Sedang Membaca
Batasan Aurat Perempuan: Kisah Mustafa Akyol Ketika Melihat Perempuan di Bandara Turki
Penulis Kolom

Pencinta literasi Islam dan santri di Pascasarjana UIN Jakarta.

Batasan Aurat Perempuan: Kisah Mustafa Akyol Ketika Melihat Perempuan di Bandara Turki

Seleb Arab Dengan Jet Pribadi 20160831 190857

Suatu hari, Mustafa Akyol, salah satu cendekiawan muslim, ingin kembali ke negaranya, Turki—setelah sempat singgah di Riyad, Saudi Arabia. Selepas dia mencari-cari tempat duduknya di pesawat, dan akhirnya ketemu, dia menyadari bahwa di sekitar tempat duduknya sudah dipenuhi perempuan-perempuan dari negara tersebut, Arab Saudi.

Dalam pengamatannya, hampir semua dari mereka memakai pakaian serba hitam yang menutupi seluruh badannya. Dan kebanyakan yang terlihat hanya bagian wajahnya saja. Bahkan, sebagian darinya menutup seluruh wajahnya kecuali bagian mata (memakai niqab), mirip sekali dengan tokoh Aisyah dalam film Ayat-ayat Cinta. Ada kesan anggun, apalagi bola mata orang Timur Tengah rata-rata tajam dan bercahaya, lengkap dengan bulu mata lentiknya.

Pesawat pun terbang membawa seluruh penumpang menuju Istanbul, Turki. Kemudian, sekitar satu jam-an sebelum landing di bandara, tiba-tiba beberapa perempuan Arab tadi menuju ke arah toilet pesawat secara bergantian dan “muncul” kembali dengan pakaian yang sangat berbeda. Mereka  terlihat memakai pakaian yang lebih santai dilengkapi dengan make up yang mungkin bisa dibilang cukup tebal.

Akyol pun kemudian dikejutkan seorang perempuan dengan rambut terurai panjang yang penampilannya berbeda 180 derajat dari yang sebelumnya. Dia berjalan pelan seperti model catwalk dan kembali ke tempat duduknya dengan memakai pakaian yang sangat pendek. Yang pasti akan membuat mata laki-laki yang tak kuat imannya ikut terperanjat. Sepertinya, dia memang sudah sangat siap untuk menghadiri pesta di salah satu club malam di Istanbul. Kisah ini penulis baca dalam buku yang ditulis Akyol: Why, as a Muslim, I Defend Liberty (2021).

Saya yakin, sebagian dari kita—sebagai laki-laki—akan cenderung menyalahkan  perempuan tadi karena pakaian mini-nya. Minimal, tuduhan “munafik” acapkali sangat mudah disematkan kepadanya (dan beberapa perempuan lain tadi). Padahal, mata kita sendiri yang memang juga harus ikut disalahkan karena jelalatan dan mengikuti nafsu ammarah bi assu’-nya.

Baca juga:  Aisyah dan Sikap Kritis dalam Beragama

Apa pelajaran yang bisa diambil dari kisah tokoh muslim dan perempuan Arab saudi tadi? Setidaknya ada beberapa hal yang perlu didudukkan di sini. Pertama, sikap menyalahkan kepada perempuan Arab Saudi tadi bukanlah sikap yang bijaksana. Mereka tidak bisa serta merta kita tuduh dengah label “munafik” hanya karena memakai pakaian ultra-konservatif di Arab Saudi, lalu mengenakan pakaian yang “agak” berbeda ketika sudah di luar Arab Saudi.

Lebih dari itu, kenyataan bahwa Arab Saudi telah memaksa mereka memakai “pakaian resmi” itu tidak boleh dilupakan begitu saja. Kerajaan Arab Saudi—dengan hukum agamanya yang rigid dan polisi agamanya yang terkenal keras bahkan sesekali sadis—telah memaksa mereka memakai pakaian yang tidak mereka inginkan.

Namun, sebenarnya problem ini tidak hanya terjadi di Arab Saudi saja. Republik Islam Iran—rival sengit tetapi juga memiliki pandangan yang hampir sama—juga mendikte seluruh perempuan untuk menggunakan jilbab, meskipun tetap ada pertentangan dan pembangkangan dari rakyatnya. Hal yang sama (pemaksaan agama) juga bisa kita temukan—baik dari sisi hukum atau kebiasaan—di beberapa negara muslim lain seperti Afghanistan, Pakistan, Malaysia, bahkan di beberapa daerah di Indonesia.

Ini tidak berarti bahwa semua perempuan muslim di negara-negara di atas tidak ingin menggunakan jilbab, misalnya. Tidak, tidak sama sekali! Di seluruh dunia, banyak perempuan muslim percaya bahwa pakaian yang menutup aurat adalah peraturan yang tertera dalam agamanya. Akan tetapi, penafsiran tentang batasan aurat yang berbeda di antara ulama’ inilah yang menjadi bahan pertimbangan mereka. Jadi, biarkanlah mereka melalui proses dalam mendalami agamanya ini secara alamiah dan secara sadar—menjadi muslimah yang lebih baik tanpa ada paksaan dan rasa takut.

Baca juga:  Mensiasati Keterbatasan: Strategi Perupa Perempuan Pesantren

Di sisi lain, kita tentu mengetahui saat di mana otoritas Prancis melarang pemakaian jilbab di sekolah umum dan juga di tempat kerja. Begitu juga Burkini (pakaian renang yang menutupi kepala dan seluruh badan) yang dilarang di sebagian pantai di sana. Beberapa negara lain, seperti Turki, Tunisia, dan Denmark pun pernah melarang pemakaian jilbab. Pertanyaannya, sebagai muslim, kita tentu akan protes kalau diperlakukan seperti ini, kan?

Contoh-contoh di atas adalah bukti nyata bahwa membentuk masyarakat yang Islami tidak bisa dengan cara memaksakan penafsiran negara pada para pemeluknya, dalam hal ini agama Islam. Ketika sebuah penafsiran ayat-ayat Tuhan dipaksakan oleh negara (formalisasi agama), maka saat itu juga negara telah mereduksi penafsiran dari ulama’ lain yang mana ijtihadnya masih memiliki kecenderungan untuk benar di hadapan Tuhan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top