buku kemanapun saya pergi agar tidak menjadi asing di tengah masyarakat yang gemar membaca.

 

Baca juga:  Menyembah Allah dalam Diam

Saya jadi teringat salah satu ungkapan Abu Thayyib al-Mutanabby al-Kindy, seorang begawan sastra muslim yang hidup di masa dinasti Abbasiyah. Dari sekian banyak hasil karya al-Mutanabby, satu yang cukup popular di dunia pesantren adalah ungkapan khairu jaliisin fi-az-zamaani kitaabun, artinya sebaik-baik teman untuk menghabiskan waktu adalah buku.

Penggalan puisi al-Mutanabby ini sudah saya kenal sejak duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah karena ini termasuk salah satu mahfudzat (kata-kata mutiara dalam bahasa Arab) yang harus dihafal oleh seluruh santri di Pesantren Putri Al-Mawaddah di mana saya nyantri pada saat itu. 

 

Saya masih ingat betul tradisi yang coba diterapkan pada para santri adalah anjuran untuk membawa buku kemanapun pergi, meskipun tentu saja sebagai santri ruang gerak kami sangat terbatas dari kamar ke kelas, dapur, kamar mandi, koperasi, aula dan masjid. Namun demikian, pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa buku bisa menjadi teman asyik yang bisa menemani kami para santri menghabiskan waktu-waktu luang di sela aktivitas rutin. Apalagi bagi para santri baru yang biasanya masih belum kerasan dan butuh waktu untuk beradaptasi dengan suasana pesantren, buku bisa menjadi alternatif solusi mengalihkan perhatian.

Menariknya, itulah yang dilakukan oleh mayoritas santri, kemanapun mereka pergi selalu membawa buku, bahkan saat antri di kamar mandi. Tradisi baik ini begitu mendarah daging karena didukung oleh lingkungan yang pada akhirnya menumbuhkan rasa segan dan malu jika tidak mengikuti tren yang berkembang. 

 

Baca juga:  Pulang Haji: Jubah dan Ilmu

Mungkin inilah yang ada di benak bule-bule yang selalu saja terlihat membaca di saat senggang, baik di kereta, di bis, di taman, di kafe atau saat sedang antri di pusat layanan masyarakat. Saya sendiri sampai terheran-heran dengan kentalnya tradisi ini sampai kemudian sedikit demi sedikit rahasia di balik semua ini terungkap, paling tidak dalam perspektif saya yang tentu sangat subyektif dan terbatas. 

 

Yang pertama, tradisi ini dibangun secara terstruktur dan masuk dalam sistem Pendidikan. Sejak dini anak-anak dikenalkan dengan tradisi membaca. Pengalaman anak-anak saya yang sedang belajar di sekolah bahasa di Belanda, hampir sekali seminggu mereka membawa pulang sebuah buku untuk dibaca di rumah. Model Pendidikan seperti ini mungkin juga biasa kita temukan di beberapa sekolah di Indonesia. Yang berbeda adalah bahwa selain membawa pulang buku, anak-anak juga dibekali satu lembar kertas berisi daftar pertanyaan seputar buku yang sedang mereka baca. Pertanyaan yang harus mereka jawab biasanya adalah pertanyaan seputar WH-questions (what, who, where, why, when dan how), pertanyaan yang mendorong seseorang untuk berpikir kritis. 

 

Dari tradisi berpikir kritis ini, anak-anak secara otomatis dikondisikan untuk terus bertanya dan mempertanyakan segala sesuatu yang ada di hadapan mereka serta mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut melalui bacaan yang lebih komprehensif. Penilaian guru terhadap jawaban anak-anak tidak menggunakan standar numeral atau angka-angka. Setiap jawaban anak-anak diapresiasi sedemikian rupa sehingga memunculkan rasa percaya diri dan semangat untuk terus mengeksplorasi hal-hal baru melalui membaca.  

 

Kedua, pemerintah memanjakan penduduk dengan fasilitas yang memudahkan mereka untuk mengakses bacaan-bacaan di perpustakaan yang mayoritas dibangun di pusat-pusat keramaian. Di Nijmegen, perpustakan tidak hanya ada di pusat kota, tetapi juga ada di pusat perbelanjaan, sentra olahraga dan juga tempat-tempat keramaian lainnya. Kota dengan jumlah penduduk sekitar 177.681 jiwa pada tahun 2020 ini memiliki sekitar 13 perpustakaan. Sungguh fasilitas yang memanjakan penduduk untuk selalu dekat dengan buku. Bandingkan misalnya dengan satu saja kota besar di Indonesia, berapa rasio perbandingan jumlah penduduk dan jumlah perpustakaannya? Kita ambil contoh Jakarta, kota dengan estimasi penduduk berjumlah 10.770.487 jiwa di tahun 2020 ini memiliki sekitar 20 perpustakaan saja. Bisa jadi ada perpustakaan lain yang tidak terlacak, namun jumlah ini masih cukup jauh untuk bisa mendekatkan penduduk dengan tradisi membaca. Meskipun perpustakaan bukan satu-satunya indikator tingkat literasi penduduk, namun paling tidak keberadaan perpustakaan bisa mencerminkan tingkat literasi masyarakatnya. 

 

Baca juga:  Mengkaji Fikih Ekologi Karya Syekh Kholil Muhyiddin

Ketiga, karena mereka hidup dan dibesarkan dalam atmosfer yang mencintai buku dan membaca, maka kecintaan ini mereka hidupkan juga dalam bentuk inisiatif-inisiatif lokal penduduk dalam bentuk perpustakaan mini atau Minibieb, yaitu sebuah kotak sederhana yang diletakkan di pinggir jalan atau di sekitar komplek hunian dan menjadi ajang bertukar pinjam buku antar warga. Minibieb ini dikelola atas dasar saling percaya, artinya mereka yang berkenan meminjamkan buku dipersilahkan meletakkan buku di kotak yang tersedia dan siapapun boleh meminjamnya dan tidak ada prosedur administrasi dalam proses pinjam meminjam ini. 

 

Bagaimana dengan kita umat Islam yang mengetahui bahwa ayat pertama yang turun kepada Rasulullah saw adalah anjuran untuk membaca (iqra’)? Sudah sejauh mana kita mengaplikasikan ajaran yang mendorong kemampuan berpikir manusia ini? Kiranya tidak ada kata terlambat untuk terus berbenah dan berubah. Mari kita tingkatkan kecintaan untuk terus belajar dan membaca, termasuk memahami setiap pesan yang kita baca dalam Al-Qur’an. Dari Nijmegen kita belajar bagaimana menghidupkan tradisi cinta membaca pada diri kita dan anak-anak agar mampu berpikir lebih terbuka sehingga lebih siap menyongsong masa depan yang lebih cerah. 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top