Sedang Membaca
Bersedekah itu Pola Pikir, Bukan Faktor Banyaknya Harta: Kisah Kakek yang Meneteskan Air Mata

Santri Pondok Pesantren Nurul Jadid

Bersedekah itu Pola Pikir, Bukan Faktor Banyaknya Harta: Kisah Kakek yang Meneteskan Air Mata

Sedekah Kambing Idul Adha

Pada mulanya penulis memiliki keyakinan yang sama dengan masyarakat pada umumnya, bahwa harta merupakan faktor utama dalam bersedekah. Sehingga, mudah saja seseorang meluangkan sedikit harta untuk dibagikan dengan orang lain. Namun pola pikir tersebut berubah semenjak mendengar suatu cerita, kurang lebih ceritanya seperti ini.

Ketika hendak mendekati hari raya Idul Adha, banyak sekali masyarakat yang membeli hewan ternak untuk dikurbankan. Hari yang sangat menggembirakan tentunya bagi penjual hewan kurban, sebut saja nama penjualnya, Fulan.

Suatu saat datanglah mobil putih dari arah timur dan berhenti tepat di samping jalan rumah Fulan. Kemudian, turunlah lelaki paruh baya dari mobil tersebut, Sebut saja namanya Zaid. Dan spontanitas Fulan langsung menyambutnya.

Fulan : Ada yang bisa saya bantu pak?

Zaid : saya mau mencari kambing untuk dikurbankan

Fulan : monggo pak, silahkan dipilih. Kalau harga bisa ditawar.

Zaid : yang paling utara itu harganya berapa pak?

Fulan : harganya 1,5 juta saja

Zaid : Ohhh, kalau yang disebelah barat itu?

Fulan : itu harganya agak mahal pak, 2 juta. Sebab kualitas kambingnya bagus.

Zaid : Bagaimana Kalau harganya dikurangi sedikit, 1,5 juta lah pak, saya beli.

Fulan : Kalau 1,5 juta terlalu murah. 1,8 juta saja dah pak, gak papa.  (Dengan suara agak memelas).

Baca juga:  Humor Gus Dur tentang Soeharto Naik Haji

Zaid pun beralih mencari kambing yang lainnya dan tak lama kemudian, datanglah kakek tua renta sambil menyenderkan sepeda engkolnya ke pohon pisang.

Fulan : Ada yang bisa bantu kek?

Kakek : Anuh nak, saya mau beli kambing untuk kurban.

Fulan : silahkan dipilih kek, kalau bagian ini harganya 1,5 juta, tapi masih bisa ditawar kek. (Sambil menunjuk ke arah utara)

Kakek : Kalau yang itu berapa harganya nak?(Sambil menunjuk ke arah barat).

Fulan : Kalau itu harganya mahal kek, 2 juta. Sebab kualitas kambingnya itu bagus.

Kakek : Ohh, kalau begitu. Saya pilih yang itu saja, (Sambil menyodorkan uangnya)

Sontak fulan pun kaget dengan kakek tersebut, yang membelinya tanpa harus menawar harganya terlebih dahulu. Sambil menghitung uang yang disodorkan tadi.

Fulan : kek, ini uangnya lebih 50rb, harganya 2 juta pas. (Sambil mengembalikan uang yang lebih tersebut)

Kakek : itu uangnya untuk biaya kirim ke rumah, nanti tolong diantarkan yah nak. (Dengan halus menolak uang yang dikembalikan)

Fulan : Untuk biaya kirimnya gratis kek, jadi tidak usah bayar. (Sedikit memaksa untuk mengembalikan uangnya)

Kakek : gak papa nak, itu untuk biaya bensinnya saja, (kembali menolak dengan halus uang yang disodorkan)

Fulan : iya dah kek, makasih banyak. Kalau boleh tau nanti kambingnya diantarkan kemana kek?

Baca juga:  Gus Dur Menganggap Mbah Lim Guru, Tapi Mbah Lim Mengaku dirinya Pesuruh Gus Dur

Kakek : antarkan ke rumah saya, alamatnya bla… bla.. bla..

Fulan : Iya kek, nanti sore akan kami antarkan.

Sorenya Fulan mengantarkan kambing yang dibeli tadi, dengan sedikit tak percaya bahwa alamat rumahnya menuju pada gubuk lusuh, yang beralaskan tanah dan berdinding anyaman bambu. Hatinya pun bergetar, sambil meneteskan air mata. Dan ingin cepat-cepat buru-buru pulang, sebab tak kuasa membendung isak tangis.

Mendengar cerita tadi, spontanitas pikiranku berubah bahwa bukan harta yang menjamin dan membuat orang bersedekah. Namun, besarnya hati dan kemauan diri sendiri untuk bersedekah. Wallahua’lam.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
1
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top